Breaking News:

Situs Sejarah Kota Medan Kian Terkikis, Sejarawan Eva Berharap Pemerintah Perkuat Arsip Sejarah

Hari jadi kota Medan yang begitu pluralisme dan heterogen jadi tidak begitu melekat di hati masyarakat

TRIBUN MEDAN/HO
DOKUMENTASI sejarawan Lister Evi Simangunsong dengan buku karyanya mengenai penelitian Sejarah Epidemi Lepra di Tanah Karo. 

TRI BUN-MEDAN.com, MEDAN - Peringatan Hari Medan yang diperingati tiap tanggal 1 Juli ini kini sudah menginjak usia 430 tahun. Ratusan tahun tentu menyimpan banyak nilai historis mengenai asal usul terbentuknya suatu kota hingga saat ini.

Namun, di era modern saat ini, masyarakat seakan hanya turut merayakan tanpa tahu sejarah historisnya. Hal ini diungkapkan oleh Sejarawan Lister Eva Simangunsong.

Eva mengungkapkan, kota Medan yang kini bersifat heterogen dan pluralisme menyebabkan masyarakat seakan tidak meresapi makan dari setiap peringatan hari jadi kota Medan.

"Kota Medan ini sudah terbentuk dari fakta historis yang panjang. Tapi sayangnya hari jadinya kota Medan yang begitu pluralisme dan heterogen jadi tidak begitu melekat di hati masyarakat. Karena kita sudah heterogen dari berbagai suku dari minimnya akan sejarah, jadi hanya kelompok sejarah saja yang paham dan yang memang betul-betul memaknai hari jadi kota Medan," ungkap Eva kepada Tribun Medan, Rabu (1/7/2020).

Selain peringatan hari jadi kota Medan harus menjadi perenungan, Eva menuturkan bahwa sejarah dan situs-situs yang menjadi bukti adanya sejarah harus dirawat.

"Pemerintah bisa menanamkan sejarah dengan pendekatan teknologi jadi secara aktif sosialisasi ke sekolah. Sosialiasi Museum dan studi tur ke Kesawan square, itukan sejarah juga. Jadi menarik untuk bidang pariwisata," ujarnya.

Menurut Eva, pemerintah masih kurang tegas dalam menjaga bukti sejarah perjalanan kota Medan. Dikarenakan minimnya pengenalan sejarah, banyak anak muda Medan yang tidak tahu sejarah terbentuknya kota Medan itu sendiri.

"Hampir banyak anak Medan yang tidak tahu sejarah kota Medan itu. Itu terlihat dari ahli fungsi dari merdeka Walk atau renovasi dari bangunan-bangunan yang saya pikir ketika itu diubah akan menyulitkan dan memutus mata rantai sejarah.

Titi Gantung Ikon Bersejarah Kota Medan Kini Jadi Tempat Buang Sampah dan Lapak Pengemis

Mungkin karena pengaruh teknologi dan banyaknya imitasi jadi sejarah kita lupakan sehingga tidak banyak masyarakat yang memahami kota Medan sendiri sampai berusia saat ini," jelas Eva.

Sebagai sejarawan, Eva menuturkan bahwa pentingnya arsip-arsip sejarah pada suatu kota atau daerah agar kota Medan tidak kehilangan jati diri kedepannya.

"Jadi bagaimana mempertahankan situs sejarah oleh pemerintah kota Medan itu perlu ditingkatkan. Pendataan dan data base yang meliputi kampung Brayan dan Kesawan itu perlu ditingkatkan arsip data basenya. Sehingga ketika ada upaya dua atau tiga tahun pergantian kepemimpinan, itu data base tetap dipegang," kata Eva.

Halaman
12
Penulis: Kartika Sari
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved