TRIBUN-MEDAN-WIKI: Menilik 7 Rumah Adat di Sumut
Di Sumatera Utara terdapat beberapa rumah adat suku mulai Batak Toba, Pakpak, Simalungun, Mandailing, Nias, Karo, dan Melayu.
Laporan Reporter Tribun Medan/Aqmarul Akhyar
tRIBUN-MEDAN-WIKI.com - Berbagai suku di Tanah Air punya rumah adat dengan ciri khas yang berbeda. Di Sumatera Utara terdapat beberapa rumah adat suku mulai Batak Toba, Pakpak, Simalungun, Mandailing, Nias, Karo, dan Melayu.
Sebagai indentitas dari suatu suku maupun daerah, simaklah 7 rumah adat di Sumut sebagai berikut.
1. Rumah Adat Suku Batak Toba
Rumah adat Batak Toba di daerah Sumut namanya Rumah Bolon atau sering disebut dengan Rumah Gorga.
Rumah ini menjadi simbol keberadaan masyarakat Batak yang hidup di daerah tersebut.Rumah bolon biasanya dapat ditempati lima sampai enam keluarga.
Di rumah ini bisa melihat ada banyak hiasan ukiran khas Batak, seperti ornamen yang biasanya dilambangkan sebagai tanda penolak bala (bahaya, penyakit, dan lainnya). Ornamen ini sering disebut dengan Gorga.
Ukiran ornamen tersebut sering dibubuhkan pada dinding rumah bagian luar, yaitu di atas pintu yang berupa lukisan berwarna merah, hitam, dan putih.
Bentuknya ada beberapa jenis, seperti bentuk cicak, ular, atau kerbau dan ketiganya memiliki makna tertentu.
Gorga yang dilukis dengan bentuk cicak memiliki arti bahwa orang Batak mampu bertahan hidup di manapun dia berada, meskipun dia sedang merantau di daerah yang sangat jauh.
Orang Batak juga diharapkan dapat memelihara rasa persaudaraan yang kuat dan tidak terputus jika bertemu dengan sesama sukunya, meski berada di daerah lain, yang bukan daerah asal mereka.
Bentuk ornamen ular pada rumah terkait dengan kepercayaan masyarakat zaman dulu.
Menurut mereka, rumah yang dimasuki oleh ular menandakan bahwa penghuninya akan mendapatkan berkah yang berlimpah.
Nah, kalau makna gorga dengan bentuk kerbau adalah sebagai ucapan terima kasih atas kerja keras kerbau yang telah membantu manusia dalam mengerjakan ladang pertanian.

2. Rumah Adat Pakpak
Rumah adat Pakpak memiliki bentuk yang khas yang dibuat dari bahan kayu dengan atap dari bahan ijuk.
Setiap bentuk desain dari bagian-bagian Rumah Adat Pakpak tersebut memiliki arti tersendiri.
Jika diteliti dengan cermat dan diketahui maknanya, maka cukup dengan melihat rumah adat Pakpak akan bisa mendeskripsikan bagaimana Suku Pakpak berbudaya.
Bentuk dan Arti Rumah Adat Pakpak Sumatera Utara seperti Bubungan atap yakni bentuk melengkung, dalam bahasa daerah Pakpak-Dairi disebut “Petarik-tarik Mparas ingenken ndengel”.
Dengan artinya “Berani memikul resiko yang berat dalam mempertahankan adat istiadat”. Tampuk bubungan yang bersimbolkan “Caban”, artiny “Simbol kepercayaan Puak Pakpak”
Tanduk kerbau yang melekat dibubungan atap, artinya “Semangat kepahlawanan Puak Pakpak”.
Bentuk segitiga pada Rumah Adat Pakpak Sumatera Utara, artinya menggambarkan susunan adat istiadat Puak Pakpak dalam kekeluargaan yang terbagi atas tiga bahagian atau unsur besar sebagai berikut.
SENINA, adalah saudara kandung laki laki, BERRU, adalah saudara kandung perempuan, PUANG”, adalah kemenakan.
Dua buah tiang besar disebelah muka rumah “Binangun”, artinya “Kerukunan rumah tangga antara suami istri”.
Satu buah balok besar yang dinamai “Melmellon” Rumah Adat Pakpak Sumatera Utara yang melekat disamping muka rumah, menggambarkan “Kesatuan dan Persatuan dalam segala bidang pekerjaan melalui musyawarah, atau lebih tepat disebut “Gotong royong”.
Ukiran-ukiran yang terdapat pada segitiga muka Rumah Adat Pakpak Sumatera Utara yang bentuknya bermacam macam corak, dalam bahasa daerah Pakpak disebut Perbunga Kupkup, Perbunga kembang, Perbunga Pancur, dan sebagainya yang menggambarkan bahwa puak Pakpak pun berdarah dan berjiwa seni.
Tangga Rumah Adat Pakpak Sumatera Utara yang biasanya terdiri dari bilangan ganjil, 3 (tiga), 5 (lima) dan 7 (tujuh), menggambarkan bahwa penghuni rumah itu adalah keturunan raja (marga tanah), sebaliknya yang memakai tangga rumah genap, menandakan bahwa penghuni rumah tersebut bukan keturunan marga tanah (genengen).

3. Rumah Adat Simalungun
Rumah adat simalungun berbentuk panggung dengan lantai yang sebagian disangga balok-balok besar berjajar secar horizontal bersilangan. Balok-balok ini menumpu pada pondasi umpak.
Dinding rumah agak miring dan memilliki sedikit bukaan/jendela. Atapnya memilliki kemiringan yang curam dengan bentuk perisai pada sebagian besar sisi bawah, sedang sisi atas berbentuk pelana dengan gevel yang miring menghadap ke bawah. Pada ujung atas gevel biasanya dihiasi dengan kepala kerbau.
Tanduknya dari kerbau asli dan kepalanya dari injuk yang dibentuk. Bagian-bagian konstruksi Rumah Adat Batak Simalungun Bolon diukir, dicat serta digambar dengan warna merah, putih dan hitam.
Selain sarat dengan nilai filosofis, ornamentasi rumah memiliki keunggulan dekoratif dalam memadukan unsur alam dan manusia dengan unsur geometris.
Rumah Adat Batak Simalungun Bolon menyampaikan sebuah ungkapan pertemuan masyarakat dapat dimunculkan dengan bentuk geometri segi empat yang ditengahnya diberi lingkaran lalu diberi corak ragam hias manusia beruang berkeliling lingkaran.
Menyampaikan sebuah ungkapan hubungan dua manusia ditampilkan dengan bentuk geometri kotak melambangkan dekorasi badan manusia di mana bagian atas dan bawahnya diberi kepala dalam posisi berlawanan arah.
Corak ragam ornamen Rumah Adat Batak Simalungun Bolon ini selalu berulang, melalui proses tradisi turun temurun, berkembang dan berpadu saling melengkapi dengan bentuk dekorasi lain.
Masyarakat Batak Simalungun mempercayai adanya kekuatan roh halus, membedakannya dari yang baik dan jahat. Untuk menolak yang jahat agar tidak mengganggu penghuni Rumah Adat Batak Simalungun Bolon juga diwujudkan dengan ornamentasi konstruksi rumah dengan bentuk tertentu.

4. Rumah Adat Mandailing
Rumah Adat Batak Mandailing disebut sebagai Bagas Godang sebagai kediaman para raja, terletak disebuah kompleks yang sangat luas dan selalu didampingi dengan Sopo Godang sebagai balai sidang adat. Bangunannya mempergunakan tiang-tiang besar yang berjumlah ganjil sebagaimana juga jumlah anak tangganya.
Bangunan arsitektur tradisional Rumah Adat Batak Mandailing adalah bukti budaya fisik yang memiliki peradaban yang tinggi.
Sisa-sisa peninggalan arsitektur tradisional Batak Mandailing masih dapat kita lihat sampai sekarang ini dan merupakan salah satu dari beberapa peninggalan hasil karya arsitektur tradisional bangsa Indonesia yang patut mendapat perhatian dan dipertahankan oleh Pemerintah dan masyarakat baik secara langsung baik tidak langsung.
Bagas Godang merupakan rumah berarsitektur Mandailing dengan konstruksi yang khas. Berbentuk empat persegi panjang yang disangga kayu-kayu besar berjumlah ganjil. Ruang terdiri dari ruang depan, ruang tengah, ruang tidur, dan dapur. Terbuat dari kayu, berkolong dengan tujuh atau sembilan anak tangga, berpintu lebar dan berbunyi keras jika dibuka.
Kons

truksi atap berbentuk tarup silengkung dolok, seperti atap pedati. Satu komplek dengan Bagas Godang terdapat Sopo Godang, Sopo Gondang, Sopo Jago, dan Sopo Eme. Keseluruhan menghadap ke Alaman Bolak.
5. Rumah Adat Nias
Rumah adat Nias adalah rumah panggung yang bahasa Nias disebut Omo Hada.
Pada umumnya rumah adat Nias seperti yang terdapat di desa Mandrehe Kecamatan Mandrehe Kabupaten Nias Barat masih utuh dan terpelihara namun belum terdaftar sebagai cagar budaya.
Rumah adat ini terletak di jalan Raya Olimbu Lahomi arah menuju ke situs megalitik Balano Laina yang jaraknya sekitar 1 km sebelum tiba di situs.
Rumah suku Nias ini terlihat saat tim BPCB Aceh melaksanakan monitoring ke situs megalitik Balano Laina akhir Desember 2019.
Di desa ini terdapat 2 buah rumah adat yang bentuknya hampir sama, dan hingga kini belum ada perubahannya, Jarak rumah adat tersebut antara satu dengan yang lainnya sekitar 300 meter.
Rumah adat suku Nias ini sudah berumur lebih kurang 200 tahun dan sangat unik. Bentuknya pun bulat telur dengan denah 12x10 meter, rumah bentuk panggung yang berdiri di atas tiang-tiang dengan ketinggian 1,5 m, memiliki satu tangga menghadap ke timur, dinding papan dan atap rumbia.
Secara geografis terletak pada titik koordinat 1°01’32.1"N 97°29’05.0"E. Menurut informasi masyarakat setempat, rumah ini adalah rumah suku Nias yang ditempati oleh keturunannya.

6. Rumah Adat Karo
Rumah adat Karo terkenal kerena keunikan teknik bangunan dan nilai sosial budayanya.
Rumah adat Karo memiliki konstruksi yang tidak memerlukan penyambungan. Semua komponen bangunan seperti tiang, balok, kolam, pemikul lantai, konsol, dan lain-lain tetap utuh seperti aslinya tanpa adanya melakukan penyurutan atau pengolahan.
Pertemuan antar komponen dilakukan dengan tembusan kemudian dipantek dengan pasak atau diikat menyilang dengan ijuk untuk menjauhkan rayapan ular.
Bagian bawah, yaitu kaki rumah, bertopang pada satu landasan batu kali yang ditanam dengan kedalam setengah meter, dialasi dengan beberapa lembar sirih dan benda sejenis besi.
Rumah adat Karo berbentuk panggung dengan dinding miring dan beratap ijuk. Letaknya memanjang 10-20 m dari timur ke barat dengan pintu pada kedua jurusan mata angin itu.
Posisi bangunan rumah adat karo biasanya mengikuti aliran sungai yang ada di sekitar desa. Pada serambi muka semacam teras dari bambu yang disusun yang disebut ture.
Biasanya membangun rumah, orang Karo mengadakan musyawarah dengan teman satu rumah mengenai besar, tempat, dan hal lainnya. Waktu membersihkan dan meratakan tanah ditentukan oleh guru (dukun) untuk mendapatkan hari yang baik.
Ketika akan menggambil kayu ke hutan mereka menanyakan hari yang baik untuk menebang pohon kepada guru. Sebelum menebang kayu, guru akan memberi persembahan penjaga hutan agar jangan murka kepada mereka karena kayu itu dipakai untuk membangun rumah.
Dalam proses pembangunan mulai dari peletakan alas rumah selalu ada ritual yang dibuat agar pembangunan rumah tersebut diberkati oleh Yang Maha Kuasa agar tidak terjadi hal hal yang buruk.
Setelah rumah selesai dibangun masih ada ritual yang diadakan. Guru dan beberapa sanak keluarga yang membangun rumah akan tidur di rumah baru sebelum rumah itu ditempati.
Mereka akan mempimpikan apakah rumah tersebut baik untuk dihuni maupun tidak. Waktu memasuki rumah baru biasanya diadakan kerja mengket rumah baru (pesta memasuki rumah baru). Pesta ini menunjukkan rasa syukur atas semua batu tersebut kepada saudara-saudara dan kepada Yang Maha Kuasa.

7. Rumah Adat Melayu
Hampir semua Rumah adat Melayu di Indonesia memiliki kesamaan. Satu di antaranya rumah adat suku Melayu Deli, sama seperti suku Melayu lainnya, berdiri di atas tiang-tiang setinggi kurang lebih 2 meter dari atas tanah.
Pada masa lalu, orang Melayu membangun rumah adatnya berbentuk rumah pangung dan rumah lumbung.
Rumah panggung pada zaman dahulu, bukan dipakai manusia untuk tempat hunian. Melainkan, untuk tempat menyimpan bahan makanan (lumbung/logistik area).
Namun, karena perkembangan dan perubahan zaman, sangat berdampak kepada pola hidup manusia yang dari nomaden (berpindah-pindah), menjadi menetap. Maka wajar saja fungsi lumbung itu menjadi panggung.
Pada jurnal bertajuk Rumah Melayu Cindai Model Rumah Panggung Bercirikan Seniukir Ornamen Melayu Deli, Azmi mengatakan karena di masa lalu nenek moyang bangsa Melayu dapat tinggal di mana saja (alam terbuka).
Misalnya, dapat tinggal di hutan, atas batu/pasir/rawa. Bahkan, di tebing yang curam dekat dengan rimba rotan, hingga terowongan dalam tanah.
Hal ini karena pada saat itu, nenek moyang bangsa Melayu mencari tanah yang subur dan hutan serta sumber air.
Oleh sebab itu, pada masa dahulu nenek moyeng bangsa Melayu membuat rumah atau lumbung/panggung, alasannya bisa dibawa pindah (bongkar pasang).
Hal ini terjadi, Orang Bangsa Melayu dahulu memiliki prinsip hidup bisa bebas di mana saja.
Namun, untuk soal bekal (logistik) harus selalu aman dan selamat yang diletakkan di lumbung.
Akan tetapi pada saat ini manusia sudah memilih tempat tinggal, seburuk-buruknya hunian, pastilah memikirkan tanah untuk membangun tempat menetap, dan menyimpan perbekalan (lumbung) pangannya.
Setidaknya tempat menyimpan bahan pangan, berlindung dari gangguan penyakit (hama), hewan liar dan juga iklim (cuaca). Lanjutnya, Azmi, menyampaikan maka wajar pada masa lalu, ada yang beranggapan rumah Melayu dahulu, berdiri karena antisipasi efek dari fauna dan alamiah (gempa dan banjir). Kemudian, dalam buku Arsitektur dan Sosial Budaya Sumatera Utara, Julaihi Wahid dan Bhakti Alamsyah mengatakan, arsitektur rumah Melayu merupakan bangunan yang dirancang berbentuk rumah tempat kediaman atau rumah tinggal.
Karena, rumah merupakan hasil cara hidup masyarakat Melayu yang berpegang pada nilai keluarga, adat, agama dan masyarakat banyak. Jadi sangat wajar konsep bangunan Melayu harus dirujukkan kepada rancang bangun yang diamalkan oleh masyarakat penggunanya.

Secara umum rumah Melayu menggambarkan seni pertukangan kayu yang handal dalam olah lantai, panggung, tiang dan tangga. Rupa, bentuk, besaran dan kekayaan penghuni dilambangkan dalam tatanan rumah yang didirikan.
Bangunan rumah adat Melayu juga didirikan dengan menggunakan berbagai jenis kayu. Ada beberapa contoh ciri-ciri bangunan Melayu yang menerapkan ornamen Melayu.
Seperti, Motif Bidai Susun I untuk rumah orang biasa, Motif Bidai Susun II untuk rumah bangsawan, Motif Bidai Susun III untuk rumah Raja atau Istana, dan Motif Sayap Latang untuk rumah penduduk biasa.
Selanjutnya, rumah adat Melayu Deli ini memiliki design yang unik dengan gaya artistektur yang khas. Selain itu, rumah adat tersebut identik dengan warna kuning dan hijau. lalu bentuk rumah panggunggnya pun terdiri dari lantai dan dinding yang terbuat dari papan kayu, serta, atap yang terbuat dari ijuk.
Sumber:
- Kementerian Pendidikan dan Kebudayan
- Jurnal bertajuk Rumah Melayu Cindai Model Rumah Panggung Bercirikan Seniukir Ornamen Melayu Deli, Azmi, di Universitsa Negeri Medan
- Buku Arsitektur dan Sosial Budaya Sumatera Utara karya, Julaihi Wahid dan Bhakti Alamsyah (2013 – Yogyakarta)
(cr22/tribun-medan.com)