Mendagri Bantah Bilang Jenazah Korban Harus Dibakar

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menyampaikan klarifikasi terkait pernyataannya tentang penanganan jenazah Covid-19 yang menjadi polemik.

Editor: Liston Damanik
HO
BANTU PENGUBURAN-Anggota Polsek Lumban Julu bersama pihak Kecamatan Ajibata membantu petugas medis menguburkan seorang warga yang diduga terpapar Covid-19, Senin (1/6) kemarin. Warga tidak mau ikut serta memakamkan jenazah korban.(HO) 

TRIBUN-MEDAN.com - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyampaikan klarifikasi terkait pernyataannya tentang penanganan jenazah Covid-19 yang menjadi polemik di masyarakat.

Tito mengatakan, apa yang disampaikannya dalam acara diskusi di webinar FKUB tentang penanganan jenazah Covid-19 telah disalahtafsirkan.

Penyebabnya ada media yang memberitakan pernyataannya itu secara sepotong-sepotong.

"Ada media yang memotong sepotong saja, bahkan ada kata yang di luar apa yang saya sampaikan yaitu jenazah Covid-19 harus dibakar. Saya tidak pernah sampaikan seperti itu, tidak pernah," kata Tito, kepada wartawan, seusai menghadiri shalat jumat di Masjid Raya Al Fatah Ambon, Jumat (24/7/2020).

Dalam diskusi webinar itu, ia menyampaikan jenazah Covid-19 diduga mengandung virus, karena itu secara teori virus yang ada pada jenazah akan mati salah satunya dengan cara dipanaskan pada suhu 56 derajat celcius.

Dari teori itu, kata Tito, maka seyogyanya jenazah Covid-19 dibakar untuk membunuh virus yang ada pada jenazah yang terpapar corona, namun secara praktek hal itu tidak bisa dilakukan lantaran bertentangan dengan keyakinan dan akidah agama tertentu.

"Belum tentu sesuai dengan akidah agama tertentu, termasuk kita yang Muslim. Oleh karena itu, tekniknya dibungkus rapat supaya virusnya tidak ada celah untuk keluar, setelah itu baru dimakamkan di tempat yang kering sehingga tidak ada kemungkinan virusnya keluar mengalir di air dan lain-lain," kata Tito.

Tito mengungkapkan, dalam diskusi itu ia ikut menyampaikan teori dan hasil penelitian ahli di mana virus yang berada pada jenazah Covid-19 akan mati jika berada pada suhu tertentu, sebab virus yang ada pada jenazah mengandung lemak.

Meski begitu, ia mengaku jenazah Covid-19 tidak perlu dibakar atau dikremasi tapi hanya cukup dibungkus dengan rapi sehingga tidak ada cela yang memungkinkan virus dapat keluar.

"Seperti saya sendiri Muslim, akidah kami sesuai tata cara itu maka setelah dimandikan dan lain-lain disalatkan, kemudian dibungkus yang rapi sehingga tidak ada virus yang keluar, lalu dimakamkan seperti baisa, tapi dimakamkan di tempat yang kering itu saran saya," ungkap dia.

Ia meyakini bagi peserta diskusi di webinar yang menyaksikan diskusi tersebut akan paham karena memahami konteks dari apa yang dibahas.

"Jadi, tolong pemberitaannya kalau dimuat jangan dipotong-sepotong jadi kehilangan konsteks sehingga masyarakat akhirnya melihatnya sepotong, masyarakat akhirnya berpikir saya mengharuskan cara dibakar, tidak sama sekali, tidak.Saya kira masyarakat yang ikut webinar saat itu memahami betul kalau membaca konteks secara keseluruhan," ungkap mantan Kapolri itu. (kompas.com)

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved