Pandemi Covid-19, Pasar Modal Syariah Dominasi Transaksi Saham di BEI

Dari 27 perusahaan yang melakukan penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering/IPO), 21 di antaranya adalah perusahaan syariah

TRIBUN MEDAN/HO
BURSA Efek Indonesia 

TRI BUN-MEDAN.com, MEDAN - Selama pandemi Covid-19, transaksi saham Pasar Modal Syariah mendominasi di Bursa Efek Indonesia.

Rata – rata volume perdagangan harian saham syariah per 6 Mei 2020 tercatat sebesar 4,5 miliar lembar saham atau 64,6% dari total rata - rata volume perdagangan harian di Bursa Efek Indonesia.

"Sementara itu, rata – rata nilai transaksi saham syariah mencapai Rp3,45 triliun atau mencapai 50,2%, dan frekuensi transaksi saham syariah 317.702 kali atau 68% dari total rata – rata frekuensi transaksi harian," ujar Tim Humas Bursa Efek yang disampaikan Kepala BEI Kantor Perwakilan Sumatera Utara, M Pintor Nasution, Selasa (12/5/2020).

Ia mengatakan dari 27 perusahaan yang melakukan penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering/IPO), 21 di antaranya adalah perusahaan syariah atau sebanyak 77,78%.

Jumlah saham baru ini menambah jumlah saham syariah yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi 447 saham, dua diantaranya saham syariah di papan akselerasi.

"Papan akselerasi adalah papan untuk perusahaan yang baru berdiri (startup company). Kembali ke Sistem Perdagangan Online Syariah (Shariah Online Trading System/SOTS). Ini adalah sistem transaksi saham secara online yang memenuhi prinsip-prinsip syariah di pasar modal," katanya.

Dijelaskannya, SOTS dikembangkan oleh anggota bursa sebagai fasilitas atau alat bantu bagi investor yang ingin melakukan transaksi saham secara syariah.

SOTS disertifikasi oleh DSN-MUI karena merupakan penjabaran dari fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI), DSN-MUI No. 80 tahun 2011 tentang Penerapan Prinsip Syariah Dalam Mekanisme Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas Di Pasar Reguler Bursa Efek.

Perusahaan Mebel Asal Medan Siap Melantai di Bursa Saham

"Perbedaan SOTS dengan sistem perdagangan non syariah terletak pada jenis saham yang dapat ditransaksikan. SOTS hanya memfasilitasi perdagangan saham Syariah saja. Transaksi beli saham syariah di SOTS hanya dapat dilakukan secara tunai (cash-basis transaction) sehingga tidak boleh ada transaksi margin (margin trading)," katanya.

Selain itu, SOTS tidak dapat digunakan untuk melakukan transaksi jual saham syariah yang belum dimiliki (short selling). Portofolio dalam sistem SOTS juga hanya khusus untuk saham Syariah yang terpisah dari saham non syariah.

"Sampai saat ini sudah terdapat 18 anggota bursa yang memiliki SOTS yang bisa dilihat daftarnya di website BEI www.idx.co.id. Investor yang ingin bertransaksi saham syariah harus terdaftar sebagai nasabah di salah satu atau bisa lebih dari satu anggota bursa yang memiliki SOTS," katanya.

Dengan menggunakan SOTS, transaksi saham syariah kini bisa dilakukan dengan relatif mudah, dan tidak usah khawatir salah memilih saham karena sistem hanya mentransaksikan saham-saham syariah.

"Setiap enam bulan sekali, saham-saham syariah yang diperdagangkan melalui SOTS akan diseleksi kembali oleh OJK, berkoordinasi dengan DSN-MUI dan BEI dan akan diumumkan melalui OJK sebagai Daftar Efek Syariah (DES)," pungkasnya. (sep/tri bun-medan.com)

Penulis: Septrina Ayu Simanjorang
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved