Breaking News:

Penjualan di Pasar Tradisional Mulai Bergeliat, Pengamat Ekonomi Sumut Wanti-wanti Harga Cabai

Belakangan ini aktivitas sosial ekonomi masyarakat mulai menggeliat. Terlebih jika dibandingkan selama bulan Mei sebelumnya.

Gunawan Benjamin 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Belakangan ini aktivitas sosial ekonomi masyarakat mulai menggeliat. Terlebih jika dibandingkan selama bulan Mei sebelumnya.

Ruang gerak masyarakat sekarang memang lebih luas saat ini dimana kegiatan ini pada akhirnya akan membuat masyarakat banyak mengkonsumsi kebutuhan hidupnya termasuk kebutuhan pokok.

Pengamat Ekonomi Sumatera Utara Benjamin Gunawan mengatakan belakangan ini memang masyarakat mulai melakukan sejumlah acara sosial seperti hajatan, perkawinan, atau bentuk pesta adat lainnya. Meskipun memang tidak seramai seperti sebelumnya.

"Namun aktivitas yang mulai membaik ini menjadi indikasi bahwa permintaan akan komoditas pangan akan mengalami kenaikan. Selama bulan Mei, banyak pedagang di pasar tradisional yang mengalami penurunan penjualan mencapai 60%. Tetapi belakangan penurunan penjualan tersebut berkurang menjadi sekitar 30% hingga 40%," katanya kepada Tribun Medan, Senin (20/7/2020).

Penyebabnya, yakni pelonggaran dari kebijakan karantina sebelumnya atau dikenal dengan PSBB.

Tren perkembangan harga yang terlihat belakangan adalah harga cabai mengalami kenaikan.

Cabai rawit di kisaran Rp 30 ribuan, sementara cabai merah saat ini berkisar Rp 24 hingga Rp 26 ribu per kilogram.

"Kenaikan harga cabai saat ini dinilai masih dalam batas harga yang ideal. Artinya petani dan konsumen tidak begitu dirugikan. Namun indikator yang paling baik dalam melihat perkembangan daya beli masyarakat ada di permintaan daging ayam, sapi atau telur ayam," katanya.

Dijelaskan Gunawan, belakangan harga daging ayam turun di kisaran Rp 26 ribuan saat ini, dari sebelumnya yang sempat naik di level Rp 37 ribu sekitar sebulan yang lalu.

Jika ke depan usaha kuliner mulai dibuka, ia yakin tren permintaan akan komoditas pangan tetap naik.

"Dan masalah yang masih melekat saat ini adalah di daya beli masyarakat. Hal ini yang menjadi penghambat tren konsumsi masyarakat dalam jangka panjang seiring penyebaran Covid-19 ini," katanya.

Ia menyarankan agar pemerintah sebaiknya memantau perkembangan harga cabai.

"Jangan sampai kenaikan harga cabai lebih dipengaruhi oleh perubahan tanam di tingkat petani. Maklum petani sebelumnya dirugikan karena harga cabai bertahan murah," pungkasnya.

(sep/tribun-medan.com)

Penulis: Septrina Ayu Simanjorang
Editor: Juang Naibaho
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved