Breaking News:

Ngopi Sore

Jika Anies Baswedan Berfoto Membaca Buku Enny Arrow, Apakah Ia Lantas Dianggap Cabul?

Sejumlah ahli tafsir medsos menyebut foto Anies merupakan simbolisme keberpihakan kepada kelompok yang ingin menyingkirkan demokrasi dari Indonesi

Twitter
Unggahan Anies Baswedan di akun Twitter-nya. 

KALAU tidak riuh dan ramai bukan Indonesia namanya. Begitu saya ingat seorang kawan pernah berkata. Dia orang Indonesia juga, tentu saja, tetapi sudah lama bermukim di Australia –bekerja di sana, beristrikan orang sana, dan konon bakal segera mendapatkan kewarganegaraan.

Menurut kawan itu, apapun di Indonesia bisa dibikin jadi riuh, jadi ramai. Termasuk hal-hal yang kalau dipikir-pikir sesungguhnya sangat sederhana dan sepele belaka.

Teranyar adalah soal foto Anies Baswedan. Anies, dengan tampilan santai; mengenakan kemeja putih polos dan berkain sarung, difoto saat tengah membaca buku berjudul ‘How Democracies Die’.

Buku ini ditulis dua profesor Universitas Harvard, Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt. Selain dosen, Levitsky merupakan pengamat dengan ketertarikan khusus pada politik di negara-negara Amerika Latin, sedangkan Ziblatt lebih banyak mengamati perpolitikan di kawasan Eropa Barat.

Pendeknya, satu buku yang berat. Dan Anies Baswedan, Gubernur Jakarta, membaca buku berat ini di rumahnya, di hari minggu pagi. Bahkan tanpa ditemani secangkir teh atawa kopi.

Tak perlu menunggu lama. Ada meme-meme. Foto Anies disandingkan dengan foto Presiden Joko Widodo yang tengah membaca komik 'Si Juki' dengan mimik wajah lucu; separuh serius separuh meringis.

Ada pula foto-foto lainnya yang dimirip-miripkan dengan foto Anies. Bedanya adalah buku yang mereka baca. Dan seperti biasa, tiga kubu maju ke arena duel. Pertama kubu pendukung Anies yang sebagian besar merupakan pendukung (atau eks pendukung) Prabowo Subianto. Kedua, kubu kontra Anies yang hampir pasti juga merupakan suporter Presiden Jokowi.

Kubu ketiga? Para nihilis yang memandang segala sesuatu yang berkaitpaut politik sebagai kesalahan. Nihilis-nihilis ini terbagi dua pula yakni nihilis serius dan nihilis main-main –nihilis yang menganggap politik sekadar lelucon tolol yang memang hanya pantas untuk diolok-olok.

Sesungguhnya perkara difoto saat membaca buku ini sama sekali tidak istimewa. Bukan pose orisinil. Bukan pose yang baru ditemukan dan jadi tren. Sejak manusia menciptakan alat bernama kamera, sudah jutaan orang berpose seperti ini. Biasanya, buku yang dipegang memang buku-buku berat. Baik berat dalam hal ide dan pemikiran maupun berat dalam arti harfiah, lantaran ketebalannya yang aduhai.

Pertanyaannya, kenapa orang memilih berfoto dengan pose sedang membaca buku? Ada banyak tafsir yang bisa dikedepankan sebagai jawaban, tetapi yang utama adalah untuk mengesankan kepintaran dan keseriusan. Pertanyaan selanjutnya, apakah orang yang membaca buku adalah sebenar-benarnya orang yang pintar dan serius? Tidak selalu.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved