COVID-19 Mengakibatkan Angka Kelahiran di China Turun Dratis, Anjlok 15 Persen Pada 2020
China mencatat 10,035 juta kelahiran di tahun 2020, dibandingkan kelahiran di tahun 2019 yang mencapai 11,79 juta.
TRIBUN-MEDAN.COM - Pemerintah China mengumumkan jumlah bayi baru lahir di China anjlok sebesar 15 persen di tahun 2020, dibandingkan dengan tahun sebelumnya, seperti yang diberitakan Reuters pada Selasa (9/2/2021).
Menurut Kementerian Keamanan Publik China, Senin (8/2/2021) dengan munculnya virus korona baru (covid-19 ) yang mengganggu perekonomian, membebani keputusan rakyatnya untuk memiliki keluarga.
China mencatat 10,035 juta kelahiran di tahun 2020, dibandingkan kelahiran di tahun 2019 yang mencapai 11,79 juta.
Dari mereka yang lahir di tahun 2020 lalu, 52,7% adalah laki-laki dan 47,3% perempuan.
Pemerintah setempat menyatakan, dalam beberapa tahun terakhir, banyak pasangan enggan memiliki anak karena meningkatnya biaya perawatan kesehatan, pendidikan dan perumahan.
Pengabaian kebijakan satu anak selama puluhan tahun pada tahun 2016 tidak memberikan banyak dorongan bagi angka kelahiran di negara tersebut.
Ketidakpastian ekonomi yang disebabkan oleh COVID-19 tahun lalu semakin membebani keputusan untuk memiliki anak, memperpanjang penurunan kelahiran jangka panjang di negara dengan populasi terpadat tetapi cepat menua di dunia itu.
Sekitar seperlima warga negara Tiongkok berusia 60 ke atas, atau sekitar 250 juta orang.
Penuaan yang cepat akan menciptakan hambatan kebijakan bagi para pemimpin China karena mereka berjanji untuk menjamin perawatan kesehatan dan pembayaran pensiun.
Biro Statistik Nasional China diperkirakan akan merilis data populasi resmi tahun 2020 pada akhir Februari ini.
Artikel ini sudah tayang di Tribunnews.com dengan judul Angka Kelahiran di China Anjlok 15 Persen di Tahun 2020 Karena Covid-19
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/presiden-china-yang-gemuk.jpg)