Breaking News:

Terapi Plasma Darah Diuji Coba Skala Besar, Presiden Minta Semua Dukung Penuh Riset

Presiden Joko Widodo mengatakan, terapi plasma darah dari pasien sembuh Covid-19 akan diuji coba dalam skala besar kepada pasien positif yang dirawat.

Editor: Liston Damanik
AFP
Ilustrasi plasma darah. 

"Secara prinsip, hal tersebut memang bisa dilakukan, karena secara alami tubuh kita akan menghasilkan antibodi setiap kali tubuh kita diserang mikro organisme, baik virus atau bakteri," kata Neni.

Antibodi yang terdapat dalam plasma darah pasien Covid-19 yang sudah sembuh bisa dimanfaatkan sebagai terapi tambahan untuk pasien Covid-19 lainnya yang sudah memasuki masa kritis.

Menurut Neni, antibodi ini akan menetralisasi virus. Selain itu, terdapat komponen lain pada plasma yang berkhasiat pada pasien. Namun, perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui komponen yang berperan penting dalam kesembuhan pasien.

"Tubuh kita ini sudah dirancang sedemikian rupa, bisa bertahan dari serangan virus atau bakteri tertentu. Secara alami juga, tubuh kita akan mengeluarkan antibodi yang spesifik untuk menyerang virus/bakteri tersebut," tutur Neni. 

Laboratorium PCR USU Akui Belum Mampu Meneliti

Sebagai Laboratorium Polymerase Chain Reaction (PCR) Covid-19 pertama yang ada di Sumut, Rumah Sakit USU masih terus menerima sampel pemeriksaan pasien yang berasal dari berbagai daerah di Sumut.

Kepala Laboratorium Rumah Sakit USU, dr. Dewi Indah Sari Siregar Mked (ClinPath) SpPK mengatakan bahwa saat ini timnya tengah fokus memeriksa sampel atau spesimen yang jumlahnya fluktuatif dari waktu ke waktu.

"Sampai sekarang sudah ada total 800 spesimen yang masuk, yang sudah kita selesaikan pemeriksaannya sebanyak 500 lebih. Jadi ada sekitar 300-an spesimen yang belum selesai diperiksa," ungkap dr Dewi, Senin (11/5/2020).

Terkait terapi plasma darah yang diklaim berbagai negara ampuh untuk sembuhkan corona, Dewi mengaku sejauh ini pihaknya masih belum memiliki kapasitas untuk melakukan penelitian lebih lanjut terkait penyembuhan pasien Covid-19 seperti penelitian vaksin ataupun plasma darah.

"Di sini kan ada dua hal yang berbeda, satu penelitian dan satu lagi diagnostik. Nah kami sekarang masih fokus melakukan pemeriksaan atau proses diagnostik, karena sumber daya manusia dan peralatan juga masih hanya memungkinkan untuk melakukan hal ini dulu dan dirasa urgen," ungkapnya.

Jika kapasitas sudah memadai dan juga peralatan bertambah, Dewi mengatakan barulah pihaknya akan mulai melalukan diagnostik dan juga penelitian.

"Nanti kalau sudah berkembang lagi, SDM kami sudah bertambah dan alat juga tersedia, mungkin baru bisa melakukan usaha-usaha penelitian," tuturnya. (cr14)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved