Warga Titi Papan Demo Blokir Jalan
Warga Medan Deli Ungkap Seng Pernah Terbang Akibat Helikopter Pabrik, Pernah Ada Tawaran Jual Rumah
Di tengah permukiman warga Lingkungan XIV, Ratna juga begitu resah adanya helikopter milik PT. MM yang membuat atap rumahnya sempat terbang.
Tri bun-Medan.com, Medan - Aksi Ratna, warga Jalan Platina III, Kelurahan Titipapan, Kecamatan Medan Deli untuk menaiki bumper depan truk PT. MM bukan hanya emosi sesaat saja.
Amatan Tri bun Medan, Senin (5/10/2020) saat puluhan personel menertibkan warga, Ratna dengan cepat mengadang truk PT. MM yang hendak melintas keluar.
Kepada Tri bun Medan, Ratna mengungkapkan bahwa selama lima tahun belakangan sejak PT. MM berdiri sejak tahun 2015 ini, ia begitu terusik dengan lewatnya truk-truk bermuatan ratusan ton setiap harinya.
"Saya tinggal disini sudah 47 tahun, lima tahun belakangan ini, saya merasa hak-hak saya terampas dari PT. MM. Saya heran apakah layak truk-truk yang begitu besar ratusan ton lewat dari samping rumah saya yang hanya satu jengkal dari jendela rumah saya. Tolong pemerintah dibuka matanya lebar-lebar terutama walikota, pemko. Layakkah truk besar lewat dari samping rumah saya," ungkap Ratna.
• Pemblokiran Sepihak, Nasabah Bakal Adukan Bank Permata ke OJK
Di tengah permukiman warga Lingkungan XIV, Ratna juga begitu resah adanya helikopter milik PT. MM yang membuat atap rumahnya sempat terbang dan daerah lingkungan XIV yang menjadi kawasan rawan banjir sejak PT. MM berdiri.
"Tolong kepada Dinas Perhubungan, saya ingin tanyakan kenapa ada helikopter di permukiman warga. Hingga rumah saya retak-retak semua akibat pembangunan jalan PT. MM. Saya sedih dan menangis, kenapa pemerintah buta melihat lingkungan 14 ini. Kami mau PT. MM itu ditutup.
Selama ada PT MM, rumah kami sudah kena banjir semua, biasanya tidak ada kena banjir. Airnya ini payah mengalir karena ketinggian timbunan hampir dua meter dari tanah. Airnya tidak bisa dipakai karena berminyak. Kami sudah resah," ujarnya.
Terkait dengan seng terbang tersebut, Ratna mengakui belum ada ganti rugi dari PT dan diketahui, rumah Ratna sempat ditawar untuk dijual ke PT MM.
"Seng udah pernah terbang dan hingga saat ini, limper belah tujuh tidak pernah ada kata maaf dari mereka kepada kami. Sakit hati saya jika lihat truk ini, menangis saya. Tuhan, kenapa mata pemerintah buta melihat kami, saya tidak akan jual rumah saya, bolak balik dia datang tapi tidak sesuai harganya dengan hati nurani kami," pungkas Ratna.
• UNJUK RASA MEMANAS, Demonstran Blokir Jalan dan Panjat Pagar Kantor Wali Kota Medan
Hal yang sama juga diungkapkan seorang warga yang mengakui resah terkait adanya PT MM ini.
Ia sendiri terganggu jika helikopter yang diduga sebagai pemantau wilayah akan terbang atau landas, abu-abu pasir akan terbang mengganggu aktivitas.
"Wah dulu beda kali sama sekarang. Kalau dulu saya nanam sayur masih bisa, tapi semenjak ada pabrik ini, ya banjir terus. Apalagi kalau ada helikopter mau terbang, beterbangan semua abu-abu nya. Ganggu kita lah, heran juga kok bisa ada helikopter disini," pungkasnya.(cr13/tri bun-medan.com)