Breaking News:

Rupiah Melemah IHSG Berayun, Diminta Jangan Panik Dulu!

Kenaikan imbal hasil tersebut tidak terlepas dari pernyataan Gubernur Bank Sentral AS yang meyakini adanya pemulihan ekonomi AS ke depan.

DOK Humas Bank Commonwealth
SETELAH beberapa bulan Indeks Saham Gabungan (IHSG) melemah akibat pandemi Covid-19, kini IHSG tampak mulai menguat. 

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Kineja mata uang rupiah diperdagangkan melemah pada perdagangan hari ini Selasa (12/1/2021). Rupiah sempat turun ke 14.200 per US Dolarnya. 

"Pelemahan rupiah terjadi dipicu oleh membaiknya imbal hasil obligasi di AS. Kenaikan imbal hasil tersebut tidak terlepas dari pernyataan Gubernur Bank Sentral AS yang meyakini adanya pemulihan ekonomi AS ke depan. Hal ini memicu terjadinya pemburuan asset dalam mata uang US Dolar," ujar Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin.

Gunawan menjelaskan kondisi ini memperburuk kinerja sejumlah mata uang di asia termasuk rupiah.

Selain itu, banyaknya mata uang di asia yang tertekan seiring dengan meningkatnya jumlah pasien Covid-19 di banyak negara. US Dolar sendiri meskipun akan dibanjiri stimulus, akan tetapi justru banjirnya US Dolar karena stimulus tidak lantas membuat US Dolar ditinggalkan.

Sikap optimis terkait dengan membaiknya kondisi ekonomi kedepan membuat pelaku pasar yakin bahwa dalam jangka menengah US Dolar lebih banyak diminati dibandingkan asset beresiko lainnya.

Selain mata uang, penguatan US Dolar juga membuat harga emas kembali turun setelah sempat naik tajam sebelumnya.

"Harga emas saat ini ditransaksikan di level $1.840-an per US Dolar. Setelah sempat meroket dan menyentuh level $1.900 per ons troynya. Penguatan US Dolar sementara ini menjadi alasan mengapa emas menjadi kurang begitu menarik," ungkapnya.

Walau demikian, kata Gunawan, harga emas diyakini masih akan mampu berada di atas level $1.800-an per ons troy.

Namun, baik mata uang dan harga emas diyakini masih akan mampu untuk berbalik menguat, seandainya di pekan depan nantinya pelaku pasar justru melihat potensi tekanan pada ekonomi AS maupun global seandainya sikap Presiden AS yang baru justru memberikan tekanan kepada ekonomi dunia.

"Namun, pelemahan rupiah sejauh ini juga tidak perlu direspon dengan intervensi oleh Bank Indonesia. Rupiah sudah menguat sangat tajam sebelumnya dan pelemahan saat ini saya pikir belum harus diikuti dengan intervensi pasar. Saya menilai rupiah masih bergerak dalam rentang angka yang ideal," ucapnya.

Halaman
12
Penulis: Natalin Sinaga
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved