Breaking News:

Kampanyekan Minim Sampah, PKPA Medan Ajak Anak Muda Jadi Agent of Change Bebas Plastik

Webinar yang diikuti oleh 41 anak diikuti secara antusias dalam mengenal permasalahan sampah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

TRIBUN MEDAN/HO
DOKUMENTASI suasana webinar PKPA Medan bertajuk Ayo Jadi Jagoan Bebas Plastik melalui aplikasi Zoom. 

TRI BUN-MeDAN.com, MEDAN -  Sampah masih menjadi persoalan terbesar bagi masyarakat Indonesia untuk dihilangkan.

Tak pelak, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik tahun 2019 menyatakan Indonesia berada di urutan kedua penghasil sampah terbanyak dengan 64 juta ton per tahun.

Berangkat dari kekhawatiran tersebut, Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA) Medan menggelar webinar anak bertajuk Ayo Jadi Jagoan Bebas Plastik melalui aplikasi Zoom, Rabu (29/7/2020).

Koordinator Webinar, Ayu Lestari mengungkapkan, webinar yang diikuti oleh 41 anak diikuti secara antusias dalam mengenal permasalahan sampah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

"Peserta total ada 41 orang. Antusias mereka ini cukup amaze juga karena kita awalnya tidak terlalu berharap banyak, kita targetin waktu satu jam setengah ternyata sesi pemaparan materi ini banyak anak-anak yang bertanya," ungkap Ayu.

Webinar mengenai sampah plastik ini ditujukan agar anak-anak sekolah paham akan bahaya sampah jika dibiarkan tanpa ada yang membawa perubahan.

Program Konservasi Pantai dari Pertamina, Sampah Diolah Jadi Berkah

"Kita sudah ada di situasi seperti ini, bagaimana caranya kita menemukan solusi bukan hanya mencari masalah tapi bagaimana menyelesaikan permasalahan sampah. Mereka sebagai orang muda apa yang bisa mereka lakukan, apa dengan bersuara, berkreativitas," ujar Ayu.

Webinar ini turut mengundang pemateri yang peka terhadap lingkungan, diantaranya ada Koordinator Sanggar Kreativitas Anak Camelia Nasution, Runner Up I Duta Lingkungan Pekan Baru 2018 Annesa Fista Savitri, dan anak dampingan PKPA Angelika Mariani Hasibuan.

Dalam pemaparannya, Camelia mengungkapkan bahwa walau sudah banyak sosialisasi terhadap sampah, namun masih banyak masyarakat yang kurang peduli terhadap pemilahan sampah.

"Keluarga tidak terbiasa untuk memilah sampah yang padat dan kering. Pemilahan sendiri dari masyarakat juga kurang banyak. Kalaupun ada disediakan sampah dengan masing-masing jenis yang sudah disediakan pemko Medan di berbagai tempat.

Sampah Mengular di Jalan Asrama, Camat Medan Helvetia-Camat Sunggal Saling Lempar Tanggungjawab 

Namun pada kenyataan sampah diangkut petugas kebersihan ke Tempat Pembuangan Akhir, sampah tersebut tidak terpilah, jadi ngelihatnya tidak maksimal. Keseriusan pemerintah disini kok nanggung," ungkap Camelia kepada Tribun Medan.

Dalam pemaparannya, Camelia menerangkan apa dampak buruk dari membuang sampah hingga cara mudah mengurangi sampah mulai dari gunakan sedotan yang dipakai ulang, bawa tumbler, bawa sendok garpu sendiri, bawa kantong kain dan terakhir konsisten.

Camat Perempuan Ini Dikira Tukang Kebersihan, Dipanggil 3 Kali saat Lewat untuk Membuang Sampah

Camelia menuturkan bahwa webinar yang diprioritaskan kepada anak-anak ini diharapkan anak dapat menjadi agent of change untuk menyebarluaskan kampanye minim sampah dari diri sendiri hingga orang terdekat atau keluarga.

"Mereka ini anak-anak, remaja, dan muda yang penuh ide dan diberi tahu lebih muda untuk kita induksi dan penguatan. Harapannya anak muda yang punya pergaulan yang luas dan mampu bisa juga menyampaikan itu untuk mereka sendiri hingga orang terdekat seperti teman hingga orangtua," ucapnya.(cr13/tri bun-medan.com)

Penulis: Kartika Sari
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved