Update Covid19 Sumut 25 Januari 2021
Jelang Imlek, Permintaan Hio Mengalami Penurunan Drastis Selama Pandemi Covid-19
Ia mengatakan penurunan ini imbas dari pembatasan kegiatan masyarakat di masa pandemi Covid-19. Apalagi jumlah umat yang beribadah ke Vihara dibatasi
Penulis: Septrina Ayu Simanjorang |
Jelang Imlek, Permintaan Hio Mengalami Penurunan Drastis Selama Pandemi Covid-19
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Jelang perayaan Imlek tahun 2021, permintaan hio mengalami penurunan drastis dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan yang terjadi berkisar 70 hingga 80 persen.
"Ada penurunan yang drastis untuk tahun ini bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Tahun lalu bisa 2000 batang hingga 3000 batang lebih. Tahun ini tidak sampai 1000 batang," kata Karyawan Pabrik Hio di Medan Sunggal Rika, Senin (25/1/2021).
Ia mengatakan penurunan ini terimbas dari pembatasan kegiatan masyarakat di masa pandemi Covid-19. Apalagi jumlah umat yang beribadah ke Vihara juga jadi dibatasi.
"Covid-19 ini kan bikin enggak boleh berkumpul, jadi untuk sembahyang di Vihara berkurang. Orang memilih sembahyang di rumah. Biasanya dua pekan sebelum Imlek sudah mulai sembahyang, sekarang untuk masuk ke vihara kan jumlahnya juga dibatasi, ini yang bikin berkurang juga permintaan, " jelas Rika.
Ia mengatakan sebulan jelang Imlek, pihaknya melihat permintaan pasar. Karena melihat permintaan yang berkurang ia hanya memproduksi sesuai pesanan dari langganan saja.
"Kalau ada yang minta, baru kita produksi. Untuk stok kita enggak berani. Sebenarnya hio ini bisa ditahan dua tahun. Tapi harus dilakukan pengecatan ulang. Makanya dari pada tambah modal lagi, tahun ini kita pilih untuk mengurangi produksi," katanya.
Hio dibuat dengan ukuran beragam mulai dari tiga inci bahkan 12 inci. Selain itu ada pula dupa yang berukuran lebih kecil dan biasa dipakai untuk beribadah di rumah.
Setiap tahun ia melayani pemesanan hio dari Kota Medan dan dari luar kota seperti Tanjung Balai dan Siantar. Hio dijual dengan harga Rp 25 ribu hingga Rp 350 ribu per batang.
"Untuk permintaan dupa masih normal saja sampai sekarang. Karena kan masih bisa dipakai sembahyang di rumah. Kita lihat nanti, jika Cheng Beng masih Corona, itu mungkin baru terasa sekali penurunannya," katanya.
Selain itu cuaca buruk yang terjadi beberapa bulan terakhir juga sangat berpengaruh dengan produksi hio dan dupa. Jika cuaca cerah maka hio akan lebih cepat kering.
Untuk hio ukuran tiga inci bisa kering hingga 15 hari. Jika cuaca cerah dalam 7 sampai 10 hari sudah kering. Sedangkan yang berukuran besar bisa kering sebulan hingga dua bulan.
"Karena Imlek juga sudah tinggal beberapa hari ya kita enggak akan buat yang ukuran besar lagi. Kita jual yang ukuran kecil ajalah. Memang permintaan paling banyak ukuran 3 inci juga. Sambil berharap semoga cepat selesai pandemi ini," pungkasnya. (sep/tribun-medan.com)