Breaking News:

Penerimaan Siswa Baru di Sumut

Panitia PPDB Sumut Ungkap Alasan Utama Tidak Terpenuhi Kuota Seleksi Tahap 3

Kekurangan kuota ini dapat terlihat dari 25 ribuan kuota tahap ketiga yang tersedia, hanya 4195 peserta yang dinyatakan lulus.

Penulis: Kartika Sari | Editor: Salomo Tarigan
Dok/TRI BUN-MEDAN.com/Kartika Sari
Pendaftar melihat papan persyaratan PPDB di SMAN 18 Medan 
TRI BUN-MEDAN.com-
Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahap ketiga untuk jenjang SMAN dan SMKN di Sumatra Utara masih mengalami kekurangan kuota walau sudah dilaksanakan hingga tiga kali tahap pendaftaran. 
Kekurangan kuota ini dapat terlihat dari 25 ribuan kuota tahap ketiga yang tersedia, hanya 4195 peserta yang dinyatakan lulus. 
Melihat hal tersebut, Sekretaris Panitia PPDB Disdik Sumut, Saut Aritonang angkat bicara mengenai kekurangan kuota yang masih terjadi. 
Saut menilai bahwa masih adanya kekurangan kuota ini terjadi lantaran kurangnya minat pendaftar untuk memilih sekolah yang memiliki peluang besar dan memilih ke sekolah yang menjadi favorit. 
"Kalau saya melihat masyarakat tampaknya lebih condong ke sekolah yang disenangi, ini banyak di daerah jauh-jauh yang akses angkutan umumnya sulit belum mencukupi, buktinya sekolah yang berada di daerah pusat keramaian itu sampai 4000an pendaftar padahal yang diambil sekitar 300an orang," ungkap Saut, Sabtu (11/7/2020). 
Hingga saat ini, PPDB tahap 3 di kota Medan sudah terpenuhi. Hal ini dikarenakan menurut Saut, SMAN di kota Medan masih menjadi favorit masyarakat. 
Namun, pemerataan ini timpang dengan kuota yang masih tersedia di daerah.
Saut mengungkapkan bahwa 25 ribuan kuota yang masih kekurangan ini berasal dari luar kota Medan, terutama daerah Nias yang memegang kekurangan kuota terbanyak. 
Selain kurangnya minat masyarakat, Saut mengungkapkan bahwa kekurangan kuota ini terjadi lantaran banyak calon pendaftar yang masih belum melek teknologi. 
"Kita harus akui kelemahan masyarakat kita, pertama mengenai kepiawaian teknologi. Karena terbukti kami menerima keluhan, contohnya 'kayak mana cara daftarnya pak?'. Bahkan bukan hanya masyarakat biasa. Teman-teman di LSM banyak yang nanya," ungkap Saut. 
Pernyataan ini dibuktikan Saut dengan banyaknya komplain atau pertanyaan orangtua mengenai teknologi. 
"Kalau komplain selalu ada dan itu bervariasi. Yang paling banyak ini mengenai Teknologi. Nampaknya yang pintar-pintar di android itu sudah pada lulus tinggal ini yang belum pintar. 
Mereka selalu yang menanyakan 'bagaimana cara mendaftarnya' begitu. Mungkin itupun ditolong tetangga ya. Itu boleh memang, kita tidak melarang," terang Saut. 
Sistem PPDB menggunakan akses secara online ini menurut Saut, kedepannya perlu diberikan sosialisasi lebih gencar lagi agar tidak ada calon pendaftar yang belum melek teknologi. 
"Sosialisasi Teknologi ini mungkin perlu. Sekarang masyarakat itu diedukasi dengan situasi sekarang, misalnya di zaman Covid itu tidak ada pelajaran tatap muka, mau tidak mau harus masuk ke pelajaran online. Yang tadinya orang tua tidak peduli ya sekarang harus karena anak-anak dan diajarkan secara daring," ucap Saut. 
(cr13/tri bun-medan.com)
Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved