Ramadhan 2020

Ramadan Pertama di Skotlandia, Ikhsan Belajar Lebih Mensyukuri Kebersamaan dengan Keluarga

Karena berada jauh dari keluarga, ia juga melakukan banyak hal untuk mengobati rasa rindunya dengan momen puasa di kampung halaman.

TRIBUN MEDAN/HO
MUHAMMAD Ikhsan Alia, mahasiswa jurusan Corporate and Finance Law di University of Glasgow, Glasgow, Skotlandia saat berbuka puasa bersama rekan-rekan Indonesia lainnya di Glasgow. 

Untuk mengobati rasa rindu kampung halaman, Ikhsan terbiasa melakukan segala halnya bersama dengan teman-teman Indonesia lainnya. Sehingga rasa homesick tidak begitu terasa.

"Kita kebanyakan usahain kita lakuin semuanya bareng-bareng. Kita Salat Subuh bareng, buka bareng, tujuannya supaya enggak terlalu terasa rindu dengan kampung halaman," katanya.

Sebelum pandemi, Ikhsan mengatakan banyak teman-teman yang main ke tempat tinggalnya.

Kondisi yang sedang lockdown  menjadikan hampir seluruh warga Glasgow menghabiskan waktu di rumah.

"Bisanya selalu ada yang main ke sini, cuma karena sekarang lagi lockdown dan lagi social distancing jadi semua lagi pada stay di rumah masing-masing. Jadi ada sekitar empat orang yang stay di housing kami ini," ungkapnya.

Diterangkan Ikhsan, di Glasgow banyak pendatang Pakistan dan India.

Muslim Pakistan biasanya memasak kari kambing yang bisa disantap si masjid-masjid. Karena pandemi, semua masjid di Glasgow tutup sehingga tidak memungkinkan merasakan kari kambing tersebut. Sehingga Ikhsan dan teman-temannya pun mencoba memasak kari sendiri.

"Kami di rumah juga belajar bikin kari ayam sendiri, belajar bikin opor ayam sendiri padahal semuanya laki-laki. Memang salah satu yang menarik dari berkuliah di luar negeri itu adalah semua harus mandiri, semua orang harus independen jadi insting untuk semuanya mandiri itu muncul dengan keadaan seperti ini," ungkap Ikhsan.

"Semuanya teman-teman harus saling bantu, beberapa hari juga kita sempat mau masak rawon pokonya teman-teman di sini lumayan kreatif untuk isi waktu mereka," tambahnya.

Ikhsan mengatakan Glasgow termasuk kota yang ramah muslim. Semua kebutuhan bahan makanan sangat mudah didapat di tokoh-tokoh halal. Masjid-masjid juga gampang ditemui di Glasgow.

Kisah Aldila Jalani Ramadan di Sri Lanka, Rindukan Jengkol Balado dan Ayam Rica Buatan Mama

"Alhamdulillah enggak ada kesulitan mencari bahan makanan di sini. Di Glasgow muslim grosir nya banyak banget, di sini presentasi muslim nya lumayan gede ya di sini ada sekitar 8 sampai 10 masjid, untuk halal store ada sekitar 10-15," katanya.

Ikhsan juga mengatakan Masjid-masjid dan grosir halal tersebar di tiap titik di Glasgow. Juga terdapat masjid raya yang bernama Glasgow Central Mosque, ada masjid yang dibangun oleh komunitas Pakistan dan dari komunitas muslim lain, di daerah kampus tempat Ikhsan berkuliah juga ada masjid.

"Malah sebenarnya di sini kalau teman-teman yang mau menikmati suasana rantau seperti ini malah terbantu sekali karena sangat friendly sekali kotanya," tuturnya.

Laki-laki kelahiran 26 Maret 1995 ini berharap pada Ramadan tahun ini dapat menjadi momen yang merubah paradigma masyarakat mengenai kehidupan. Khususnya setelah corona ini masyarakat bisa lebih menghargai bagaimana interaksi sosial.

"Harapannya kita bisa lebih menghargai setiap waktu yang kita habiskan dengan orang lain, orang yang kita kasihi dan sayangi. Setidaknya Ramadan tahun depan bisa menjadi harapan kita bisa sama-sama lagi, Salat Tarawih bareng lagi, Idul Fitri sama-sama lagi," katanya.(cr14/tri bun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved