FSPMI Sumut Batalkan Aksi Turun ke Jalan, Sebut Tuntutan Sudah Direspons Presiden

Rencana aksi ribuan buruh dari FSPMI Sumut dalam rangka memperingati hari buruh Internasional, akhirnya dibatalkan.

Int
Ilustrasi May Day 

TRI BUN-MEDAN.com, MEDAN - Rencana ribuan buruh dari Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia Provinsi Sumatera Utara (FSPMI Sumut) melakukan aksi dalam rangka memperingati hari buruh Internasional, dipastikan batal terlaksana.

Rencana aksi turun ke jalan itu sedianya berlangsung pada tanggal 30 April 2020, namun akhirnya dibatalkan.

Ketua FSPMI Sumut Willy Agus Utomo memastikan tidak ada aksi buruh turun ke jalan.

Ia menyampaikan pembatalan ini dikarenakan tuntutan utama buruh yang menolak RUU Cipta Kerja (Omnibus Law) Cluster Ketenagakerjaan telah resmi ditunda pembahasaannya oleh pemerintah dan DPR RI sampai pandemi berakhir.

"Kita apresiasi Presiden Jokowi, di mana selain menunda, beliau juga sudah umumkan RUU Cipta Kerja untuk Cluster Ketenagakerjaan akan dikaji ulang dengan melibatkan pihak yang terkait khususnya meminta masukan dari buruh," ujarnya, kepada wartawan, Rabu (29/4/2020).

Lebih lanjut dijelaskan Willy, para buruh seluruh Indonesia pada prinsipnya masih tetap menolak keseluruhan tentang Omnibus Law.

Namun, dikarenakan ada pandemi Covid-19 yang merupakan musuh bersama, maka para buruh sepakat untuk berjuang bersama pemerintah dan masyarakat guna melawan virus ini.

Salah satunya dengan tidak mengerahkan massa buruh pada peringatan May Day tahun ini.

"Tapi pada May Day kali ini, kita buat aksi virtual media sosial secara serentak. Adapun aksinya yakni dengan pemasangan spanduk tuntutan buruh di kawasan industri dan perumahan buruh," ungkap Willy.

Informasi yang berhasil dihimpun, ada tiga tuntutan pada aksi virtual media sosial dan kampanye melalui media massa dan spanduk.

Pertama, tolak Omnibus Law untuk keseluruhanya. Kedua, tolak PHK dan merumahkan buruh dengan alasan Covid-19,

Ketiga, liburkan buruh sampai pandemi berakhir dengan tetap membayat upah dan THR buruh penuh.

"Dalam hal ini, pemerintah jangan hanya larang buruh kumpul aksi. Namun buruh tetap saja masih bekerja. Karena sama saja menjadi peluang terpapar copid 19. Badai corona ini bisa berlalu, kalau aktivitas buruh masih tak berkurang, kita minta liburkan buruh dengan tetap bayar upahnya," pungkasnya.

(mft/tri bun-medan.com)

Penulis: Muhammad Fadli Taradifa
Editor: Juang Naibaho
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved