Ramadhan 2020

Ramadan Pertama di Skotlandia, Ikhsan Belajar Lebih Mensyukuri Kebersamaan dengan Keluarga

Karena berada jauh dari keluarga, ia juga melakukan banyak hal untuk mengobati rasa rindunya dengan momen puasa di kampung halaman.

TRIBUN MEDAN/HO
MUHAMMAD Ikhsan Alia, mahasiswa jurusan Corporate and Finance Law di University of Glasgow, Glasgow, Skotlandia saat berbuka puasa bersama rekan-rekan Indonesia lainnya di Glasgow. 

TRI BUN-MEDAN.com, MEDAN - Berpuasa dalam durasi  selama 19 jam menjadikan Ramadan kali ini menjadi sangat berbeda bagi Ikhsan, pelajar asal Indonesia yang saat ini tengah menjalani Ramadan di Glasgow, Skotlandia.

Sejak Desember lalu Ikhsan menjalani studinya di University of Glasgow jurusan Corporate and Finance Law.

Karena merupakan pengalaman pertama merantau jauh dari kampung dan merupakan Ramadan pertama dengan kondisi yang sangat berbeda, Ikhsan memaknai Ramadan tahun ini untuk lebih bersyukur atas waktu yang bisa ia habiskan dengan keluarga dan orang terdekat.

"Saya memaknai Ramadan tahun ini untuk lebih bersyukur. Dengan adanya corona virus outbreak seperti ini kita paham bahwa kita tidak bisa hidup sendiri, selama ini kita banyak sifat egois tidak enjoy saat kita bersama keluarga," ujar Ikhsan melalui pesan suara whatsapp, Sabtu (23/5/2020).

Ramadan tahun ini bagi Ikhsan menjadi pelajaran bahwa manusia enggak bisa hidup sendiri dan butuh orang lain.

"Ramadan ini merubah kita tidak hanya kembali fitri dalam konteks berpuasa saja tapi juga dengan adanya virus corona ini kita semua belajar untuk lebih bersyukur," katanya.

Dikatakan Ikhsan, karena berada jauh dari keluarga, ia juga melakukan banyak hal untuk mengobati rasa rindunya dengan momen puasa di kampung halaman.

Satu di antaranya adalah dengan belajar masak dengan rekan-rekan yang tinggal di satu housing dengan Ikhsan.

"Yang paling dirindukan momen puasa di kampung adalah salat berjamaah dan tarawih bisa ke masjid, bersama tetangga, pulang ke rumah bisa ngobrol, sambil kita ngabuburit kita bisa jalan ke pasar cari tajil. Challenge nya semua itu enggak ada di sini. Untuk mengobati nya kemarin kita masak kolak, kita belajar dari youtube cara bikinnya. Itu sih salah satu yang unik yang mungkin kita enggak dapat di kampung halaman," ungkapnya.

Ikhsan mengatakan durasi berpuasa di Glasgow bertambah dua menit setiap harinya. Hingga akhir Ramadan, durasi berpuasa di Glasgow bisa sampai 19 jam di mana waktu imsak sekitar pukul 09.00 pagi dan waktu berbuka jam setengah 10 malam.

"Ini Ramadan yang pertama saya di Glasgow, yang paling berbeda di Glasgow adalah puasanya, posisinya kan kita sebenarnya kalau dilihat posisinya agak utara dari poros bumi. Jadi puasa nya agak lama, di Indonesia paling 14 jam, kalau di sini sampai 19 jam," katanya.

"Di awal kemarin hari-hari pertama itu puasanya 18 jam jadi mulai imsak jam 3 pagi dan buka jam 9 malam, nah itu selalu nambah, setiap hari nambah 2 menit, imsak tetap di sekitar jam 3 dan bukanya makin lama makin nambah. Nanti di hari terakhir puasa kami bukanya sekitar jam 10 malam," tambah Ikhsan.

Selain berpuasa karena sekarang di Glasgow kondisi nya sedang lockdown, Ikhsan mengatakan semua masjid ditutup. Ikhsan kebetulan tinggal bersama teman-teman Indonesia yang lain sehingga kerap menjalankan Salat Tarawih bersama di housing.

"Jadi saya punya kamar yang lumayan gede di antara teman-teman saya yang lain. adi kita sering tuh jamaah barengan abis isya dan tarawih baru kita makan. Itukan jarak buka sama sahur cuma empat jam ya, jadi kita makan itu cuma sekali sehari. Untuk makan berat saat buka sama sahur itu agak lumayan berat juga," terang Ikhsan.

Jalani Ramadan di Belanda, Anggita Rasakan Indahnya Toleransi Antarumat Beragama

Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved