Breaking News:

Kasus Jual Beli Skor, PBSI Sumut Sebut Hanya Satu Atlet dari Sumatera Utara

Kasus jual beli skor Ini bukan kali pertama atau sering terjadi, dan sebetulnya ini bisa saja terjadi sama siapa saja.

(Shutterstock)
ILUSTRASI bulutangkis. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Pengurus Provinsi (Pengprov) Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Sumut menegaskan bahwa hanya satu dari dua atlet bulutangkis Sumut yang dikenakan sanksi match fixing BWF.

Pebulutangkis tersebut adalah Fadilah Afni. Sedangkan Ivandi Danang bukan merupakan atlet binaan PBSI Sumut. Hal ini dikatakan Sekretaris Umum (Sekum) PBSI Sumut, Edi Ruspandi, Sabtu (9/1/2021).

"Kalau yang satu Fadilah Afni memang betul. Terus Ivandi Danang itu bukan atlet kita dan namanya beda. Danang Riandika itu atlet kita," katanya.

Dikatakannya, Ivandi Danang itu eks klub mutiara Bandung. Sedangkan Danang Riandika tidak pernah berlatih di Mutiara Bandung.

"Kemudian Ivandi Danang itu usianya 45 tahun. Sedangkan Danang Riandika masih muda sekitar 25 tahun. Dan ID BWF nya pun beda," terang Edi Ruspandi saat berbincang dengan www.tribun-medan.com.

Edi mengatakan, kasus jual beli skor Ini bukan kali pertama atau sering terjadi, Edi menyatakan sebetulnya ini bisa saja terjadi sama siapa saja. Cuma balik lagi, misalnya pengatur skor inikan terlalu bombastis.

"Kita kan nggak ada. Atlet-atlet yang begitu dan tidak mungkin la bisa untuk mengatur skor saat pertandingan," katanya.

Hanya saja, katanya, dalam permainan bulutangkis itu misalnya melawan pemain luar negeri itu mereka disuruh mengalah dan dapat imbalan untuk kekalahannya itu.

"Itu saja sih yang dilakukan. Misalkan saya  sama Aldi lagi pasangan ni,  terus Afni bilang janganlah dihajar nanti kita kasih duit. Nah bukan begitu. Karena pengaruh dia pun belum cukup besar," katanya.

Tidak menutup kemungkinan ini sering terjadi di bulutangkis?

Dikatakannya, kalau di bulutangkis kejadian yang menimpa Fadilah Afni  ini sudah lama si sebetulnya, sama juga dengan sepakbola. "Karena kan ini semua di bandar judi. Semua pertandingan dipermainkan," ujarnya.

Dikatakannya, kalau ada pertandingan yang aneh-aneh misalkan kalau dilihat permainan kelas dunia  namun kalah dengan pemain yang baru baru muncul biasanya jadi pertanyaan.

"Kira-kira begitulah. Ini samalah misalkan Belanda lawan Indonesia tahu-tahu Belandanya kalah. Itu kan jadi tanda tanya itu," katanya.

"Kecuali memang pemain unggulan itu kondisinya lagi kurang fit atau sakit biasanya selalu ada investigasi terkait hal itu kalau di bulutangkis," pungkasnya.(akb/tribun-medan.com)

Penulis: Sofyan akbar
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved