Breaking News:

Diupah Rp 8000 untuk Satu Karung Pipet, Pekerja Rumahan Harapkan Upah Layak dan Perlindungan

Sedotan ini biasanya digunakan untuk meminum minuman yang ada di dalam gelas berbahan dasar plastik.

TRIBUN MEDAN/SEPTRIMA
TIARA saat dikunjungi oleh Komisi E DPRD Sumut, Dinas Tenaga Kerja Provinsi Sumut, Biro Hukum Setdaprovsu ke lokasi pekerja rumahan di Tanjung Morawa, Kamis (30/7/2020). Demi melindungi tenaga kerja rumahan yang ada di Sumatera Utara, Yayasan Bina Keterampilan Desa (Bitra) Sumatera Utara terus mendorong pemerintah daerah agar membuat Perda yang berkaitan dengan hal tersebut. 

TRI BUN-MEDAN.com, MEDAN - Demi melindungi tenaga kerja rumahan yang ada di Sumatera Utara, Yayasan Bina Keterampilan Desa (Bitra) Sumatera Utara terus mendorong pemerintah daerah agar membuat Perda yang berkaitan dengan hal tersebut.

Perda ini dianggap perlu mengingat hingga saat ini sebagian besar para pekerja rumahan belum mendapatkan hak-hak yang layak.

Salah satunya Tiara, perempuan yang bekerja sebagai pembungkus pipet ini berharap bisa mendapatkan upah yang yang lebih layak dari yang ia terima saat ini. Setiap hari ia bekerja membungkus pipet atau sedotan yang berukuran kecil dan berwarna bening.

Sebanyak 10.000 Tenaga Kerja Rentan Kota Medan Terima Kartu BPJS Ketenagakerjaan

Sedotan ini biasanya digunakan untuk meminum minuman yang ada di dalam gelas berbahan dasar plastik.

"Satu bungkus isinya 24, jadi kami masukkan ke pelastik kecil, lalu di rekatkan dengan setrika yang panas. Dari agen dikasih sedotannya dalam karung plastik. Isinya tujuh kilo, upahnya Rp 8000 per karung," kata Tiara saat dikunjungi oleh Komisi E DPRD Sumut, Dinas Tenaga Kerja Provinsi Sumut, Biro Hukum Setdaprovsu ke lokasi pekerja rumahan di Tanjung Morawa, Kamis (30/7/2020).

Ia mengatakan dalam satu hari hanya mampu membungkus satu karung pipet sejak pagi hingga malam. Itu dia lakukan sembari menjaga anak dan mengurus rumah.

"Satu karung dapat kalau dibantu sama mamak sama adek saya pak. Kalau hanya saya saja enggak siaplah satu karung sehari, paling dapat setengah karung," tuturnya.

Dinas Tenaga Kerja Mencatat Seribuan TKI Asal Sumut Telah Pulang dari Malaysia

Upah Rp 8000 yang ia dapat setiap hari juga belum bersih karena Tiara harus mengeluarkan biaya untuk ongkos becak sebesar Rp 8000 setiap menjemput dan mengantar sedotan plastik ke tempat agen. Selain itu biaya listrik untuk setrika juga ia tanggung sendiri.

"Kalau ngambil bahannya sekali banyak biar enggak sayang ongkosnya. Kami enggak tahu perusahaan apa. Kami hanya ambil bahan dari agen saja," katanya.

Tiara mengatakan, ia awalnya mengambil pekerjaan ini karena ditawari seorang teman yang bekerja membungkus pipet juga.

Dari pada tidak ada pekerjaan, ia memutuskan untuk mengiyakan tawaran tersebut apalagi ia membutuhkan biaya tambahan untuk rumah tangga karena suaminya bekerja sebagai tukang bangunan yang tidak setiap hari menghasilkan uang.

Halaman
123
Penulis: Septrina Ayu Simanjorang
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved