Niesya Ridhania Harahap, Penyanyi Muda Asal Medan yang Telah Rilis 4 Single

MEMUTUSKAN memulai karir sebagai solois di industri musik Tanah Air pada Februari 2020, kini Niesya Ridhania Harahap sudah mengeluarkan empat single.

Tayang:
HO
Niesya Ridhania Harahap 

 MEMUTUSKAN memulai karir sebagai solois di industri musik Tanah Air pada Februari 2020, kini Niesya Ridhania Harahap atau akrab dipanggil Icha sudah mengeluarkan empat single.

Penyanyi muda berbakat asal Medan ini berharap bisa mengeluarkan album pertamanya pada 2021 mendatang.

Meski baru memasuki industri tahun ini, musik bukanlah hal yang asing untuk Icha. Ia mewarisi darah seni dari kedua orang tuanya yang juga merupakan musisi dan dosen di Jurusan Etnomusikologi Universitas Sumatera Utara.

Di tahun 2020, Niesya mulai mengeluarkan single yang berjudul Gundah dengan genre Pop Orchestra. Single keduanya bertajuk Kepergianmu dengan Genre Pop Akustik. Menyambut kemerdekaan ke 75, Niesya merilis single Aku Melihat Indonesia pada Agustus 2020 yang bergenre Pop Folk dan single yang baru saja dikeluarkan berjudul Keraguan dengan Genre Latin Jazz dengan Brazillian Samba.

"Semua single aku memang genrenya beda. Saat ini aku sedang ingin eksplore genre musik. Sebelum mengeluarkan album kan aku ingin merilis single dulu dan juga aku mau lihat dulu bagaimana publik merespon," katanya.

Icha mengatakan, ia suka semua genre dari keempat singlenya. Diakuinya beberapa genre masih awam di industri musik tanah air, meski begitu ia bersyukur masih menerima respon yang positif untuk semua singlenya. Untuk saat ini, ia juga tidak terlalu terpaku dengan selera pasar saat akan merilis lagu terbaru.

"Membaca selera pasar paling untuk aku lihat misalnya dari keempat laguku, single pertama yang paling banyak didengar. Berarti orang suka yang musiknya gitu. Bukan yang aku lihat tangga lagu teratas lalu aku ikutin musiknya, enggak gitu sih," katanya.

Ia mengatakan kebanyakan singlenya berkisah tentang percintaan kecuali single ketiga yang lebih bertema nasionalisme yang diadaptasi dari puisi Presiden Soekarno berjudul serupa. Proses penciptaan semua singlenya kebanyakan ia lakukan sendiri. Kecuali aransemen musik yang kadang melibatkan musisi lainnya.

"Dari semua single ku untuk lirik dan melodi kebanyakan aku yang mengerjakan. Tapi untuk aransemen musik dibantu oleh papa. Lalu khusus lagu pertama aku berkolaborasi Adra Karim dan single keempat aku kerja sama dengan temanku dari Amerika," katanya.

Ke depan ia berencana akan mengeluarkan album setelah merampungkan beberapa single. Ia mengatakan era digital ini merupakan saat yang tepat jika ingin masuk ke belantika musik tanah air. Digitalisasi membuat musisi jadi lebih bebas, bahkan ia yang tinggal di daerah pun bisa masuk ke industri musik tanah air tanpa harus bergabung dengan label.

"Kalau menurut aku sekarang karena dunianya dunia digital, kita jadi lebih bebas. Aku sendiri sampai sekarang enggak tergabung dalam label. Jadi semuanya itu aku urus sendiri. Belajar cara-caranya semuanya dari Google. Gimana cara pendistribusian musik, alurnya gimana, dan itu semua ada di google. Aku ikutin instruksinya," ujarnya.

Semua lagu Icha sudah bisa didengarkan di platform musik digital seperti Spotify, Joox, dan lain sebagainya. Bahkan official music video untuk single pertama dan keempat sudah bisa disaksikan di YouTube.

Icha mengatakan dari single pertama responnya cukup baik dan masuk ke Playlist di Spotify seperti “New Music Friday Indonesia”, “Musik Akhir Pekan”, “Generasi Galau” dan Playlist dari Ami Awards yaitu “Musik Minggu Ini” dan “Dirumah Sajalah”, serta berbagai playlist personal lainnya.

"Aku merasa walaupun secara nasional namaku belum terkenal, tapi kurator musik itu masih objektif dalam menilai. Mereka lebih melihat musiknya, kalau memang berkualitas akan dimasukkan ke playlist. Nah itu aku senang banget karena ternyata mereka enggak hanya melihat dari popularitas," katanya

"Jadi aku merasa, sekarang saatnya kalau anak-anak muda yang kreatif mau berkarya. Ini saat yang tepat karena kita enggak harus terpatok sama harus ada label, atau harus pindah ke ibu kota. Bahkan beberapa musisi yang sedang hits di tanah air memproduseri musiknya sendiri," katanya.

Ia mengatakan untuk ada industri musik saat ini yang paling penting adalah menjadi autentik dan memiliki ciri khas tersendiri.

"Autentik dalam artian saat orang dengar mereka tahu siapa yang bernyanyi bisa dari suaranya atau bahkan gaya bermusiknya. Itu menurutku paling penting. Aku juga ingin saat aku menyanyi orang langsung tahu itu Niesya," katanya.

Bagi Icha penting untuk menjadi diri sendiri dan tidak meniru orang lain. Karena kepercayaan diri sangat dibutuhkan dalam industri ini. Selain itu harus mau berjuang dan berusaha dari nol.

"Karena enggak ada sesuatu hal yang langsung besar, ada tahapannya. Kan enggak mungkin langsung terkenal. Bisa juga menjadikan orang lain sebagai refrensi, melihat bagaimana orang mencapai sesuatu dalam hidupnya. Apalagi sekarang informasi sudah terbuka sekali, jadi kita bisa mandiri, walaupun kita enggak ada label, gak punya koneksi di dunia entertainment, ya enggak masalah," katanya.

Ia berpesan bagi anak muda yang ingin juga memulai karir di dunia musik untuk mulai dari yang dimiliki, berusaha dan jangan langsung ragu ketika baru mengeluarkan lagu.

"Karena kita enggak pernah tahu lagu apa yang bisa jadi hits jadi yakin lah sama diri sendiri. Selain itu penting untuk konsisten, kadang kita merasa kok gini gini aja, kok enggak menemukan pasarnya. Tapi kita enggak pernah tahu percobaan ke berapa yang berhasil. Misalnya kita udah mencoba lima kali, siapa tahu percobaan keenam yang bisa membuat kita sukses dan terkenal. Jadi konsisten saja," tuturnya. (sep)

Perjalanan Bermusik

Perempuan kelahiran 1996 ini bercerita, ia sudah sering ikut lomba sejak TK hingga SMA. Selain itu, sejak dulu ia sudah mengikuti les musik dan juga balet.

"Dulu waktu masih SMA di Harapan I Medan aku bersama teman-teman bikin band yang dinamai Niesya Bertiga. Sempat menjuarai berbagai pentas seni dan perlombaan band. Pernah juga tampil di showcase North Sumatra Jazz Festival pada tahun 2013," katanya.

Saat menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi USU Medan, ia juga turut berpartisipasi dalam berbagai even musik kampus sebagai penyanyi di ansambel angklung Psychestra Harmony di berbagai acara di dalam dan luar kampus. Saat itu juga, Niesya banyak belajar berbagai genre musik khususnya dalam keterlibatannya dengan kelompok world music Suarasama dan musik tradisi Batak Mataniari.

Bersama kelompok Suarasama dan Mataniari, Niesya aktif sebagai penyanyi dan penari dan telah tampil pada acara musik dunia, seperti Kongres Kebudayaan Indonesia 2018 di Jakarta, Frankfurt Book Fair 2015 di Jerman, Pasar Hamburg di Jerman tahun 2015 dan 2017, Festival Europalia di Belgia, Belanda dan German.

Niesya bersama grup Mataniari juga ikut dalam tur pertunjukan Beyond Europalia di lima kota di Spanyol pada tahun 2017. Sejak 2018, Niesya mengembangkan projek Solo yang dimulainya dengan membangun karir sebagai cover singer dan vlogger lewat situs youtube yang dikelolanya sendiri dengan nama Niesya Official.

Saat ini ia tengah menggarap single terbaru dan sedang melanjutkan studi S2 di Psikologi Universitas Indonesia departemen Psikologi Sosial Sains.

Di bidang akademis, Niesya aktif mengikuti forum-forum ilmiah. Di tahun 2019 Niesya telah mempresentasikan makalah di forum Internasional 10th International Conference of Indigenous and Cultural Psychology dengan makalah yang berjudul Instilling Religious Knowledge and Practice As A Way To Prevent Deprivation Among Parmalim People As An Indigenous Religion Minority Group In Indonesia.

Pada tahun 2021, Niesya juga akan mempresentasikan makalah ilmiahnya di Forum Ilmiah “32nd International Congress of Psychology” di Praha, Republik Ceko.

(sep)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved