Breaking News:

UPDATE Video Viral Kadis Terima Uang, Junter Marbun Buka Suara, Langsung Umumkan Somasi Terbuka

Junter Marbun melalui kuasa hukumnya, Maruli M Purba, menggelar konferensi pers (konpers) somasi terbuka.

Penulis: Arjuna Bakkara | Editor: Juang Naibaho
Screenshoot Video
Rekaman video viral Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) Junter Marbun menerima uang di ruang kerjanya. 

TRIBUN-MEDAN.com, HUMBAHAS - Masih ingat video viral di medsos yang memperlihatkan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) Junter Marbun menerima segepok uang?

Kabar terbaru, Junter Marbun melalui kuasa hukumnya, Maruli M Purba, menggelar konferensi pers (konpers) somasi terbuka.

Somasi terbuka itu diperuntukkan kepada perekam video dan masyarakat atau warganet yang menuding tuduhan korupsi.

Konpers somasi terbuka yang difasilitasi Dinas Kominfo Humbahas itu digelar di ruang rapat mini Setdakab Humbahas, Kompleks Bukit Inspirasi, Doloksanggul, Rabu (4/11/2020).

Kata Maruli Purba, bahwa video yang tersebar luas di medsos bukan kebenaran yang seutuhnya atas fakta yang terjadi.

Kata Maruli, pihaknya sudah melaporkan HM yang diduga perekam video.

Laporan itu terkait Undang-Undang ITE dengan merekam video secara diam-diam bukan pertemuan publik.

“Sudah kita laporkan secara tertulis ke Polres Humbahas terkait rekaman secara diam-diam dan yang disebarkan secara luas. Atas laporan itu, kita minta aparat hukum untuk diproses secara hukum. Karena sudah merugikan nama baik secara harkat dan martabat. Baik sebagai kepala dinas maupun pribadi,” ucapnya.

Kepada masyarakat atau warganet dan pegiat medsos, Maruli meminta agar tidak mempelintir cuplikan video viral tersebut.

Menurut dia, banyak narasi di media sosial yang menuding tuduhan korupsi fee proyek dan segala macamnya.

“Kami ingin tegaskan sebelum ada putusan hukum atau proses hukum terkait hal itu, tidak ada satu pihak pun yang bisa menuduh klien kami (Junter Marbun) melakukan pidana korupsi, atas cuplikan video yang tersebar secara luas itu,” tegasnya.

“Biarlah penegak hukum yang membuktikan. Bukan ranah kita masyarakat luas menjustifikasi bernada hukum,” ujarnya.

Menurut Maruli, kronologinya sekitar bulan pertengahan Maret 2020, HM dan PM datang bertamu ke ruangan Kadis Pertanian.

Awalnya HM dan PM bertamu untuk berdiskusi seputar kegaitan kelompok tani.

Kadis yang sudah mengenal keduanya sebagai kelompok tani, kemudian menerima keduanya dan terlibat dalam pembicaraan sekitar 1, 5 jam.

Dalam pertemuan itu suasana diskusi biasa pintu kantor terbuka lebar, staf juga hilir mudik dan kadis sambil bekerja.

Sebelum pembicaraan itu, kata Maruli, bahwa HM dan PM sudah beberapa kali meminta Kadis untuk memberikan pekerjaan di Dinas Pertanian.

Namun, menurut Maruli, permintaan diabaikan dan tidak ada pekerjaan.

“Ketika mereka datang bertamu, HM dan PM membuka pembicaraan sebelumnya dan berupaya menawarakan fee. Namun dalam video itu Kadis konsisten dengan perkataannya, bahwa tidak ada pekerjaan yang bisa diberikan kepada mereka,” kata Maruli.

Karena HM dan PM menyodorkan uangnya, Kadis akhirnya mengamankan uang tersebut ke dalam laci.

Besoknya, ucap Maruli lagi, sang kadis menghubungi HM dan PM untuk mengambil kembali uangnya karena tidak ada pekerjaan yang bisa dijanjikan.

Setelah diberikan penjelasan bahwa tidak ada pekerjaan proyek di dinas pertanian, sekitar dua minggu kemudian, HM dan PM mengambil kembali uang Rp 50 juta dari rumah kontrakan Kadis.

Namun, bukti konkret pengembalian uang oleh Junter, tidak ada.

“Jadi perlu kami jelaskan lagi bahwa video yang beredar di media sosial bukan kebenaran yang seutuhnya. Rangkaian cerita hingga akhir tidak terekspos sehingga narasinya jelas berbeda dari peristiwa yang sebenarnya,” demikian kata Maruli.

Baca juga: Siang Malam Pimpin Pencarian 3 Anak Hilang Misterius, Kapolsek Salapian Jatuh Sakit

Diketahui, dalam video yang beredar terlihat Junter Marbun berdialog dari belakang meja kerjanya di kantor.

Awalnya seorang pria menyuruh rekannya mengeluarkan dan memberikan uang.

"Lean, leanton hepengi, pasahat ma (Beri, berikan saja uangnya)," kata pria tersebut.

Kemudian Junter menolak dari belakang meja dan menyarankan agar uang tersebut disimpan.

"Nasongon dia do haroa, nahurang do (Bagaimana rupanya, apa uang ini kurang?)" kata Junter.

Pria diduga rekanan itu berharap setoran bisa diterima dengan 10 persen.

"Sadia ndang moru asa binoto. Mangelek hami 10. Hami nadua do mangkarejoi. Jadi artina diorui abang saotik nai ndang boi be? Biasa tender 10 persen do. Nunga godang disukkun hami. Sampe mangido tolong iba tu bupati. Jala dioloi do (Berapa tidak kurang biar kami tahu. Kami minta 10. Kami dua yang kerjakan. Berarti abang tidak bisa kurangi sedikit pun? Biasa dalam tender 10 persen saja. Sudah banyak kami tanya. Sampai minta bantu sama bupati. Dia juga mau)," kata pria yang diduga penyedia jasa itu.

Tak lama kemudian, terlihat penyerahan uang pecahan seratus ribu rupiah.

Dalam perbincangan mereka, pembayaran berikutnya akan dilakukan setelah pengumuman tender.

"Na di Onan Ganjang i ma di hami. Maksud na buti. Kaluar pengumuman sisa na i. On hulean hami majo 50 juta (Paket yang di Onan Ganjang sama kami. Maksud kami begini, setelah keluar pengumuman saja sisanya. Ini kami kasih uang 50 juta)," ujar pria diduga rekanan tersebut.

Junter Marbun lalu menyimpan uang tersebut di laci meja kerjanya.

Baca juga: BREAKING NEWS, VIRAL Video Kadis Pertanian Humbahas Diduga Terima Uang Suap, Terlihat Malu-malu

(Jun/tribun-medan)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved