Cara Siasati Kenaikan Biaya Pendidikan Setiap Tahun
Setiap tahun, biaya pendidikan terus meningkat karena inflasi pada kelompok pendidikan termasuk salah satu yang tertinggi.
MEDAN.TRIBUNNEWS.com, MEDAN - Setiap tahun, biaya pendidikan terus meningkat karena inflasi pada kelompok pendidikan termasuk salah satu yang tertinggi. Untuk dapat mengejar kenaikan biaya ini maka dana pendidikan sebaiknya diinvestasikan.
Mengutip penelitian perencana keuangan ZAP Finance, Head of Wealth Management & Premier Banking Bank Commonwealth, Ivan Jaya, mengungkapkan kenaikan biaya pendidikan di Indonesia rata-rata mencapai 10 - 20% per tahun. “Jika kita mengejar kenaikan dana pendidikan dengan menabung saja tentu tidak akan cukup,” ujarnya.
Karena itu Ivan menyarankan agar kita menginvestasikan dana pendidikan pada instrumen yang agresif seperti obligasi, saham atau reksa dana. Walaupun memiliki tingkat risiko produk lebih tinggi namun dapat memberikan potensi imbal hasil yang juga tinggi.
Sebagai contoh untuk mempermudah, jika dalam 1 tahun periode akhir Desember 2018 – akhir Desember 2019 kita harus membayarkan biaya sekolah anak dengan berinvestasi pada salah satu reksa dana pasar uang, investor akan mendapatkan imbal hasil sekitar 7,33% net. Bandingkan dengan hanya ditabung, cuma mendapatkan bunga sekitar 0-2% gross atau deposito 5-6% gross.
Contoh lainnya jika dalam 5 tahun periode akhir Desember 2014 – akhir Desember 2019 kita harus membayarkan biaya sekolah anak dengan berinvestasi pada salah satu reksa dana saham, investor akan mendapatkan imbal hasil sekitar 78% net selama 5 tahun atau sekitar 16% net per tahun. Bandingkan dengan hanya ditabung untuk periode yang sama hanya mendapatkan bunga 1-2% net per tahun atau deposito yang bunganya 4-5% net per tahun.
Konsep menabung memang lebih dikenal oleh masyarakat karena dianggap mudah dan aman tanpa risiko. Namun sebenarnya ada risiko inflasi, dimana hasil dari menabung akan dikalahkan oleh inflasi pendidikan yang jauh di atas angka inflasi umum. “Sesuai konsep investasi dimana high risk high return, untuk mengejar inflasi pendidikan yang tinggi kita harus berani berinvestasi dan mengambil risiko lebih untuk mendapatkan potensi imbal hasil yang juga tinggi,” tandasnya.
Ivan menjelaskan, dalam hal dana pendidikan, idealnya menyesuaikan dengan usia anak. Jika usia anak adalah 6 tahun dan usia masuk SD adalah 7 tahun maka waktu maksimal untuk menyiapkan dana pendidikan SD adalah 1 tahun. Untuk persiapan biaya saat SMP adalah 7 tahun, sedangkan untuk menyiapkan dana kuliah S-1 nya masih ada waktu hingga 13 tahun lagi. “Namun, jika kita baru menyiapkan dana mendekati dimulainya pendidikan anak di jenjang tersebut, dana yang diinvestasikan per bulannya akan lebih besar,” katanya.
Semakin lama waktu yang dimiliki, tentu akan semakin ringan dana yang harus diinvestasikan setiap bulannya karena konsep compound interest.
Sementara itu, Presiden Direktur Sucor Asset Management, Jemmy Paul Wawointana, mengatakan berinvestasi terutama dalam reksa dana saham, sangat ditentukan oleh jangka waktu investasi. “Apabila Anda berinvestasi di reksa dana saham kami sangat menyarankan untuk berinvestasi minimal 10 sampai 15 tahun agar risiko lebih terukur. Dan kami sangat menyarankan untuk berinvestasi dana pendidikan sejak anak masih sangat kecil, sehingga periode investasi yang dilakukan dapat lebih panjang,” tandasnya.
Menurut perhitungannya, periode paling cocok adalah berinvestasi saat anak masih berumur kurang lebih 1 tahun. Sehingga orang tua memiliki jangka waktu investasi sekitar 18 tahun hingga anak masuk kuliah di umur 19 tahun. Dengan berinvestasi Rp 1 juta sebulan, dengan asumsi return sekitar 12%, maka ketika anak berusia 19 tahun dana investasi berpotensi menjadi sekitar Rp 650 juta.
Lebih jauh Jemmy mengatakan, sebaiknya anak diajarkan berinvestasi ketika mereka sudah mulai mengerti fungsi uang, biasanya di usia 3 tahun. Mulai ajarkan menabung dan ketika sudah terbiasa bisa ditingkatkan mengenal investasi. “Jika anak sudah mulai mengerti perbedaan menabung dan investasi, orang tua dapat membimbing dan memonitor anak dalam pemilihan portfolio dan menjelaskan perbedaan kelas aset,” bebernya.
Sedangkan Ivan Jaya menjelaskan, saat SD anak sudah bisa mulai diajak diskusi tentang investasi namun dengan cara mudah. Misalnya dengan uang saat ini Rp 20 ribu bisa untuk membeli mainan, namun jika menunggu 1 minggu menjadi Rp 25 ribu bisa untuk membeli mainan dan biskuit.
Selanjutnya perlu diajarkan juga konsep kebutuhan vs keinginan sejak dini. “Jangan lupa untuk mengajarkan anak beramal agar mereka memahami bahwa banyak orang di dunia ini yang membutuhkan uang sehingga anak lebih menghargai nilai uang dan tidak menghamburkannya kelak,” cetusnya.
Juga ceritakan kisah tentang orang-orang yang sukses dalam berinvestasi seperti Warren Buffet dan Peter Lynch untuk menginspirasi.(rie)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/anak-yang-sedang-belajar-di-rumah-selama-pandemi-covid-19.jpg)