Breaking News:

Filosofi Dalihan Na Tolu dalam Pilkada 2020

Pada prinsipnya Dalihan Na Tolu  merupakan gambaran tiga tungku yang sama kuat dan satu kesatuan yang seimbang.

TRIBUN MEDAN / ist
Pasangan calon yang bertarung di Pilkada Toba mencabut nomor urut 

TRIBUN-MEDAN.com - Pemungutan Suara Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau Wali Kota dan Wakil Wali Kota 2020, berdasarkan Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) Nomor 5 Tahun 2020 telah terlaksana tanggal 9 Desember 2020.

Pelaksanaan Pilkada akan dilaksanakan secara serentak di 9 Provinsi, 224 Kabupaten, dan 37 Kota. Salah satu kabupaten yang mengadakan Pilkada adalah Kabupaten Toba.

Masyarakat Batak Toba memiliki nilai kearifan lokal yaitu Dalihan Na Tolu (sering disebut Tungku Nan Tiga). Dalihan Na Tolu adalah filosofi atau wawasan kultural yang menyangkut masyarakat dan Budaya Batak. Secara mendalam Dalihan Na Tolu  dapat dikategorikan sebagai falsafah hidup yang turun-temurun dan berlaku hingga saat ini.

Dalihan Na Tolu bukan kasta atau tingkatan kedudukan seseorang dalam Budaya Batak hanya berlaku saat ulaon adat, pesta, acara penting budaya, dan menurut penulis dapat diinterpretasikan dalam banyak kegiatan selain adat-istiadat. Pada prinsipnya Dalihan Na Tolu  merupakan gambaran tiga tungku yang sama kuat dan satu kesatuan yang seimbang.

Dalihan Na Tolu mengatur dan mengendalikan kehidupan orang Batak Toba tidak hanya dalam konteks ikatan adat saja, tetapi juga dalam bidang ekonomi, agama, politik, bahkan birokrasi (Armaidy Armawi dalam tulisannya Kearifan Lokal Batak Toba Dalihan Na Tolu). Itu artinya bahwa Dalihan Na Tolu dalam Batak sangat mendasar dan menyemangati keseluruhan aspek kehidupan masyarakat terutama pada masyarakat yang tinggal di daerah Batak.

Berdasarkan semangat itu pula penulis mencoba mengkategorikan bahwa sebagai kearifan lokal, Dalihan Na Tolu mempunyai peranan besar dalam konsep pendekatan dalam rangka pelaksanaan pemilihan, karena dengan pendekatan demikian masyarakat lebih merasa memiliki dan peduli akan pelaksanaan pesta demokrasi.

Dalihan Na Tolu (Tungku Nan Tiga) memiliki tiga unsur yaitu Hula-hula, Dongan, dan Boru. Dalam budaya Batak Toba secara harafiah Hula-hula adalah orang tua dan semua pihak keluarga dari wanita yang dinikahi oleh seorang pria.

Dari pihak keluarga istrilah  seseorang memperoleh “berkat” yang berupa hagabeon (garis keturunan), hamoraon (karena kemampuan istri mengelolah keuangan keluarga) dan hasangapon (harga diri dan martabat keluarga). Karena itu, berlaku prinsip somba marhula-hula (hormat kepada Hula-hula).    

Dalam horja atau pesta dalam masyarakat Batak Toba, Boru bertugas untuk mendukung/membantu bahkan merupakan tangan kanan dari Hula-hula. Secara umum Boru dapat dikatakan sebagai parhobas atau penyelenggara dalam satu pesta adat.

Sebagai pelaksana atau parhobas pesta, Boru sangat dihargai dan didukung penuh oleh Hula-hula dan Dongan Tubu itu sendiri. Hula-hula menerapkan prinsip Elek Marboru dalam adat. Elek Marboru bukan merupakan garis komando, tetapi Hula-hula harus merangkul dan mengambil hati Boru.

Halaman
1234
Editor: Royandi Hutasoit
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved