Breaking News:

Jelang Pilkada Wali Kota Medan

Pengamat Nilai Keputusan Akhyar Pilih Demokrat Sesuatu yang Wajar dalam Politik

Akhyar pasti kecewa dengan keputusan partai yang tidak mengusungnya pada pilkada Medan, karena haus berbenturan dengan menantu Joko Widodo.

HO/t r i b u n m e d a n
Plt Wali Kota Medan Akhyar Nasution 

TRI BUN-MEDAN.com, MEDAN - Pengamat Sosial Universitas Sumatera Utara, Agus Suryadi menyebut, langka yang diambil oleh Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Medan, Akhyar Nasution sudah tepat, dengan meninggalkan partai PDI-Perjuangan dan bergabung pada Demokrat untuk mendulang suara maju pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Desember mendatang.

Menurutnya, Akhyar pasti kecewa dengan keputusan partai yang tidak mengusungnya pada pilkada Medan, karena haus berbenturan dengan menantu Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.

"Inilah adalah bentuk kekecewaan Akhyar, kenapa dia pindah partai. Dia adalah kader yang sudah lama berkecimpung dalam dunia partai," ucapnya, melalui sambungan telepon genggam, Sabtu (25/7/2020).

Diketahui, Akhyar Nasution memilih Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai perahunya maju untuk memperebutkan kursi orang nomor satu di pemerintah kota Medan.

Penegasan Djarot Saiful: Akhyar Nasution Tak Didukung karena Pernah Terlibat Dugaan Korupsi MTQ

Dengan keputusan inilah, akhirnya Akhyar harus mendapatkan pil pahit dari PDI-Perjuangan, yaitu tidak lagi menjadi bagian pada partai berlambangkan banteng moncong putih tersebut. Sebab, PDI-Perjuangan dengan tegas tidak akan pernah berkoalisi bersama dengan PKS dan Demokrat pada Pemilu.

Menurutnya, tidak ada masalah bila seseorang pindah menjadi kader dari partai lain, apalagi Akhyar adalah petahana yang berpotensi.

"Tidak ada salahnya Akhyar untuk melirik partai lain, karena punya potensi untuk kembali bertarung karena seorang petahana," ucapnya.

Presiden PKS: Akhyar Nasution Sudah Jadi Kader Demokrat, Semoga Terbentuk Koalisi PKS dan Demokrat

Agus juga akan pindah partai, bila ia berada pada posisi Akhyar. Apalagi melihat latarbelakang Bobby Nasuiton yang merupakan menantu dari Presiden, dekat dengan para petinggi partai.

"Kalau saya berada di posisi Akhyar, saya juga akan pindah partai. Tidak akan mungkin daerah berani melawan keputusan dari pusat," jelasnya.

Kemudian, Agus menyayangkan sikap dari PDI-Perjuangan yang melepaskan begitu saja kadernya. Apalagi, Akhyar bukan orang baru di PDI-Perjuangan, sudah banyak kisah dan bentuk pengorbanan yang telah dilakukannya.(wen/tri bun-medan.com)

Penulis: Satia
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved