Breaking News:

Kiprah Walid Dalimunthe: Pernah Jadi Duta di Singapura, Kini Jadi Penambang Pasir di Asahan

Kisahnya bermula saat dirinya yang waktu itu bekerja sebagai konsultan pariwisata diminta untuk membuat dokumen pengembangan pariwisata di Asahan.

TRIBUN MEDAN/HO
WALID Dalimunthe, pengusaha penambang pasir muda di Asahan. 

Tribun-Medan.com, Medan - Walid Dalimunthe, pemuda asal Labuhan Batu ini tidak menyangka bahwa di usia yang belum menginjak 30 tahun ini, dirinya kini menjadi direktur muda dari bisnis yang ia rintis pada tahun 2020 lalu yaitu PT. Tri Sakti Cemerlang.

Walid bercerita, kisah kesuksesannya ini bermula saat dirinya yang waktu itu bekerja sebagai konsultan pariwisata diminta untuk membuat dokumen pengembangan pariwisata di Asahan.

"Sekarang lagi merintis usaha dengan mendirikan suatu perusahaan di pertambangan pasir di tahun 2020. Jadi saat awal 2020, saya diminta untuk buat dokumen pengembangan pariwisata di Kabupaten Asahan. Asahan ini kan pesisir. Dari studi yang dilakukan, ada pejabat daerah di sana yang mengajak untuk berkolaborasi mengembangkan bisnis," ungkap Walid kepada tribun-medan.com, Senin (1/2/2021).

Dikatakan Walid, dirinya merintis usaha penambangan pasir ini tidak hanya sekedar untuk mendapatkan keuntungan namun juga sebagai bentuk untuk menyelamatkan lingkungan.

"Saya tertarik karena di sungai Asahan ada sedimentasi pasir. Jadi pas di Teluk Nibung itu sampai ke muara Asahan kapal tidak bisa lewat lagi karena pendangkalan air. Jadi usaha ini tidak hanya profit oriented tapi kita juga membantu daerah menyelamatkan lingkungan.  Ini juga permintaan masyarakat, mereka sudah teriak untuk dilakukan perubahan sejak tahun 2006. Jadi begitu lama pemerintah tidak turun untuk menyelesaikan masalah itu. Tapi akhirnya kami ambil peluang ini," ujarnya.

Tidak hanya sebagai pebisnis muda, ternyata sejak menempuh pendidikan, Walid aktif dalam kegiatan kepemudaan. Hal yang paling membanggakan menurutnya, saat ia menjadi duta muda untuk Indonesia dalam program pertukaran pemuda Indonesia Youth Leadership Exchange Programme (SIYLEP) 2019 di Singapura selama satu minggu.

"Waktu tahun saya kita ditraining di Singapura untuk menjadi pemimpin muda di pembangunan yang berkelanjutan. Jadi paling menarik gimana passionatenya di Singapura untuk memimpin komunitas mereka masing-masing. Seperti mengganti sedotan plastik atau campaign food waste, jadi mereka mengumpulkan sisa makanan di setiap restoran, kecil memang tapi berdampak," tutur Walid.

Belajar seminggu di sana, Walid bersama duta muda lainnya juga akhirnya membentuk kampanye lingkungan yaitu Ganti Pipet Kelen dengan memproduksi pipet bambu sebanyak 2000 buah.

"Kami pulang ke Medan terus buat campaign Ganti Pipet Kelen. Jadi kita ganti dengan pipet bambu dengan produksi 2000 pipet bambu," ujar Walid.

Lulus dari S1 Kebijakan Publik di UGM, ternyata membuat Walid tidak puas hanya meraih gelar sarjana. Walid akhirnya memberanikan diri untuk melanjutkan magister di Thammasat University Thailand. 

Namun ternyata, perjalanan tersebut tidak berlangsung mulus. Sempat ditentang keluarga untuk kerja terlebih dahulu, Walid akhirnya mengambil keputusan untuk kuliah S2 di Thailand secara mandiri.

Beruntung, Walid mendapat beasiswa S2 dari Pemerintah Thailand. Namun, dana tersebut hanya cukup untuk biaya perkuliahan, sementara hidup di Bangkok memerlukan biaya yang lebih besar hingga akhirnya Walid harus bekerja di kantin universitas selama dua tahun.

"Titik terendah aku dulu waktu setelah S1 saya disuruh untuk langsung kerja dulu. Tapi akhirnya aku memilih untuk kuliah di Thailand untuk S2 dengan beasiswa dari pemerintah Thailand. Jadi sebenarnya dananya itu hanya cukup dan orangtua udah nggak support finansial lagi. Ternyata uang dari pemerintah Thailand itu nggak cukup untuk hidup di Bangkok. Sampai aku kerja di kantin universitas dan aku bantu dia masak dan jualin kue selama dua tahun kuliah," kata Walid.

Memiliki beragam pengalaman, Walid menegaskan bahwa ia sudah menentukan passionnya sejak kecil dalam bidang pendidikan dan pengusaha. Sehingga, apa yang ia capai saat ini merupakan hasil dari ketekunan dirinya semasa muda.

"Jalur untuk menuju impian orang jalannya berbeda-beda. Ketika ada teman-teman yang passionnya di suatu bidang, fokusnya disitu saja. Kalau kita mau fokus ke satu passion itu pasti berhasil dan ada saja jalan. Go head. Dan disini saya juga ingin kembali membangun daerah," pungkasnya.(cr13/tribun-medan.com)

Penulis: Kartika Sari
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved