Update Covid19 Sumut 10 Juli 2020

Imbas Covid-19 di Sektor Properti, Kadin Melihat Peluang bagi Konsumen

tetapi karena masalah Covid-19 ini berimbas kepada segmen properti secara keseluruhan termasuk rumah subsidi

Editor: Salomo Tarigan
TRI BUN MEDAN/NATALIN
WAKIL Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Sumatera Utara Bidang Infrastruktur dan Properti, Tomi Wistan. 

Laporan Wartawan Tri bun Medan/Natalin

TRI BUN-MEDAN.COM, MEDAN-

Pandemi Covid-19 berdampak pada lesunya aktivitas ekonomi Indonesia, termasuk sektor properti.

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Sumatera Utara Bidang Infrastruktur dan Properti, Tomi Wistan mengatakan perumahan mewah secara umum perumahan komersil menengah keatas sebenarnya tumbuh melambat sejak tujuh tahun lalu.

"Harusnya prediksi kita pada tahun 2020 ini perumahan komersil itu sudah tumbuh kembali tetapi karena masalah Covid-19 ini berimbas kepada segmen properti secara keseluruhan termasuk rumah subsidi," ujar Tomi, Jumat (10/7).

Dijelaskannya, dampak Covid-19 juga berimbas pada menurunnya daya beli konsumen akan properti.

Sebab sebagian pekerja, ada yang di PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) atau dirumahkan sehingga pekerja tersebut tak punya penghasilan.

Dari segi UMKM juga dengan adanya Covid-19 ini usaha kian melempem dan omzet menurun hingga 80 persen.

"Tergantung jenis usaha memang,
sebagaian jenis usaha juga omzetnya ada yang naik khusus berupa sembako, obat-obatan, vitamin, usaha itu mungkin omzetnya naik tapi secara umum rata-rata pengusaha itu omzetnya akan drop dan tentu juga akan membuat daya beli menurun," ujarnya.

Industri properti menurutnya, melambat hingga 50 persen, selain itu lanjutnya, saat ini industri properti tertekan karena semakin ketatnya pemberian kredit perumahan dari perbankan.

"Omzet pelaku usaha menurun pendapatan menurun, sehingga bank yang tadinya mau salurkan kredit juga kuatir, jangan jangan nanti enggak bisa bayar. Kondisi sekarang saja sudah banyak yang minta relaksasi, penundaan pembayaran, bunga pengurangan pokok. Sehingga perbankan dalam menyalurkan kredit jadi semakin selektif dengan kondisi pangsa pasar, dan terbatas penyalurannya," ungkapnya.

Diakui Tomi, dengan selektif penyaluran kredit ini otomatis daya serap sektor perumahan hampir di semua segmen makin melambat.
Tetapi melambatnya properti ini, ada peluang yang bisa dimanfaatkan.

"Ada celah yang bisa dijadikan peluang untuk meningkatkan bisnis properti. Sekarang paling cocok membeli properti, jadi masyarakat harus jeli, harga rumah sedang tidak naik (murah)," ucapnya.

Ia menjelaskan pengembang memberikan kemudahan berupa cicilan bertahap sampai lima tahun atau 60 kali cicilan bertahap ke developer, downpayment (DP) bisa sampai tiga kali. Sehingga developer juga terbantu dari cash flow walaupun tidak besar tapi terbantu sedikit.

"Tentu kita berharap semakin cepat sektor properti ini naik kembali. Setidak-tidaknya berbarengan tumbuhnya dengan bisnis lain. Saya prediksi tahun depan paling cepat dan konservatifnya tahun 2022," katanya.

(nat/tri bun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved