Breaking News:

Ngopi Sore

Setelah KPK Jerat Edhy, Apakah Susi Kembali Masuk Skuat Jokowi?

Sejak Edhy jadi menteri, tidak ada lagi kapal asing yang dieksekusi, dan perairan Indonesia kembali ramai oleh kapal-kapal berbendera asing.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG
Edhy Prabowo dan Susi Pudjiastuti saat acara pisah sambut Kementerian Kelautan dan Perikanan di Jakarta, 23 Oktober 2019. 

MENTERI Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo, dikabarkan ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan di media sosial, terutama Twitter, nama Susi Pudjiastuti segera menjadi trending topic. Kenapa?

Bagi siapa pun yang tidak bersikap terlalu masa bodoh terhadap perkembangan politik nasional, tentunya, korelasi hal di atas tak perlu dijelas-jelaskan lagi. Keterkaitannya sudah sangat terang. Susi Pudjiastuti adalah bos Kementerian Perikanan dan Kelautan (KKP) pada periode pertama pemerintahan Joko Widodo.

Periode kedua, ia digantikan. Satu di antara sekian keputusan presiden yang dianggap keliru. Betapa tidak. Edhy Probowo, pengganti Susi, tidak memiliki pengalaman apapun yang berkenaan dengan laut. Apalagi ikan.

Riwayat kariernya sebagai berikut –saya runut dari yang terdekat dengan jabatan menteri: anggota DPR RI daerah pemilihan Sumatra Selatan (periode 2014-2019 dan 2009-2014) dengan perahu Partai Gerindra, orang kepercayaan Prabowo Subianto, taruna Akabri (namun diberhentikan karena melanggar disiplin), dan atlet pencak silat.

Apakah sama sekali tidak ada? Maksudnya, pengalaman yang berkenaan dengan laut dan ikan? Ehm, sebenarnya ada, sih. Namun tentunya bukan pengalaman lapangan seperti Susi. Hanya pengalaman di balik meja. Pengalaman teoritis dan birokratis.

Saat menjabat anggota dewan, Edhy berada di Komisi IV, komisi yang membidangi pertanian, perkebunan, kehutanan, kelautan, perikanan dan pangan. Sebelumnya, tatkala "aktif mendampingi" Prabowo, ia juga merupakan bagian dari Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), organisasi yang diketuai Prabowo Subianto.

Pendepakan Susi dari kursi bos KKP sempat ramai. Banyak yang menduga, keputusan Jokowi erat berhubungan dengan kegerahan pihak-pihak yang selama lima tahun kepemimpinan Susi merasa dirugikan; para "cukong" yang bisnisnya goyah.

Dugaan ini, kemudian melipir ke arah kecemasan. Edhy Prabowo akan menganulir kebijakan-kebijakan strategis Susi dan mengembalikan kondisi kelautan dan perikanan Indonesia seperti sebelum periode pertama jabatan Jokowi –laut yang dikuasai oleh para cukong, para pebisnis besar, dan nelayan-nelayan penantang badai hanya tinggal dongeng klasik pengantar tidur.

Dan begitulah. Kecemasan, ndilalah, ternyata memang terbukti. Tidak tanggung-tanggung pula. Bukan hanya satu, tetapi sekaligus empat kebijakan Susi dianulir Edhy. Satu, kebijakan paling populer, penenggelaman kapal-kapal asing yang nyelonong masuk perairan Indonesia untuk mencuri ikan.

Sejak Edhy jadi menteri, tidak ada lagi kapal asing yang dieksekusi, dan perairan Indonesia kembali ramai oleh kapal-kapal berbendera asing.

Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved