Breaking News:

Di Tengah Banjir, Puluhan Karyawan Pabrik di Buntu Pane Berunjuk Rasa, Tuntut Pesangon Layak

kami menuntut pesangon pak, karena kami sudah bekerja 16 tahun, 17 tahun bahkan ada yang sudah 18 tahun,

TRI BUN MEDAN/Mustaqim Indra Jaya
Puluhan karyawan pabrik perkebunan getah karet PT Fairco Bumi Lestari yang berada di Jalan Besar Kisaran-BP Mandoge menggelar aksi unjuk rasa di tengah banjir yang melanda kawasan tersebut pada (18/6/2020). Massa yang mengaku dirumahkan sejak Februari 2020 lalu itu menuntut pemberian pesangon yang layak oleh pihak perusahaan. 

Laporan Wartawan Tri bun Medan/ Mustaqim Indra Jaya

TRI BUN-MEDAN.com, KISARAN -

Puluhan karyawan pabrik dan pekerja outsourching perkebunan karet PT Fairco Bumi Lestari berunjuk rasa di depan perusahaan tempat mereka bekerja pada Kamis (18/6/2020).

Yang unik, para karyawan pabrik tetap menyampaikan aspirasinya meski kondisi di depan perusahaan tengah banjir, melanda kawasan Jalan Besar Kisaran-Bandar Pasir Mandoge, Desa Mekarsari, Kecamatan Buntu Pane, Kabupaten Asahan.

Dalam aksi tersebut, para karyawan pabrik dan pekerja outsourching yang telah dirumahkan sejak Februari 2020 lalu membawa sejumlah poster dan spanduk.

"Ini bentuk kami menuntut pesangon pak, karena kami sudah bekerja 16 tahun, 17 tahun bahkan ada yang sudah 18 tahun, tapi tidak diberikan apapun, kami hanya ditawari satu bulan gaji," ungkap seorang karyawan yang berunjuk rasa, Amran Sinaga, Kamis.

Lanjut ia, proses dirumahkannya mereka oleh pihak perusahaan tanpa prosedur yang layak. Para karyawan diberhentikan hanya secara lisan.

Begitu juga dengan pekerja outsourching.

Total yang diberhentikan sepihak pada Februari lalu oleh perusahaan ada sebanyak 250 orang.

"Kami ditelantarkan, dibuang begitu saja, tanpa ada surat PHK selembar pun. Kami diberhentikan sepihak," ucapnya.

Amran menegaskan, dirinya dan seluruh karyawan yang diberhentikan sepihak tersebut akan terus menggelar aksi unjuk rasa sampai tuntutan mereka dipenuhi oleh pihak perusahaan.

Menurutnya, kondisi yang mereka alami merupakan bentuk tindakan kesewenang-wenangan perusahaan dan dinilai telah mengangkangi UU Ketenagakerjaan.

"Sampai kapan pun kami akan menuntut. Pabrik ini masih aktif, yang berhenti hanya operasinya saja. Izinnya masih ada, personalianya masih datang bekerja," pungkasnya.

Sementara itu, hingga massa membubarkan diri, tidak ada perwakilan perusahaan yang menemui para pekerja. Kondisi kompleks perusahaan tersebut tertutup rapat.

(ind/tri bun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved