Dilupakan Anak Bayinya yang Usia 7 Bulan, Dokter Relawan Zuchri Darmawan Mengaku Sedih
Ia mengaku sangat sedih saat anak yang sangat dekat dengannya justru histeris ketika ia gendong.
TRIBUN-MEDAN.com - Dokter relawan di Rumah Sakit GL Tobing M Zuchri Darmawan telah kembali bertugas setelah menghabiskan waktu sepekan bersama keluarga.
Pria yang biasa dipanggil Dimas ini menceritakan pengalaman uniknya saat kembali ke tengah keluarga; dilupakan anak.
"Saya punya anak usia tujuh bulan. Biasa anak saya sangat dekat dengan saya, sampai-sampai tidur pun harus di ketiak saya. Setelah ditinggal sebulan menjadi relawan, saya dapat izin untuk pulang seminggu setelah hasil rapid tes negatif. Sampai di rumah saya langsung gendong dia karena rindunya dengan anak, begitu digendong dia langsung menjerit nangis karena ketakutan. Lupa dia dengan ayahnya," ujar Dimas, Jumat (1/5/2020).
Ia mengaku sangat sedih saat anak yang sangat dekat dengannya justru histeris ketika ia gendong.
"Sedih banget itu ya rasanya, dua atau tiga hari baru dia kenal lagi sama ayahnya," ungkapnya.
Ia sempat tidak didukung keluarga saat akan bergabung menjadi relawan tenaga medis penanganan Covid-19. I
"Saat saya minta izin ke orang tua, ibu saya langsung nangis spontan dan enggak ngasih izin," ujarnya.
"Orang tua lihat berita di TV tentang relawan banyak yang kena virus corona. Jadi mereka cemas. Tapi saya kasih pandangan ke mereka, lalu mereka memberi izin. Cukup lama juga untuk meyakinkannya," tambahnya.
Penolakan juga dari datang dari pihak keluarga istri. Bahkan, ungkap Dimas, mertuanya sempat sakit dan muntah-muntah.
"Istri dan mertua pun enggak memberi izin di awalnya. Sampai-sampai bapak mertua saya kena sindrom muntah-muntah keesokan harinya karena dengar saya mau jadi relawan," ungkapnya.
Bercucuran Keringat
Menurut Dimas, sebelum wabah merebak dirinya belum pernah memakai Alat Pelindung Diri (APD) selama bertugas. Memakai APD memberikan sensasi tersendiri baginya.
Saat memakai APD dalam waktu sebentar saja sekujur tubuhnya sudah basah.
"Tidak perlu olahraga bersepeda 30 kilometer untuk bisa keringat bercucuran. Cukup gunakan APD sebentar untuk menghasilkan keringat bercucuran," tuturnya.
Dimas berharap masyarakat patuh dan mau bergotong royong untuk memutus rantai penularan covid-19. Serta memiliki rasa empati kepada tenaga medis yang bertugas dan harus meninggalkan keluarga.
"Harapannya, kita bisa sama sama memutus rantai Covid-19. Bantu pemerintah untuk Indonesia kita," pungkasnya. (cr14)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/zuhri_darmawan_dokter_relawan_covid.jpg)