Breaking News:

Ramadhan 2020

Masjid Raya Al Osmani Jejak Peradaban Islam di Kota Medan

Ada banyak catatan tentang sejarah dan peradaban Islam di wilayah Sumatera Utara, khususnya di Kota Medan.

Penulis: Aqmarul Akhyar | Editor: Juang Naibaho
Tribun Medan/Aqmarul Akhyar
Masjid Raya Al Osmani jejak peradaban Islam di Medan yang terletak di Jalan KL Yos Sudarso, Pekan Labuhan, sekitar 20 kilometer sebelah utara Kota Medan, Kamis (7/5/2020). 

Lanjutnya, masjid tersebut awalnya dibangun dengan ukuran 16 x 16 meter, dan terbuat dari bahan kayu dalam bentuk panggung.

"Tujuan masjid ini dibangun sebagai sarana tempat berkumpul umat Islam, dan mengkaji tentang keislaman. Maka masjid ini disebut Al Osmani karena mengingat pendiri yang pertama yakni Sultan Osman Perkasa Alam, yang merupakan Sultan ketujuh," ujarnya.

Pada tahun 1870 hingga 1872, dilakukan pemugaran secara besar-besaran. Pemugaran tersebut terjadi pada masa Sultan kedelapan yakni Sultan Mahmud Perkasa Alam, yang tidak lain adalah anak kandung dari Sultan Osman Perkasa Alam.

Bangunan masjid yang semula terbuat dari bahan kayu, dibangun menjadi permanen.

"Pemugaran tersebut menjadikan bangunan masjid melebar menjadi 26 x 26 meter, dan bentuk permanen. Ini yang merupakan peninggalan Sultan kedelapan Sultan Mahmud Perkasa Alam," pungkasnya.

Ia juga menjelaskan, kapasitas Masjid Raya Al-Osmani mampu menampung 500 jamaah pada bagian depan, dan 500 jamaah pada bagian belakang.

Namun, kondisi saat ini di mana terjadi wabah covid-19, ada sedikit penurunan jamaah pada saat di awal-awal Ramadan.

“Memang untuk pengunjung asing saat ini belum ada, karena memang banyak yang belum tahu bahwa Masjid Raya Al-Osmani merupakan cagar budaya. Belum banyak travel-travel yang mengarahkan wisatawan untuk datang ke sini,” jelasnya.

Faruni menyebut, di area Masjid Raya Al-Osmani juga sudah ada beberapa bangunan tambahan lainnya, seperti miniatur rumah panggung atau rumah khas Melayu. Lokasinya tepat berada di belakang masjid.

“Kerajaan Sultan Deli dahulu berada persis di depan Masjid Raya Al-Osmani. Lalu pindah, karena saat itu pandangan sultan sudah ke kota, dan berdirilah Istana Maimun,” sebutnya.

Mengenai makam yang berada di Masjid Raya Al-Osmani Labuhan, terbagi dua golongan, yaitu makam Kesultanan Deli, dan juga ada makam untuk masyarakat umum.

“Sebenarnya banyak sejarah di Masjid Raya Al-Osmani ini, karena di sinilah populasi suku Melayu Deli pada mulanya. Dan kemudian terus berkembang,” pungkasnya.

(cr22/Tri bun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved