Breaking News:

Angkutan Desa Hancur Lebur, Organda Deliserdang Desak Bupati Revitalisasi Trayek Menjadi Perkotaan

Sistem trayek di Deliserdang tidak mendukung karena belum menjadi angkutan perkotaan.

TRIBUN MEDAN/INDRA
SATU trayek angkutan pedesaan yang ada di Deliserdang, Ultra 09 melintas di jalan Tembung Medan, Rabu (17/2/2021). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kabupaten Deliserdang mendesak Bupati Deliserdang, Ashari Tambunan agar merevitalisasi trayek Angkutan Desa (Angdes) menjadi perkotaan.

Ketua Organda Deliserdang, Frans Simbolon menyebut, kian hari angkutan pedesaan makin terpuruk. Hal ini lantaran sistem trayek tidak mendukung karena belum menjadi angkutan perkotaan.

Kondisi semakin parah akibat di tengah pandemi dan menjamurnya angkutan online.

Frans menjelaskan, perkembangan wilayah Mebidang (Medan Binjai, Deliserdang) yang kian pesat sekarang ini harus dibarengi dengan sistem pelayanan transportasi angkutan yang terpadu juga, saling membutuhkan dan dapat mangantisipasi masyarakat yang membutuhkannya di seluruh wilayah Kecamatan yang ada di Kabupaten Deliserdang ini.

"Perkembangan sistem transportasi sekarang sudah diatur dalam Peraturan Menteri (PM) Perhubungan nomor 15 Tahun 2019 tentang izin penyelenggaraan angkutan orang dengan kendaraan bermotor dalam trayek, sudah jelas mengatakan bahwa sistem pelayanan angkutan perkotaan juga dapat diselenggarakan di dalam wilayah kabupaten," ucap Frans Simbolon, Rabu (17/2/2021). 

Karena ada PM ini, lanjut Frans, sudah seharusnya Bupati dapat segera menyesuaikannya agar wilayahnya tidak dikuasai oleh angkutan Medan.

Dikatakannya, Organda hanya berharap kepada Bupati ketika menjadi angkutan perkotaan Deliserdang nantinya kemudian dapat melayani masyarakat ke setiap kecamatan di wilayah Deliserdang walaupun melintasi sedikit wilayah Medan.

Selama ini karena tidak pernah direvitalisasi kondisi yang terjadi semakin hancur. 

"Hancur leburlah sekarang. Kalau angdes itu dia terkotak-kotak. Misalkan dari Percut Seituan kalau kita mau ke Hamparan Perak kan harus lewat jalan Brayan, nah ini tidak bisa sekarang ini. Kalau dalam trayek perkotaan bisa kita minta Bupati untuk menghubungkan antarkecamatan. Kecamatan yang ada di Deliserdang inikan berpisah-pisah, harus ada jalan Medan yang dilintasi. Selama ini nggak bisa, itu yang bikin kita mati. Sementara angkutan Medan bisa masuk ke Deliserdang, ini yang nggak dipikiri Bupati," kata Frans. 

Pimpinan angkutan PT Ultra ini menyebut heran mengapa sampai sekarang belum juga direalisasikan PM yang sudah ada.

Menurutnya, kalau hal ini pernah mereka bicarakan denga Dinas Perhubungan Deliserdang namun belum ada tindaklanjut.

Dari data yang dimiliki pihaknya, saat ini angdes yang masih bertahan tinggal 30 persen saja dari sekitar 1000 angkutan yang pernah ada. 

"Yang lain sudah berhenti, ada yang angkutannya dijual dan ada yang dijual botot karena memang sudah nggak menguntungkan lagi mengoperasikannya. Kalau jadi perkotaan maka trayeknya bisa lebih luas dan jauh lagi, sehingga bisa bertahan. Ada tinggal sekitar 10 perusahaan lagilah sekarang ini," kata Frans.(dra/tribun-medan.com)

Penulis: Indra Gunawan
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved