Breaking News:

18 Hari Jelang Pilkada Kota Medan

Jelang Debat Kedua Pilkada Medan, Pengamat Ekonomi USU Ungkap Penyebab Investor Enggan Masuk Medan

Sejak hampir lima tahun lalu hingga 2020 ini para pemodal semakin enggan masuk ke Medan untuk mengembangkan usaha. 

Penulis: Liska Rahayu | Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
TRIBUN MEDAN
PASANGAN calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Medan Akhyar Nasution-Salman Alfarisi (kiri) dan Bobby Nasution-Aulia Rahman (kanan) menyapa penonton usai mengikuti debat publik perdana Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Medan, di Medan, Sumatera Utara, Sabtu (7/11/2020). 

TRIBUN-MEDAN.Com, MEDAN - Jelang debat tahap dua Pilkada Medan, malam nanti, Pengamat Ekonomi Universitas Sumatera Utara (USU) mengungkap fakta terus memburuknya iklim investasi sejak 2016.

Pengamat Ekonomi Wahyu Pratomo menyebut, sejak hampir lima tahun lalu hingga 2020 ini para pemodal semakin enggan masuk ke Medan untuk mengembangkan usaha. 

Apa Penyebabnya? Menurut Wahyu, kota yang selama lima tahun terakhir dipimpin pasangan Dzulmi Eldin dan Akhyar Nasution ini tergolong tidak ramah terhadap iklim investasi. Incremental capital-output ratio (ICOR) menjadi tolok ukurnya.

Secara sederhana, lanjut Wahyu, ICOR itu indikator yang menunjukkan besaran modal untuk menghasilkan satu output. Misal ICOR=5, maka perlu Rp5 juta untuk 1 output/barang. Kalau ICOR=7, itu artinya perlu investasi Rp7 juta untuk satu output. Makin besar ICOR, maka semakin tidak efisien.

"Makin tinggi ICOR satu kota, maka pengusaha akan keluar lebih banyak modal untuk jajaki sebuah usaha. Investasi itu kan adalah jumlah uang yang dibelanjakan oleh pengusaha," kata Wahyu di Medan, Sabtu (21/11/2020).

Lantas berapa ICOR Kota Medan? Ternyata dari data 2019 lalu, ICOR kota Medan sudah mencapai 7,2. Bandingkan dengan kota lainnya, semisal Bandung (5,0), Surabaya (5,1) dan Makasar (6,0).

"Dan kota-kota lain itu cenderung turun ICOR-nya. Artinya, pemerintah masing-masing sudah semakin baik mengelola kotanya," tambah Wahyu. 

Ironisnya, di Medan indeks ICOR malah semakin tinggi. 

"Medan tahun 2016 itu sekitar 6,50 dan terus naik sampai 2019. Harusnya yang ideal itu di angka 4.0 hingga 5,0," lanjut Wahyu.

Baca juga: Sebelum Debat Kandidat, Bobby Nasution Gowes dan Sarapan Bareng Menpora dan Wagubsu

Nah, bagaimana cara menurunkan indeks ICOR agar investor mau beramai-ramai datang berinvestasi di Kota Medan. Perlu diketahui, dengan masuknya investasi maka tentu akan menambah pendapatan asli daerah (PAD) hingga menyerap tenaga kerja. 

Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved