Breaking News:

Jelang Natal, Pedagang Kerajinan Tangan di Siantar Ubah Limbah Plastik Jadi Pernak-pernik Natal

Saban momen Nataru, permintaan terompet kerap berdatangan, baik dari dalam kota, maupun luar kota seperti Medan, Berastagi dan Prapat.

HO / Tribun Medan
Ricky Toreh (58) menunjukkan pernak pernik Galery Limba Karya Mandiri (GLKM) yang dijajakan untuk Natal dan tahun baru 2021  

TRIBUN-MEDAN.com, SIANTAR - Memprediksi permintaan kerajinan tangan untuk Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2021 meningkat, Ricky Toreh (58) berinisiatif membuat pohon natal berbahan plastik bekas.

Hasil buah tangannya pun dijajakan di Jalan Sisingamangaraja Pematangsiantar (dekat Universitas Simalungun).

Ricky menyampaikan usaha yang dirintis ini sudah didirikan sejak tahun 2003 dengan nama Galeri Limbah Karya Mandiri (GLKM).

Saban momen Nataru, permintaan terompet kerap berdatangan, baik dari dalam kota, maupun luar kota seperti Medan, Berastagi dan Prapat.

"Usaha (GLKM) ini sejak dari tahun 2003, dulu memproduksi kerajinan karya tangan. Banyak warga luar Kota Pematangsiantar datang kemari untuk belanja, termasuk beli terompet dan pohon natal," ujar Ricky, Sabtu (12/12/2020)

Pria yang akrab disapa Ricky mengatakan, pembuatan kerajinan yang dipajangnya itu pun menggunakan botol plastik dari minuman bekas, kardus dan koran.

Ricky Toreh (58) menunjukkan pernak pernik Galery Limba Karya Mandiri (GLKM) yang dijajakan untuk Natal dan tahun baru 2021 
Ricky Toreh (58) menunjukkan pernak pernik Galery Limba Karya Mandiri (GLKM) yang dijajakan untuk Natal dan tahun baru 2021  (HO / Tribun Medan)

Dari bahan bahan itu, ia mampu membuat terompet, pohon natal, dan pernak pernik suvenir lainnya.

"Sampah plastik banyak ditemui, kami berinisiatif buat kerajinan tangan dengan hasilkan nilai jual. Produk kami ramah lingkungan dengan kualitas yang baik," kata Ricky.

Untuk memeroleh hasil karya produksi pernak pernik Natal buatan Ricky, patokan harganya pun bervariasi mulai dari Rp 5 ribu hingga paling mahal seharga Rp 3 juta tergantung ukuran dan kerumitan.

"Paling diminati, pohon natal. Seberapa tinggi ukurannya bisa kita sediakan. Tergantung pemesan," ungkap Ricky seraya mengaku bahwa usahanya ini warisan dari almarhum ayahnya.

Di tempat usahanya itu, ada empat orang karyawan yang membantu Ricky menjalankan usahanya dalam membuat kerajinan tangan.

Ia mengatakan, dengan adanya produk kerajinan tangan asal luar negeri (Impor) masuk ke Indonesia. Membuat omsetnya naik turun, tak stabil.

"Saya berharap usaha dapat berkembang terus, walau pun omset kadang turun karena produk import. Kiranya pemerintah atau bapak Wali Kota yang baru dapat perhatikan usaha saya," harapnya seraya menyebut permintaan baru akan meningkat jelang Natal.

(tribun-medan.com/Alija Magribi) 
 

Penulis: Alija Magribi
Editor: Royandi Hutasoit
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved