Breaking News:

Sineas Muda Kota Medan Bicarakan Film di Pengajian Film Nomadik Kopi

Di Pengajian Film ini, para sineas banyak berbagi pengetahuan mengenai seluk-beluk film kepada sineas lainnya, maupun hanya sekadar penikmat.

TRIBUN MEDAN/LISKA
KEGIATAN Pengajian Film di Nomadik Kopi, Jalan Garu II, Medan, Selasa (29/12/2020) lalu. Kegiatan ini gelar untuk mengkaji film baik bagi sineas maupun penikmat. 

Tribun-medan.com, Medan - Geliat industri film independen atau yang lebih dikenal dengan Film Indie di Kota Medan tampaknya sedang bergairah. Saat ini, tak sedikit sineas-sineas muda Kota Medan yang bersemangat untuk melahirkan karya-karya terbaiknya.

Untuk menjaga gairah tersebut agar tetap terjaga, Nomadik Kopi yang terletak di Jalan Garu II, Medan, menggelar kegiatan Pengajian Film untuk para sineas atau pun pencinta film di Kota Medan.

Di Pengajian Film ini, para sineas banyak berbagi pengetahuan mengenai seluk-beluk film kepada sineas lainnya, maupun hanya sekadar penikmat.

"Di sini kita membuka ruang sekaligus kedai kopi. Ruang ini mulai dari teman-teman yang ingin berkreasi, mulai dari sineas atau penikmat. Pengajian ini dilakukan untuk sharing teman-teman sesama sineas mengenai keresahan saat membuat film," ujar Ibie Loco, Kepala Suku Nomadik yang juga sutradara film DS dan Sangkala, Sabtu (2/1/2020).

Pada pengajian film kali ini, para sineas dan penikmat film berbaur, duduk lesehan di atas tikar dengan ditemani kopi dan gorengan di piring.

Tema yang dibicarakan adalah mengenai Bahasa Film.

Ibie mengatakan, menurutnya ada tiga bahasa film, yaitu Mise en Scene atau yang dibaca sebagai mis ong sen dalam Bahasa Perancis. Kemudian naratif dan sinematik.

Secara garis besar,  Mise en Scene adalah keseluruhan film yang sudah mencakup banyak hal seperti setting, aktor, bloking, kostum, lighting dan lainnya.

"Banyak pembuat film maker kelemahan kita, kita tidak mengetahui tanda titik, tanda koma di dalam film. Sama seperti menulis, bahasa film itu juga dibutuhkan. Kita harus mengenal dulu bahasa apa yang ada di dalam film baru kita tahu akan dijadikan seperti apa film tersebut," ujarnya.

Dia pun bercerita mengenai pentingnya bahasa film. Sebab ketika awal-awal dulu saat ia tidak mengerti bahasa film, film-film garapannya terasa seperti sinetron.

Halaman
12
Penulis: Liska Rahayu
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved