Dampak Corona ke Industri Hotel Diperkirakan Mencapai 15 Bulan

Saat ini hotel di kawasan Danau Toba juga telah memberlakukan shift kerja, 40% hingga 50% unpaid leave.

TRIBUN MEDAN/HO
Kamar hotel berbintang di Medan. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Bertambahnya kasus Covid-19 di seluruh dunia, termasuk Indonesia, menjadi faktor penahan momentum percepatan pertumbuhan ekonomi nasional 2020, melalui tiga saluran transmisi, yaitu perdagangan barang & jasa, investasi, dan pendapatan.

Dari sisi pariwisata, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia pada Februari 2020 turun 30,4 % (mtm). Hal ini sejalan dengan tingkat hunian hotel berbintang yang pada Januari 2020 juga tercatat turun 10,22% (mtm) dan 2,30% (yoy).

Ini Lima Pilihan Menu Berbuka Puasa dari Hotel Santika Medan

"Kunjungan Wisman mulai terlihat turun sejalan dengan penurunan penumpang angkutan udara internasional dan tingkat hunian kamar, sementara penumpang domestik masih meningkat hingga Februari 2020. Dampak Covid belum terlihat pada aktivitas domestik di Februari mengingat kasus pertama Covid-19 di Indonesia baru diketahui Maret 2020," ujar Kepala Kantor Perwakilan (KPw) BI Sumut Wiwiek Sisto Widayat.

Ia menjelaskan, tingkat okupansi hotel di provinsi Sumatera Utara mencatat penurunan tajam pada periode Maret. Okupansi hotel anjlok hingga 80% dari kondisi normal. Minimnya penjualan memaksa pelaku usaha melakukan skema shift kerja dan unpaid leave untuk menekan biaya operasional.

"Studi empiris memprediksi industri hotel akan terdampak 10 hingga 15 bulan akibat Covid-19 dan berpotensi menurunkan jumlah unit usaha sebesar 60 hingga 80% akibat merugi. Dampak ekonomi LU Penyediaan akomodasi dan mamin akibat penurunan produktivitas dan margin diperkirakan sebesar 0,15% hingga 0,26% dari baseline," katanya.

Untuk hotel di kawasan Danau Toba saat ini menghadapi kondisi di mana lockdown negara tujuan wisata akibat Covid-19 mengakibatkan turunnya minat traveling wisatawan. PHRI Parapat mengkonfirmasi penurunan penjualan hotel 50% pada Februari dan 80% pada Maret dari kondisi normal.

Selain itu sejak Maret 2020 hampir semua event dan tour group batal. Tingkat okupansi hotel anjlok hingga 20% hingga 30% dibandingkan kisaran normal.

Saat ini hotel di kawasan Danau Toba juga telah memberlakukan shift kerja, 40% hingga 50% unpaid leave. Meski begitu rencana investasi hotel di Samosir dan Parapat masih akan tetap dijalankan di 2020 namun tertunda.

Sementara itu travel di Medan merasakan penurunan penjualan sejak Maret sebesar 30% hingga 50%. PHRI Sumut menyatakan tingkat okupansi hotel di Medan hanya 30% dan omzet restoran turun hingga 50% pada Maret.

Salah satu hotel bintang 5 di Medan telah merumahkan 75% karyawan namun dengan
status cuti berbayar, sementara tenaga outsourcing sekitar 100 orang telah diberhentikan.
Sebagian memberikan harga promo, membangun image hotel steril dan meningkatkan penjualan lini food and beverage melalui online delivery. Ia mengatakan, kini seluruh pelaku usaha pesimis terhadap perkembangan triwulan II dan menyatakan tingkat okupansi hanya akan normal ketika wabah Covid-19 berakhir.

Penulis: Septrina Ayu Simanjorang
Editor: Eti Wahyuni
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved