Breaking News:

PT KAI Imbau Beri Jarak Rumah Enam Meter, Warga Pinggir Rel Sei Agul Lakukan Pembongkaran Mandiri

Beberapa hari lalu, warga tersebut menerima surat dari PT. KAI yang berisikan agar warga yang berdomisili di pinggir rel untuk membongkar bangunan.

TRIBUN MEDAN/KARTIKA
DOKUMENTASI proses renovasi rumah oleh warga pinggir rel untuk mematuhi imbauan PT. KAI dengan memberikan jarak enam meter dari pinggir rel, Jumat (31/7/2020). 

TRI BUN-MEDAN.com, MEDAN - Sejumlah warga pinggir rel, Jalan Pengayoman Kelurahan Sei Agul, Kecamatan Medan Barat tampak melakukan renovasi rumah dalam bentuk pemunduran bangunan terhadap jarak rel yang berhadapan dengan rumah, Jumat (31/7/2020).

Sebelumnya, beberapa hari lalu, warga tersebut menerima surat dari PT. KAI yang berisikan agar warga yang berdomisili di pinggir rel untuk membongkar bangunan sesuai jarak dari rel yaitu enam meter dengan waktu paling lambat tanggal 27 Juli 2020.

Seorang Pemuda Misterius Tinggalkan Emas Batangan Senilai Rp 2,7 Miliar di Gerbong Kereta Api

Mengenai pemberitahuan tersebut, warga tidak melakukan perlawanan dan patuh dengan melakukan renovasi, diantaranya ada Boru Silitonga yang tampak mengaduk semen untuk renovasi rumahnya.

Ibu satu anak ini mengungkapkan bahwa ia sendiri belum tahu pasti apakah akan tetap dilakukan penggusuran ke depannya, ia sendiri patuh terhadap surat tersebut dengan melakukan renovasi pemunduran depan rumahnya.

"Ini kita belum tahu pasti akan digusur atau tidak. Cuma ini kita jaga-jaga, karena orang pihak kereta api suruh mundur ya kita mundur. Belum tahu lah ini pastinya gimana. Kalau dari pihak PT. KAI minta mundur enam meter dari rel supaya ada jalan. Ini kami mundur satu meterlah biar ada jalan. Inikan kita harus ikuti peraturan, kalau tidak ya bakal ngeri lagi kan. Harus ikuti peraturan yang mana bagusnyalah," ungkap Silitonga kepada Tri bun Medan.

KERETA API BANDARA Medan - Kualanamu Kembali Layani Penumpang per 1 Agustus 2020

Dalam melakukan renovasi pemunduran rumah ini, boru Silitonga dan keluarga menggunakan biaya pribadi dan melakukan pembongkaran secara mandiri.

"Kita tidak ada terima biaya renovasi dari PT. KAI, kalau ada ya enak kalilah kita terbantu. Apalagi keadaan Corona seperti ini ya pening juga.

Kalau biaya peluncuran ini sudah habis lumayanlah, ini beli semen dan batu saja tidak kemana Rp 1 juta. Inipun suami yang kerjakan, sempat kita pakai jasa orang mau habis berapa lagi coba. Ya semua habis ke situ, belum lagi biaya harian lainnya," ujarnya.

Boru Silitonga ini menuturkan bahwa ia dan keluarga sudah mulai melakukan pembongkaran sendiri sejak seminggu lalu. Ia berharap dengan pembongkaran yang cukup menguras biaya ini, ia dan keluarga dapat tinggal secara permanen.

Penumpang Kereta Api Jarak Jauh Naik 262 Persen

"Sudah adalah seminggu lebih pengerjaan sepanjang rel ini. Daripada kita diusir secara paksa ya bagus kita kerjakan saja. Harapannya jangan ada hal seperti ini lagilah, kita berharap bisa menetap tinggal di sini. Kalau digusur kita mau kemana lagi. Sudah habis juga uang untuk renovasi ini kan. Kita berharap bisa menetaplah di sini," ucapnya.

Halaman
12
Penulis: Kartika Sari
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved