Breaking News:

Update Covid19 Sumut 13 Oktober 2020

21 Pesantren di Deliserdang Lakukan Kegiatan Belajar Tatap Muka, Ahli Kesehatan Tidak Rekomendasikan

Sesuai SKB (Surat Keputusan Bersama) 4 Menteri itu memang boleh pesantren tatap muka tapi harus tetap menerapkan protokol kesehatan.

TRIBUN MEDAN/HO
GUBERNUR Sumatera Utara, Edy Rahmayadi ketika hadir meresmikan gedung baru pesantren modern Al Azhar Asy Syarif awal tahun lalu. 

TRI BUN-MEDAN.com, MEDAN - Beberapa waktu lalu, sebanyak 37 orang staf pengajar dan santri di pesantren modern Al Azhar Asy Syarif Jl Mahoni Desa Bandar Klippa Kecamatan Percut Seituan Kabupaten Deliserdang terkonfirmasi positif Covid-19.

Kepala Seksi Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam (Pakis) Kementerian Agama Deliserdang, Nurlela mengatakan, dari 21 jumlah pesantren yang ada di Deliserdang baru di pesantren ini yang ada kasus Covid-19.

Ia menuturkan, padahal sebanyak 21 pesantren tersebut melakukan kegiatan belajar tatap muka.

"Sesuai SKB (Surat Keputusan Bersama) 4 Menteri itu memang boleh pesantren tatap muka tapi harus tetap menerapkan protokol kesehatan. Yang positif di sana sudah ditangani kok. Ruangan juga sudah disemprot disinfektan. Mereka juga sudah di swab semua," kata Nurlela.

Ahli Epidemiologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara, dr Putri Eyanoer, MS.Epi, Ph D mengatakan berdasarkan angka kejadian Covid-19 pada anak dan secara umum, Perhimpunan Dokter Anak Indonesia atau PDAI dan pakar epidemiologi tetap tidak menganjurkan adanya kegiatan tatap muka, terutama dalam jumlah peserta yang massal.

"Hal ini karena penelitian sudah membuktikan kerumunan selalu mengakibatkan adanya penularan, sudah terbukti dengan banyaknya cluster Covid setelah suatu kegiatan massal ataupun cluster di area perkantoran," ujar Putri kepada tribun-medan.com, Selasa (13/10/2020).

Baca juga: Universitas Katholik Santo Thomas Gelar PKKMB Daring, Terapkan Protokol Kesehatan Secara Ketat

Ketika ditanya mengenai hal apa yang sebaiknya dilakukan, Putri mengatakan pesantren juga harus melaksanakan pembelajaran secara daring.

"Kalau ditanya seperti itu, maka jawaban yang paling tepat saat ini adalah pesantren harus melakukan pembelajaran secara daring sebagaimana sekolah lainnya," katanya.

Dikatakannya, memang tidak dipungkiri bahwa ada SKB yang dikeluarkan berisikan panduan protokol kesehatan yang harus dijalankan sekolah jika akan melakukan pembelajaran tatap muka.

Akan tetapi, Putri menuturkan pertanyaan pentingnya adalah apakah memang sekolah/pesantren ini memang mampu melaksanakan nya atau tidak.

"Belum lagi ketika kita membahas interaksi anak, terutama yang berusia muda, ketika bertemu dengan teman-temannya," jelasnya.

Baca juga: Pesantren Al Azhar Asy Syarif Jadi Klaster Baru, Pengelola Disarankan Batasi Kunjungan Luar

Putri mengaku sangat menyayangkan ketika sekolah atau pesantren tidak memikirkan secara benar konsekuensi dari pembelajaran tatap muka, apalagi dengan tidak melaksanakan protokol kesehatan.

"Kita saat ini sudah sangat kewalahan dengan angka kejadian yang terus meningkat, bagaimana kalau kita sampai pada titik di mana rumah sakit tidak mampu mengobati dan menanggulangi lagi," tutupnya.(cr14/tri bun-medan.com)

Penulis: Rechtin Hani Ritonga
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved