Breaking News:

Di Tengah Pandemi, Masyarakat Antusias Belanja ORI 017 dan SR 013

ORI atau Obligasi Negara Ritel merupakan salah satu instrumen Surat Berharga Negara (SBN) yang ditawarkan kepada individu atau perseorangan

Dok. Humas Bank Commonwealth
Ilustrasi 

TRI BUN-MEDAN.com, MEDAN - Peningkatan antusiasme masyarakat untuk berinvestasi selama pandemi terlihat dari penjualan Surat Berharga Negara (SBN) yang mengalami kenaikan luar biasa. Pemerintah menyambut baik tumbuhnya antusiasme masyarakat untuk berinvestasi ini.

Hal ini diungkapkan Direktur Surat Utang Negara Deni Ridwan. Ia mengatakan, ada dua SBN yang diterbitkan selama pandemi ini, yakni ORI 017 dan SR 013.

ORI atau Obligasi Negara Ritel merupakan salah satu instrumen Surat Berharga Negara (SBN) yang ditawarkan kepada individu atau perseorangan Warga Negara Indonesia melalui Mitra Distribusi di Pasar Perdana.

Baca juga: Pemerintah Tawarkan ORI 017 dengan Kupon 6,4 Persen

Sedangkan Sukuk Negara Ritel (Sukuk Ritel) adalah produk investasi syariah yang ditawarkan oleh Pemerintah kepada individu Warga Negara Indonesia, sebagai instrumen investasi yang aman, mudah, terjangkau, dan menguntungkan.

"Nah ketika kita menerbitkan ORI 017 ini juga pecah rekor penjualan ORI sepanjang sejarah. Jadi kita mendapatkan Rp 18 triliun dan investor yang ikut sekitar 42 ribu investor," katanya dalam Webinar Giatkan Literasi Investasi, Bangkitkan Ekonomi Negeri, Sabtu (17/10).

Ia mengatakan, dari 42 ribu investor tersebut, 56 persen diantaranya adalah investor baru. Selain itu kata Deni, SR 013 yang berbasis syariah itu juga sama memecahkan rekor lagi.

"Kita mendapatkan sekitar Rp 25 triliun dan investor yang terlibat ada sebanyak 44 ribu. Jadi semakin banyak masyarakat yang tertarik untuk menggunakan dana yang selama ini dipergunakan untuk ke kafe, jalan-jalan, atau nge-mal untuk diinvestasikan," katanya.

Sementara itu, Direktur Statistik dan Informasi Pasar Modal OJK, Muhammad Touriq mengatakan, jumlah investor di pasar modal juga mengalami peningkatan signifikan. Menurutnya, kontribusi instrumen yang diterbitkan pemerintah berupa instrumen retail baik obligasi mau pun sukuk juga mendorong peningkatan jumlah investor.

"Kalau kita lihat dari data SID akhir tahun 2019 hampir 2,5 juta SID sedangkan pada akhir September 2020 ada sekitar 3,3 juta SID atau naik sekitar 33 persen. Sehingga ada indikasi ada kontribusi dari instrumen retail itu," katanya.

Deni mengatakan, salah satu tantangan terbesar dalam pembangunan nasional adalah kebutuhan pembiayaan yang sangat besar. Untuk itu supaya bisa mandiri, perlu didorong pengembangan sumber-sumber pendanaan jangka panjang.

"Untuk itu kita perlu mendorong masyarakat menambah investasinya baik secara langsung dengan membeli saham, obligasi, reksadana. Mau pun melalui pengumpulan dana yang dilakukan lembaga keuangan seperti asuransi dan dana pensiun," pungkasnya.

Penulis: Septrina Ayu Simanjorang
Editor: Eti Wahyuni
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved