Breaking News:

Kurikulum Entrepreneurship, Mahasiswa Politeknik Wilmar Bisnis Indonesia Wajib Bikin Start-Up

Kita coba menjaga supaya start-up yang diinisiasi oleh mahasiswa ini bisa berkembang sampai mereka lulus.

TRIBUN MEDAN/SEPTRIMA
DARI kiri kanan, Manager Marketing Politeknik WBI Mohammad Fahmi Saleh, Direktur Politeknik WBI Jenny Elisabeth, Pimpinan Redaksi Tribun Medan Syarief Dayan, dan Pimpinan Perusahaan Tribun Medan Setiawan di Kantor Tribun Medan, Selasa (24/11/2020). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Sejak awal dibangun pada 2015 silam, Politeknik Wilmar Bisnis Indonesia (WBI) memiliki visi agar bisa menciptakan wirausahawan (entrepreneur) di Sumatera Utara.

Untuk itu kampus yang berlokasi di Jalan Kapten Batu Sihombing Medan Estate, Percut Sei Tuan ini menghadirkan kurikulum yang tak biasa bagi mahasiswanya. 

"Kampus kami punya keunikan dimana kurikulum yang kita gunakan itu kita sebut kurikulum entrepreneurship. Mahasiswa kita mulai semester satu hingga enam diberi mata kuliah entrepreneurship. Pada semester tiga, mahasiswa kita harus sudah punya start-up," kata Direktur Politeknik WBI Jenny Elisabeth saat berkunjung ke Kantor Tribun-Medan.com, Selasa (24/7/2020). 

Jenny  mengatakan, dengan memberikan mata kuliah entrepreneurship sejak semester satu diharapkan bisa mengubah mindset mahasiswa untuk tidak sekadar mencari kerja tapi juga menciptakan lapangan kerja. 

"Start-up nya dibuat per grup dan itu wajib. Kita coba menjaga supaya start-up yang diinisiasi oleh mahasiswa ini bisa berkembang sampai mereka lulus. Paling tidak ini menjadi ajang percobaan mereka untuk betul-betul terjun di dunia bisnis," lanjutnya. 

Ia mengatakan di kampus ini, pada semester tujuh mahasiswa juga akan melakukan magang. Ada empat program studi di Politeknik WBI ini yaitu Akuntansi Perpajakan, Manajemen Pemasaran, Agribisnis Hortikultura, dan MICE Management atau PKA (Pengelolaan Konvensi dan Acara). 

Pembangunan kampus dan pemilihan jurusan ini didasarkan pada keberadaan Sumatera Utara. 

"Program-program studi ini dibangun untuk ikut mendukung tumbuh kembangnya Sumut. Misalnya Sumut itu kan produk holtikultura banyak, harusnya bisa ekspor ke negara lain. Tapi sepertinya kurang bergaung, makanya sejak awal, dibuatlah jurusan Agribisnis Hortikultura," katanya. 

Di sisi pengembangan pariwisata, prodi PKA dibuat karena melihat pariwisata Sumut yang berpotensi besar. Dengan adanya potensi ini penting untuk mengadakan event yang skalanya internasional. 

Baca juga: Bangkitkan Kreativitas Berwirausaha, Politeknik WBI Targetkan Lulusan Mahasiswa Jadi Entrepreneur

"Apalagi saat ini Danau Toba sudah ditunjuk sebagai destinasi super prioritas. Makanya kami melihat program studi PKA ini penting," ujarnya. 

Halaman
12
Penulis: Septrina Ayu Simanjorang
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved