Breaking News:

Bocah 7 Tahun Jadi Korban Pencabulan Om-om Usia 58 Tahun di Simalungun

Polres Simalungun telah mendalami kasus pencabulan yang terjadi terhadap bocah berusia tujuh tahun, berinisial RS.

Penulis: Alija Magribi
Editor: Juang Naibaho
Int
Ilustrasi 

Laporan Wartawan Tribun Medan / Alija Magribi

TRIBUN-MEDAN.com, RAYA - Polres Simalungun telah mendalami kasus pencabulan yang terjadi terhadap bocah berusia tujuh tahun, berinisial RS.

RS diduga mendapat pelecehan seksual oleh tetangganya yang telah berumur lanjut.

Kasat Reskrim Polres Simalungun AKP Jerico Levian Chandra membenarkan kasus ini telah ditangani timnya. Ia menyampaikan pelaku berusia 58 tahun, telah ditahan.

"Iya benar. Pelaku saat ini sudah dilakukah penahanan, ya," ujar Jerico, Selasa (22/9/2020) tanpa menyebut pasal yang disangkakan dari kasus ini.

Di kesempatan terpisah, kuasa hukum korban, Imran Silalahi menyampaikan kasus ini terjadi pada pertengahan Agustus 2020.

Kediaman korban dan tersangka berada di Kecamatan Sidamanik, Kabupaten Simalungun.

Korban sendiri sempat menutupi kasus ini dari keluarga. Namun gelagat korban dan teman-temannya tak bisa ditutupi.

Kabar dari mulut ke mulut yang menyatakan korban mendapat perlakuan tak senonoh akhirnya sampai ke telinga orangtua.

"Awalnya korban disuruh orangtuanya membeli permen untuk dibawa ke gereja. Namun di saat itu korban ditarik pelaku ke dalam ruangan dan melakukan pencabulan. Saat ini korban dalam keadaan trauma apalagi korban dengan rumah pelaku sangat berdekatan," katanya.

"Orangtua korban juga sempat bertanya karena lama-kelamaan korban berjalan tidak biasanya. Dan sekarang ini korban butuh pemulihan secara psikologi. Korban sangat trauma, sampai-sampai takut melihat laki-laki," ucapnya.

Masalah ini sendiri telah ditangani polisi setelah dilaporkan di Polres Simalungun, tanggal 17 September 2020 dan pelaku berinisial PS sendiri pun sudah ditangkap tanggal 18 September sesuai Surat Tanda Penerimaan Laporan dengan Nomor : STPL/145/IX/2020/SU/SIMALUNGUN.

Sesuai hasil visum, korban mengalami masalah kesehatan dan butuh dana untuk berobat.

"Kita pun lagi mencoba mencari jalan bagaimana korban dapat ditangani secara medis dan pemulihan kejiwaannya. Sementara orangtuanya tidak punya uang," pungkasnya.

(Alj/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved