TRIBUN-MEDAN-WIKI: Hamsad Rangkuti; Cerpenis Sumut yang Berpenampilan Sederhana

Masih di SMP di Tanjungbalai, Asahan, di tahun 1959, ia menghasilkan cerpennya yang pertama, Sebuah Nyanyian di Rambung Tua, yang dimuat di koran

Tayang:
Editor: Juang Naibaho
Ist
Hamsad Rangkuti, sang cerpenis yang berpenampilan sederhana. 

Laporan Reporter Tribun Medan/Aqmarul Akhyar

TRIBUN-MEDAN-WIKI.com – Sastrawan Sumatera Utara (Sumut) memang banyak menjadi perbincangan. Terutama dari sisi karya yang yang begitu populer di nasioanal.

Sumut memang banyak melahirkan sastrawan ternama di Indonesia. Satu di antaranya, Hamsad Rangkuti, sang cerpenis yang berpenampilan sederhana.

Ia lahir di Titikuning, Medan, Sumatera Utara, pada tanggal 7 Mei 1943.

Hamsad Rangkuti dikenal masyarakat luas melalui karyannya cerita pendek (cerpen).

Masih di SMP di Tanjungbalai, Asahan, di tahun 1959, ia menghasilkan cerpennya yang pertama, Sebuah Nyanyian di Rambung Tua, yang dimuat di sebuah koran di Medan.

Karya-karya cerpennya lahir dari kepahitan situasi sosial yang dialaminya. Maka, sering sekali ia menghabiskan hari-harinya dengan melamun dan berimajinasi bagaimana memiliki dan menjadi sesuatu.

Berkembanglah berbagai pikiran liar, yang ia tuangkan dalam cerita pendek. Kebetulan juga ayahnya suka mendongeng.

Berdasarkan data Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, bahwa masa kecilnya ia lewatkan di Kisaran, Asahan, Sumatera Utara.

Ia suka menemani bapaknya, yang bekerja sebagai penjaga malam yang merangkap sebagai guru mengaji di pasar kota perkebunan itu.

Kehidupan yang kurang beruntung, mengharuskan Hamsad membantu ibunya ikut mencari makan dengan menjadi penjual buah di pasar. Selain itu, ia bekerja sebagai buruh lepas di perkebunan tembakau.

Hamsad mengemban pendidikan SMA hanya sampai kelas 2 tahun 1961, karena ia tak mampu lagi membayar uang sekolah.

Ia pun lalu bekerja sebagai pegawai sipil Kantor Kehakiman Komando Daerah Militer II Bukit Barisan di Medan.

Seiring waktu, bakat Hamsad sebagai pengarang mulai terlihat.

Saat itu kebetulan akan berlangsung Konferensi Karyawan Pengarang seluruh Indonesia (KKPI) di Jakarta, dan ia termasuk dalam delegasi pengarang Sumatera Utara di tahun 1964.

Seusai konferensi tersebut, Hamsad memutuskan tinggal di Jakarta.

Kehidupan awal di Ibu Kota, ia tinggal di Balai Budaya, Jalan Gereja Theresia, Jakarta Pusat.

Di kota itu pula ia bisa menguping obrolan para seniman senior, yang sedang mengadakan acara kesenian atau sekadar berkumpul-kumpul di sana.

Hamsad mengawali karier sebagai penulis cerita pendek pada 1962.

Tak mampu berlangganan koran dan membeli buku, Hamsad terpaksa membaca koran tempel di kantor wedana setempat.

Di sanalah ia berkenalan dengan karya-karya para pengarang terkenal seperti Anton Chekov, Ernest Hemingway, Maxim Gorki, O. Henry, dan Pramoedya Ananta Toer.

Dari sini pula jiwa kepengarangannya tumbuh dan berkembang.

- Karya-karya Cerpen Hamsad Rangkuti yang Diterjemahkan ke Bahasa Asing

1. Sampah Bulan Desember yang diterjemahkan kedalam bahasa Inggris

2. Sukri Membawa Pisau Belati yang diterjemahkan kedalam bahasa Jerman.

- Dua cerpen dari pemenang Cerita Anak Terbaik 75 Tahun Balai Pustaka tahun 2001

1. Umur Panjang Untuk Tuan Joyokoroyo, dan

2. Senyum Seorang Jenderal pada 17 Agustus dimuat dalam Beyond the Horizon, Short Stories from Contemporary Indonesia yang diterbitkan oleh Monash Asia Institute.

- Tiga kumpulan cerpennya, antara lain:

1. Lukisan Perkawinan, dan

2. Cemara di tahun 1982, serta

3. Sampah Bulan Desember di tahun 2000, masing-masing diterbitkan oleh Pustaka Sinar Harapan, Grafiti Pers, dan Kompas.

- Novel:
Ketika Lampu Berwarna Merah memenangkan sayembara penulisan roman DKI, yang kemudian diterbitkan oleh Kompas pada 1981.

- Penghargaan Hamsad Rangkuti :

1. Penghargaan Insan Seni Indonesia 1999 Mal Taman Anggrek & Musicafe,

2. Penghargaan Sastra Pemerintah DKI (2000)

3. Penghargaan Khusus Kompas 2001 atas ke setiaan dalam penulisan cerpen,

4. Penghargaan Sastra Pusat Bahasa (2001),

5. Pemenang Cerita Anak Terbaik 75 tahun Balai Pustaka (2001)

- Karya-karya Tulis :

1. Sebuah Nyanyian di Rambung Tua (1959),

2. Ketika Lampu Berwarna Merah (1981),

3. Lukisan Perkawinan (1982),

4. Cemara (1982),

5. Sampah Bulan Desember,

6. Sukri Membawa Pisau Belati,

7. Umur Panjang Untuk Tuan Joyokoroyo (2001),

8. Senyum Seorang Jenderal (2001),

9. Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu,

10. Bibir dalam Pispot (2003).

Sumber:

- Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian pendidikan dan Kebudayaan

- Sumber Lainnya

(cr22/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved