Sumut Alami Deflasi 0,29 Persen, Sibolga Tertinggi

Deflasi ini terjadi lantaran sejumlah harga kebutuhan pokok di Sumut mengalami penurunan terutama pada empat kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sumut

TRIBUN MEDAN/SEPTRIMA
KEPALA Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Syech Suhaimi dalam paparan rilis resmi BPS Sumut melalui tayangan langsung di Youtube dari Kantor BPS Sumut, Jalan Asrama No 179 Medan, Senin (4/5/2020). 

TRI BUN-MEDAN.com,MEDAN - Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara (Sumut) mencatat pada bulan April 2020, Sumut mengalami Deflasi hingga 0,29 persen.

Sementara untuk data secara nasional Indonesia mengalami inflasi 0,08 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, Syech Suhaimi dalam paparan rilis resmi BPS Sumut melalui tayangan langsung di YouTube dari Kantor BPS Sumut, Jalan Asrama No 179 Medan, Senin (4/5/2020) mengatakan deflasi ini terjadi lantaran sejumlah harga kebutuhan pokok di Sumut mengalami penurunan terutama pada empat kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sumut.

"Sibolga mengalami deflasi sebesar 0,66 persen, Pematangsiantar sebesar 0,40 persen, Kota Medan sebesar 0,28 persen dan Gunung Sitoli sebesar 0,71 persen. Sedangkan inflasi hanya terjadi di Padangsidimpuan sebesar 0,04 persen," kata Syech.

Sehingga dengan gabungan 5 kota IHK tersebut, Sumut mengalami deflasi 0,29 persen pada April 2020.

Sedangkan untuk Kota Medan tercatat mengalami deflasi 0,28 persen atau terjadi penurunan IHK dari 102,89 pada Maret 2020 menjadi 102,60 pada April 2020.

Dikatakan Suhaimi deflasi terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan, yaitu kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,80 persen, kelompok transportasi sebesar 0,19 persen dan kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 1,82 persen.

"Kelompok yang mengalami inflasi, yaitu kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,07 persen, kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,43 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,61 persen daman kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,64 persen. Sementara kelompok lainnya tidak mengalami perubahan indeks," sebutnya.

Suhaimi mengatakan untuk Kota Medan, komoditas utama penyumbang deflasi selama April 2020 antara lain cabai merah, ikan dencis, daging ayam ras, biaya pulsa ponsel, cabai rawit, minyak goreng, dan air kemasan.

Tiga Kota di Sumut Deflasi, Sibolga Tertinggi se-Sumatera

Secara rinci kelompok pengeluaran yang memberikan andil deflasi di Kota Medan, yaitu kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,25 persen, kelompok transportasi sebesar 0,02 persen, dan kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,09 persen.

"Sementara kelompok pengeluaran yang memberikan andil inflasi, yaitu kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,02 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,01 persen, dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,04 persen," ujarnya.

Sedangkan kata Suhaimi kelompok pengeluaran yang tidak memberikan andil terhadap inflasi Kota Medan, yaitu kelompok pakaian dan alas kaki, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya, kelompok pendidikan, dan kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran.

"Dari 24 kota IHK di Pulau Sumatera, 20 kota tercatat deflasi. Deflasi tertinggi di Pangkal Pinang sebesar 0,92 persen dengan IHK sebesar 102,31 dan terendah di Banda Aceh sebesar 0,08 persen dengan IHK sebesar 104,28," pungkasnya. (sep/tri bun-medan.com)

Penulis: Septrina Ayu Simanjorang
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved