Breaking News:

Produksi Tahu Tempe Mogok

Produksi Mogok, Petani di Sumut Kurang Berminat Menanam Kacang Kedelai

Selain karena harganya murah, kacang kedelai lokal juga kurang diminati oleh pembeli khusunya pengerajin tahu dan tempe.

TRIBUN MEDAN/SEPTRIMA
KOMODITI kacang kedelai yang diperdagangkan di Pasar Pusat Pasar Medan, Selasa (5/1/2021). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Petani di Sumatera Utara kurang berminat menanam kacang kedelai.

Selain karena harganya murah, kacang kedelai lokal juga kurang diminati oleh pembeli khusunya pengerajin tahu dan tempe.

"Jadi petani merasa kurang menguntungkan. Pembuat tahu home industri itu kurang berminat kacang kedelai lokal. Kacang kedelai impor lebih disukai," kata Kasi Program Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura  Provinsi Sumut Yuspahri Perangin-angin, Rabu (10/2/2021).

Hal ini turut mempengaruhi minat petani menanam kacang kedelai. Apalagi pada 2020 curah hujan tinggi yang menyebabkan lahan untuk menanam kacang kedelai dipakai untuk menanam padi.

"Biasanya kan menanam kacang kedelai di lahan padi, tapi karena curah hujan tinggi tahun lalu, petani ya menanam padi saja," katanya.

Apalagi, katanya, masyarakat di Sumut tidak seperti di Jawa dimana tempe menjadi makanan kebutuhan atau menu utama. 

"Makanya petani lebih fokus pada tanaman padi dan jagung karena harga jualnya lebih tinggi ketimbang harga kacang kedelai," katanya. 

Dijelaskannya berdasarkan data sementara Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumut, luas tanam kacang kedelai di Sumut mencapai 1.702 hektar, panen sebanyak 2.559 hektar, dan produksi sebanyak 4.003 ton. 

"Sementara daerah yang menjadi sentra tanaman kedelai adalah Langkat, Binjai, Deliserdang, Serdang Bedagai, Batubara, Asahan, dan Palas," pungkasnya. (sep/tribun-medan.com)
 

Penulis: Septrina Ayu Simanjorang
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved