TRIBUN-MEDAN-WIKI: Mengenal Suku Pakpak Asal Sumut
Berdasarkan sejarahnya orang Pakpak berasal dari India Selatan, yaitu dari Indika Tondal ke Muara Tapus dekat Dairi.
Laporan Reporter Tribun Medan/Aqmarul Akhyar
TRIBUN-MEDAN-WIKI.com – Provinsi Sumatera Utara (Sumut) merupakan kawasan yang memiliki kemajemukan suku dan adat.
Satu di antaranya yang harus dikenali ialah suku Pakpak.
Pakpak dimasukkan sebagai salah satu subetnis Batak di samping Toba, Mandailing, Simalungun, dan Karo.
Berdasarkan sejarahnya orang Pakpak berasal dari India Selatan, yaitu dari Indika Tondal ke Muara Tapus dekat Dairi.
Lalu berkembang di Tanah Pakpak dan menjadi Suku Pakpak, Rabu (29/7/2020).
Pada dasarnya mereka sudah mempunyai marga sejak dari negeri asal, namun kemudian membentuk marga baru yang tidak jauh berbeda dengan marga aslinya.
Tidak semua orang Pakpak berdiam di atas Tanah Dairi, namun mereka juga berdiaspora, meninggalkan negerinya dan menetap di daerah baru.
Sebagian tinggal di Tanah Pakpak dan menjadi Suku Pakpak “Situkak Rube,”Sipungkah Kuta” dan “Sukut Ni Talun” di Tanah Pakpak.
Tak sedikit pula yang pergi merantau ke daerah lain, membentuk komunitas baru.
Berdasarkan data sejarah, nenek moyang awal Pakpak adalah Kada dan Lona yang pergi meninggalkan kampungnya di India.
Lalu, terdampar di Pantai Dairi dan terus masuk hingga ke Tanah Dairi.
Dari pernikahan mereka mempunyai anak yang diberi nama Hyang.
Hyang adalah nama yang dikeramatkan di Pakpak.
Hyang pun besar dan kemudian menikah dengan Putri Raja Dairi dan mempunyai 7 orang putra dan 1 orang putri yaitu Mahaji, Perbaju Bigo, Ranggar Jodi, Mpu Bada, Raja Pako, Bata, Sanggar, Suari (Putri).
Pada urutan ke-4 terdapat nama Mpu Bada, yang disebut-sebut terbesar dari pada saudara-saudaranya semua.
Ada dari pihak Batak Toba yang kadang kala mengklaim bahwa Mpu Bada adalah keturunan dari Parna tepatnya dari marga Sigalingging.
Anak sulung, Mahaji mempunyai Kerajaan di Banua Harhar yang mana saat ini dikenal dengan nama Hulu Lae Kombih, Kecamatan Siempat Rube.
Parbaju Bigo pergi ke arah Timur dan membentuk Kerajaan Simbllo di Silaan, saat ini dikenal dengan Kecamatan STTU Julu.
Ranggar Jodi pergi ke arah Utara dan membentuk kerajaan yang bertempat di Buku Tinambun dengan nama Kerajaan Jodi Buah Leuh dan Nangan Nantampuk Emas. Namun, saat ini masuk Kecamatan STTU.
Mpu Bada pergi ke arah Barat melintasi Lae Cinendang lalu tinggal di Mpung Si Mbentar Baju.
Raja Pako pergi ke arah Timur Laut membentuk Kerajaan Si Raja Pako dan bermukim di Sicike-cike.
Bata pergi ke arah Selatan dan menikah kemudian hanya mempunyai seorang putri yang menikah dengan putra keturunan Tuan Nahkoda Raja.
Dari sini menurunkan marga Tinambunen, Tumangger, Maharaja, Turuten, Pinanyungen dan Anak Ampun.
Sanggir pergi ke arah Selatan tapi lebih jauh daripada Bata dan membentuk kerajaan di sana yang dipercaya menjadi nenek moyang marga Meka, Mungkur, dan Kelasen.
Suari menikah dengan putra Raja Dairi dan berdiam di Lebbuh Ntua.
Marga Manik diturunkan oleh Mpu Bada yang mempunyai 4 orang anak yaitu, Tndang, Rea (sekarang menjadi Banurea), Manik, dan Permencuari yang kemudian menurunkan marga Boang Menalu dan Bancin.
Pakpak biasanya dimasukkan sebagai bagian dari etnis Batak, sebagaimana Karo, Mandailing, Simalungun, dan Toba.
Orang Pakpak dapat dibagi menjadi 5 kelompok berdasarkan wilayah komunitas marga dan dialek bahasanya, yakni:
1. Pakpak Simsim, yakni orang Pakpak yang menetap dan memiliki hak ulayat di daerah Simsim. Antara lain marga Berutu, Sinamo, Padang, Solin, Banurea, Boang Manalu, Cibro, Sitakar, dan lain-lain.
Dalam administrasi pemerintahan Republik Indonesia, kini termasuk dalam wilayah Kabupaten Pakpak Bharat.
2. Pakpak Kepas, yakni orang Pakpak yang menetap dan berdialek Keppas. Antara lain marga Ujung, Bintang, Bako, Maha, dan lain-lain.
Dalam administrasi pemerintahan Republik Indonesia, kini termasuk dalam wilayah Kecamatan Silima Pungga-pungga, Tanah Pinem, Parbuluan, dan Kecamatan Sidikalang di Kabupaten Dairi.
3. Pakpak Pegagan, yakni orang Pakpak yang berasal dan berdialek Pegagan. Antara lain marga Lingga, Mataniari, Maibang, Manik, Siketang, dan lain-lain.
Dalam administrasi pemerintahan Republik Indonesia, kini termasuk dalam wilayah Kecamatan Sumbul, Pegagan Hilir, dan Kecamatan Tiga Lingga di Kabupaten Dairi.
4. Pakpak Kelasen, yakni orang Pakpak yang berasal dan berdialek Kelasen. Antara lain marga Tumangger, Siketang, Tinambunan, Anak Ampun, Kesogihen, Maharaja, Meka, Berasa, dan lain-lain.
Dalam administrasi pemerintahan Republik Indonesia, kini termasuk dalam wilayah Kecamatan Parlilitan dan Kecamatan Pakkat (di Kabupaten Humbang Hasundutan), serta Kecamatan Dairi (di Kabupaten Tapanuli Tengah).
5. Pakpak Boang, yakni orang Pakpak yang berasal dan berdialek Boang. Antara lain marga Sambo, Penarik, dan Saraan.
Dalam administrasi pemerintahan Republik Indonesia, kini termasuk dalam wilayah Singkil (Aceh).
Meskipun oleh para antropolog orang-orang Pakpak dimasukkan sebagai salah satu subetnis Batak di samping Toba, Mandailing, Simalungun, dan Karo, namun orang-orang Pakpak mempunyai versi sendiri tentang asal-usul jati dirinya.
Berkaitan dengan hal tersebut sumber-sumber menyebutkan antara lain:
a. Keberadaan orang-orang Simbelo, Simbacang, Siratak, dan Purbaji yang dianggap telah mendiami daerah Pakpak sebelum kedatangan orang-orang Pakpak.
b. Penduduk awal daerah Pakpak adalah orang-orang yang bernama Simargaru, Simorgarorgar, Sirumumpur, Silimbiu, Similang-ilang, dan Purbaji.
c. Dalam lapiken/laklak (buku berbahan kulit kayu) disebutkan penduduk pertama daerah Pakpak adalah pendatang dari India yang memakai rakit kayu besar yang terdampar di Dairi.
d. Persebaran orang-orang Pakpak Boang dari daerah Aceh Singkil ke daerah Simsim, Keppas, dan Pegagan.
e. Terdamparnya armada dari India Selatan di pesisir barat Sumatera, tepatnya di Dairi, yang kemudian berasimilasi dengan penduduk setempat.
Sumber:
- Siahaan, E. K., dkk., Survei Monograpi Kebudayaan Pakpak Dairi di Kabupaten Dairi. Medan: (Medan Proyek Rehabilitasi dan Perluasan Museum Sumatera Utara Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. 1977/1978) h. 67
- Sinuhaji, Tolen dan Hasanuddin, Batu Pertulanen di Kabupaten Pakpak Dairi. (Medan: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara. 1999/2000)
- Bisuk Siahaan, Kehidupan di Balik Tembok Bambu. (Jakarta : Kempala Foundation, 2005), h. 11.
- Lister Berutu, dan Nurbani Padang (ed.) Tradisi dan Perubahan. (Medan: Grasindo Monoratama,2007) h: 3-4.
- Tolen Sinuhaji, dan Hasanuddin, Batu Pertulanen di Kabupaten Pakpak Dairi. Medan: (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara. 1999/2000) h. 16
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/rumah-adat-suku-pakpak-di-kabupaten-dairi.jpg)