Kenaikan IHSG Dorong Reksa Dana Makin Menggeliat
Peluang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus naik masih cukup besar sehingga investasi reksa dana diprediksi akan menggeliat
MEDAN.TRIBUNNEWS.com, MEDAN - Peluang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus naik masih cukup besar sehingga investasi reksa dana diprediksi akan menggeliat memasuki semester kedua 2020.
Jemmy Wawointana, Presiden Direktur Sucor Asset Management mengatakan kinerja reksa dana, khususnya saham sangat terkait dengan IHSG. Portfolio reksa dana saham minimal 80 persen adalah efek bersifat ekuitas, terutama reksa dana yang dikelola memiliki portfolio saham-saham berbasis blue chip. “Sehingga apabila IHSG mulai rebound, otomatis kinerja reksa dana berbasis blue chip akan terdorong,” katanya.
Peluang kenaikan IHSG, menurut Jemmy, karena Indonesia salah satu negara berkembang dengan fundamental ekonomi cukup baik. Apalagi Indonesia juga menawarkan potensi imbal hasil cukup menarik bagi investor asing. “Saat ini PE ratio rata-rata IHSG berada di level 12,4. Ditambah lagi Bank Sentral Indonesia sangat berkomitmen untuk menjaga kestabilan moneter dan mata uang. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan akan menjaga level stabil rupiah di rentang 14.000-14.600,” tandasnya.
Dampak perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang kembali memanas, sebenarnya dapat juga berdampak positif bagi IHSG. Adanya ketegangan antara kedua negara, maka appetite investor terhadap mereka mulai menurun. Sehingga investor cenderung mencari alternatif investasi di negara berkembang yang menawarkan potensi imbal hasil yang menarik. “Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki potensi imbal hasil yang menarik. Hal ini dapat dilihat dari data BI pada tahun 2019, arus dana asing masuk ke Indonesia mencapai Rp 224,2 triliun,” ujar Jemmy.
Tren investasi diprediksi akan menggeliat di semester kedua 2020 disampaikan pengamat ekonomi dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Wasiaturrahma.
Ia menjelaskan bahwa gejala tersebut terlihat dari berbagai indikator ekonomi maupun kebijakan fiskal yang mulai diterapkan sejak pertengahan tahun. "Kondisi pasar modal di Indonesia saat ini cukup bagus. Muncul sebagai pemenang di Asia, IHSG berhasil naik 2,9 persen minggu lalu di tengah tekanan jual investor-investor asing," kata Rahma, Rabu (24/6/2020).
Rahma melihat sejumlah indikator positif yang menunjang kenaikan IHSG tersebut.
Mulai diturunkannya bunga acuan BI sebesar 25 basis points dan kembali berputarnya roda ekonomi setelah PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dilonggarkan. Belum lagi stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dollar AS hingga komitmen pemerintah melakukan stimulus fiskal. "Kami juga melihat masih terbukanya ruang bagi BI untuk kembali menurunkan bunga acuan pada Rapat Dewan Gubernur mendatang," ujarnya.
Namun, ia tak memungkiri adanya sentimen negatif yang kemungkinan berasal dari luar negeri. Terutama dari Wall Street (bursa saham Amerika) karena kemungkinan terjadinya diskoneksi yang sangat serius dengan Main Street (sektor riil).
Sedangkan sentimen positif kemungkinan berasal dari Singapura. "Singapura memberikan stimulus sangat besar yaitu 1 triliun dollar untuk mengangkat kondisi ekonominya yang terpuruk akibat pandemi," katanya.
Melihat berbagai potensi tersebut, Rahma menilai roda ekonomi domestik dan global mulai berputar lagi. Hal ini akan menarik investasi di semester kedua mendatang. Ia pun menyatakan reksa dana saham cukup menarik untuk dibidik. "Terutama, bagi horizon investasi (lama investasi) untuk investor domestik maupun asing lebih dari satu tahun," katanya.
Demikian juga dengan reksa dana pendapatan tetap dengan tren suku bunga yang menurun. "Apalagi, suku bunga deposito juga kurang menarik untuk investasi saat ini," jelasnya.
Sementara itu, Ivan Jaya, Head of Wealth Management & Premier Banking Bank Commonwealth mengatakan di tengah potensi resesi ekonomi dunia dan tingkat pertumbuhan Indonesia yang melambat, pasar saham dunia termasuk Indonesia telah mengalami kenaikan dari aksi jual yang terjadi di awal tahun. “Tingkat likuiditas yang tinggi karena stimulus dari pemerintah dan bank sentral menjadi salah satu faktornya,” kata Ivan.
Menurutnya pasar saham menghadapi tantangan yang cukup besar ke depannya setelah rilis laporan keuangan kuartal II, dimana pada kuartal tersebut aktivitas ekonomi jauh lebih terganggu dibanding kuartal sebelumnya. Namun, pembukaan kembali ekonomi secara gradual memberikan optimisme akan mulainya pemulihan ekonomi, meski masih dibayangi dengan kembali meningkatnya kasus Covid-19.
Untuk berinvestasi secara jangka panjang, menurut Ivan, instrumen reksa dana saham merupakan salah satu pilihan terbaik. Dibukanya kembali ekonomi Indonesia dan global memberikan optimisme dan bisa menjadi momentum untuk berinvestasi. “Namun karena tingkat ketidakpastian yang masih tinggi, direkomendasikan untuk berinvestasi secara bertahap dan regular,” cetusnya.
Selain itu, yang terpenting bagi investor di masa apapun adalah diversifikasi aset. “Dan jangan lupa agar tetap aman, berinvestasi dari rumah saja melalui digital atau mobile banking,” pungkasnya. (bob)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/setelah-beberapa-bulan-indeks-saham-gabungan-ihsg-melemah-akibat-pandemi-covid-19.jpg)