Dilema Penerapan Cuci Tangan Masa Pandemi Covid-19 di Desa Aek Banir

Air yang merupakan sumber kehidupan bagi setiap makhluk hidup terutama manusia. Tanpa air manusia tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari

Editor: Ismail
TRIBUN MEDAN/HO
Ilustrasi mengambil air 

Oleh : Nurul Izzah Mardaniah Lubis (KKN DR-65 UINSU)

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Tahun 2020 menjadi salah satu tahun sendu di seluruh dunia, termasuk Negara Indonesia yang ikut merasakannya. Dimana Covid-19 menjadi problema besar, yang setiap orang dapat terinfeksi virusnya.

Berbagai cara dilakukan dalam mencegah terjadinya infeksi virus corona ini, salah satunya adalah dengan menerapkan “cuci tangan enam kali sehari” terlebih lagi penerapan untuk mengkonsumsi makanan sehat seperti buah dan sayur, serta meghindari tempat-tempat keramaian.

Air yang merupakan sumber kehidupan bagi setiap makhluk hidup terutama manusia. Tanpa air manusia tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik. Seperti halnya keperluan rumah tangga yaitu untuk  air minum, keperluan memasak, mandi, mencuci dan berbagai keperluan lainnya.

Air bersih yang menjadi kebutuhan dasar manusia yang digunakan sehari-harinya memiliki peran penting bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Dan permasalahan air bersih bersifat urgen  dalam kehidupan, terutama untuk kesehatan manusia, dan untuk terhindar dari berbagai penyakit.

Namun, pada kenyataannya tidak sedikit daerah yang masih kekurangan bahkan kesulitan memperoleh air bersih. Hal inilah yang dihadapi oleh suatu daerah di Indonesia yang berada di Sumatera Utara, Panyabungan, tepatnya di desa Aek Banir.

Desa Aek Banir berada diantara dua kecamatan yaitu kecamatan Tambangan dan Panyabungan tepatnya diantara desa Simangambat dan Sipapaga. Desa Aek Banir  saat ini tergolong sudah memasuki dan mengikuti perubahan zaman, baik dari segi kebutuhan maupun keinginan. Namun, yang menjadi topik pembahasan disini adalah “mengapa desa Aek Banir masih sulit mendapatkan Air Bersih?”.

Pada dasarnya, pusat sumber air bersih di desa Aek Banir ini berada paling bawah dari posisi letak tanah pemukimannya, sehingga sangat sulit untuk dijangkau oleh masyarakat di desa itu. Namun yang sangat disayangkan, masyarakat desa Aek Banir ini masih bersikap acuh tak acuh dalam mengoptimalkan penyaluran sumber air bersih di desa Aek banir itu sendiri.

Terbukti bahwa sampai saat ini saluran air bersih masih sedikit di desa Aek Banir, dimana masyarakat masih memanfaatkan sumur air yang tanpa pembangunan yang baik, begitu juga dengan penjelasan dari beberapa masyarakat desa Aek Banir yang mengatakan bahwa tidak sedikit warga desa Aek Banir itu yang mendatangi desa tetangganya yang memiliki aliran sungai atau sumber air bersih yang lebih luas demi keperluan mandi, mencuci pakaian dan juga untuk keperluan air minum.

Selain melihat pada kecilnya kesadaran masyarakat di desa Aek Banir akan pentingnya sumber air bersih yang tetap, terlebih di masa pandemi Covid-19 ini, terlihat juga bahwa pemerintahan yang menaungi daerah Aek Banir dan pemerintahan diatasnya juga tidak begitu berperan aktif dalam mengusahakan dan mengadakan sumber air bersih di desa ini.

Hal inilah yang semestinya menjadi fokus perhatian pemerintah baik pemerintah setempat maupun pemerintah pusat. Karena merujuk pada cita-cita nasional negara Indonesia yaitu “kesejahteraan sosial”, baik dalam bidang pendidikan maupun dalam pemenuhan kebutuhan.

Jika dilihat pada tataran sifat masyarakat dan pemerintahan, akan menimbulkan istilah “saling keterkaitan”. Dimana pemerintah dalam menjalankan pemerintahannya tidak terlepas dari ikut campur masyarakat, baik dalam menerima aturan, mengkritik, maupun memberi saran kepada pemerintah. Begitu juga sebaliknya, masyarakat dalam menjalani kehidupan sehari-hari tentunya membutuhkan yang namanya aturan dan yang mengaturnya yaitu pemerintah.

Pemerintah menganjurkan seluruh warga Indonesia untuk melakukan cuci tangan minimal enam kali sehari, mengkonsumsi makanan dan minuman sehat, yang hal ini tidak akan terlepas dari penggunaan air bersih demi tujuan pencegahan penyebaran Covid-19.

Kemudian, bagaimana mungkin hal ini tercapai ketika pemerintah sendiri tidak memaksimalkan sumber air bersih kepada warga masyarakat yang kekurangan air bersih itu sendiri.

Melihat hal ini, maka pemerintah dengan alasan tersebut tidak dibenarkan untuk memberikan kritik, tuntutan wajib maupun sanksi kepada masyarakat khususnya desa Aek Banir yang tidak mengindahkan peraturan pemerintah untuk mencuci tangan sesuai anjuran yang diterapkan tersebut. dikarenakan masyarakat itu sendiri masih kekurangan air bersih.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved