Breaking News:

Covid 19

Nasib Pemulung di Medan, Mayoritas Bergantung pada Bantuan Pemerintah

Pemulung termasuk kelompok pekerja yang paling terpukul akibat wabah Covid-19.

Penulis: Rechtin Hani Ritonga | Editor: Liston Damanik
Dokumentasi Yayasan Peduli Pemulung Sejahtera
Yayasan Peduli Pemulung Sejahtera saat melakukan kegiatan sosial peduli pemulung di masa pandemi beberapa waktu lalu. 

TRIBUN-MEDAN.com - Pemulung termasuk kelompok pekerja yang paling terpukul akibat wabah Covid-19. 

Uba Pasaribu dari Yayasan Peduli Pemulung Sejahtera memperkirakan hampir 90 persen pemulung yang ada di Medan saat ini bergantung pada bantuan dari pemerintah akibat anjuran untuk mengurangi kegiatan di luar rumah. 

"Kondisi pemulung sangat miris di saat sekarang ini. Di mana mereka tidak bisa keluar rumah yang menyebabkan penghasilan sehari-hari nya nihil," ujar Pasaribu, Jumat (29/5/2020).

Menurutnya, tidak sedikit keluarga pemulung yang kelaparan dan tidak bisa mencukupi kehidupan sehari-hari."Beberapa dari mereka terpaksa tidak keluar rumah dan hanya mengandalkan bantuan yang ada, dan tidak sedikit juga yang tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya," katanya.

Jika dilihat pada kondisi lapangan yang sebenarnya, ujar Pasaribu, tidak sedikit pemulung yang tetap keluar rumah dan pergi ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) untuk tetap mengais rejeki. Tindakan ini menurutnya sangat membahayakan pemulung karena rentan terinfeksi virus.

"Tentunya kita juga harus mempertimbangkan mengenai keselamatan para pemulung ini selama tetap keluar dan memulung," ucapnya.

Selama pandemi berlangsung, Yayasan Peduli Pemulung Sejahtera menerima bantuan dari berbagai pihak untuk disalurkan langsung ke pemulung.

"Kami bersyukur masih banyak orang-orang baik yang mau memberikan bantuan dan beberapa peduli terhadap nasib pemulung. Kami belum pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah sejauh ini," tambahnya.

Lelaki yang kesehariannya mendampingi warga prasejahtera ini mengaku bantuan pemerintah yang sejauh ini diberikan kurang efektif. Ini karena banyak dari pemulung yang didampinginya tidak memiliki identitas (KTP).

"Banyak dari mereka yang justru tidak memiliki identitas diri sehingga tidak bisa tersentuh oleh bantuan pemerintah. Kita berharapnya pemerintah mau membuka mata lebar-lebar dan lebih peduli dengan mereka yang seperti ini," katanya.

Ia berharap pemerintah bisa lebih memikirkan cara-cara yang tepat untuk bisa menyokong dan menjamin kehidupan para pemulung khususnya di masa pandemi ini.

Ia berharap pemerintah lebih peka terhadap kondisi masyarakat prasejahtera karena banyak dari mereka yang justru tidak tersentuh bantuan pemerintah.

Ia juga sangat mengharapkan pemerintah merespon setiap tulisan mengenai para pemulung dan masyarakat yang ia bagikan melalui akun media sosialnya.

"Harapannya saya tak hanya ngoceh sendirian di sosial media, tapi ada tanggapan dan kepedulian dari pihak yang berwenang," pungkasnya. (cr14)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved