Harga Daging Babi Melambung, Pedagang Alami Penurunan Omzet
Harga daging babi hidup terus mengalami kenaikan. Hal ini berdampak terhadap pedagang eceran dan juga pelaku usaha rumah makan.
Penulis: Septrina Ayu Simanjorang | Editor: Juang Naibaho
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Harga daging babi hidup terus mengalami kenaikan. Hal ini berdampak terhadap pedagang eceran dan juga pelaku usaha rumah makan.
Dari pantauan Tribun-Medan.com di Jalan Jamin Ginting, harga daging babi di pedagang eceran sudah mencapai Rp 115 ribu per kilogramnya.
Seorang pedagang daging babi Tarigan mengatakan kenaikan daging babi ini sudah terjadi dua bulan belakangan. Hal ini tentu mempengaruhi minat masyarakat untuk membeli daging babi.
"Setiap minggunya naik Rp 5 ribu, lama kelamaan sampai juga Rp 115 ribu perkilogram. Sekarang pembeli berkurang sekitar 60 sampai 70 persen," katanya kepada Tribun Medan, Rabu (16/12/2020).
Dikatakannya bila biasanya ia bisa menjual hingga dua ekor babi perhari kini hanya satu ekor yang berkisar 80 kilogram per ekornya. Selain itu stok daging juga sudah susah didapatkan.
"Kalau yang memasok mengatakan stok daging babi habis karena wabah kemarin, jadi susah untuk besar babinya. Sekarang untuk stok babi sudah ambil dari Lampung, Jambi, sama Palembang," katanya.
Pedagang rumah makan BPK (Babi Panggang Karo) juga mengaku mengalami penurunan omzet. Agar usaha tetap bisa berjalan, pedagang mengupayakan menjual dengan untung seminimal mungkin.
"Kalau harganya naik tentu sangat berpengaruh sama pembeli. BPK itu kan makanan yang kandungan gizinya cukup tinggi dengan harganya yang lebih terjangkau. Sekarang malah sudah lebih malah dari pada rendang daging sapi. Jadi tentunya pelanggan menengah ke bawah nyaris tidak mampu membelinya," kata pemilik Rumah Makan BPK di Jalan Jamin Ginting Elia Sembiring.
Ia mengatakan dengan naiknya harga daging babi membuat omzet bisa menurun hingga 70 persen.
"Kita beli daging babi ke langganan kita sekitar Rp 110 ribu per kilogram. Jadi kalau satu kilogram untuk 7 porsi, modal mentahnya sekitar Rp 15 ribu. Jadi sewajarnya kita menjual yang sudah masak Rp 35 ribu per porsi," katanya
Namun sampai saat ini pihaknya menjual dengan harga Rp 25 ribu per porsi, sudah termasuk nasi.
"Kalau dulu itu paling modal dagingnya saja Rp 6 ribu per porsi, sekarang Rp 15 ribu. Artinya ada kenaikan sekitar Rp 9 ribu per porsi," katanya
"Tapi kita menjual itu dulunya porsi lengkap dengan nasi Rp 20 ribu sekarang Rp 25 ribu. Artinya kenaikannya cuma Rp 5 ribu padahal modal kita naik Rp 9 ribu. Kita hanya ambil untung setipis mungkin, yang penting usaha bisa tetap jalan," pungkasnya.
(sep/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/virus-hog-cholera-3.jpg)