Breaking News:

Berkas Empat Pelaku Rudapaksa di Laguboti Sudah Dilimpahkan ke Kejari Toba Samosir

Pihak kejaksaan akan serius menangani kasus tersebut, apalagi kasus PPA di Kabupaten Toba tetap ada dan bahkan meningkat.

Tribun-Medan.com/Maurits Pardosi
EMPAT tersangka pencabulan berada di ruang tahanan Kejaksaan Negeri Tobasa usai pelimpahan berkas, Kamis (4/2/2021). 

TRIBUN-MEDAN.com, BALIGE – Empat tersangka kasus pencabulan anak di Laguboti telah ditangani pihak Kejaksaan Negeri Toba Samosir. Keempat tersangka adalah Daniel Hutasoit (24), Alfian Sibarani (22), Rio Nasution (20), dan Ronald Situmeang (24).

Keempatnya kini berada di ruang tahanan Kejaksaan Negeri Toba Samosir dan memberikan keterangan kepada pihak Jaksa Penuntut Umum.

Secara bergantian, keempat tersangka dipanggil pihak Kejari untuk masuk ke ruang JPU dan memberikan keterangan.

Sambil menunggu, para tersangka terdiam dan tunduk di ruang tahanan. Mereka mendekati pintu ruang tahanan dan mencoba melihat situasi di luar ruangan yang berada di areal Kejari Toba Samosir tersebut.

Setiap kali melihat orang yang lewat dari depan ruang tahanan tersebut, para tersangka tertunduk. Setelah para tersangka memberikan keterangan kepada pihak JPU, mereka beristirahat bahkan hingga tidur pulas.

Tanpa alas, keempat tersanga rebahkan badan di lantai ruangan. 

Saat dimintai keterangan terkait kasus ini, Kasi Intel Kejari Toba Samosir Gilbeth Sitindaon menegaskan, pihaknya akan serius menangani kasus tersebut, apalagi kasus PPA di Kabupaten Toba tetap ada dan bahkan meningkat.

“Terkait penanganan cabul yang di Kabupaten Toba, kami selaku penuntut umum sangat serius menangani dalam perkara ini. Dimana, pada perkara sebelumnya, kami tuntut dengan ancaman hukuman di atas 15 tahun. Itu membuat supaya tidak terulang kembali dan menjadi efek jera bagi siapapun,” ujar Kasi Intel Kejari Toba Samosir Gilbeth Sitindaon pada Kamis (4/2/2021) saat ditemui di Kantor Kejaksaan Negeri Toba Samosir.

Dikatakannya,pihaknya tidak akan main-main menangani kasus tersebut.

“Perbuatan itu memang zina dan tidak diperbolehkan oleh negara maupun agama. Makanya, kami selaku penegak hukum sangat serius dan  intens terhadap perkara tersebut. Kami tidak main-main untuk itu,” sambung Gilbeth Sitindaon.

Halaman
12
Penulis: Maurits Pardosi
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved