Breaking News:

Tiga Anak di Kabupaten Asahan Jadi Korban Rudapaksa Orang-orang Terdekat

Dari tiga kasus berbeda, modus para pelaku beraneka, mulai dari iming-iming pembelian sepeda motor, janji manis dengan 'sayang', hingga budak seksual.

Istimewa
ILUSTRASI korban rudapaksa. 

Kepada ketiga tersangka, pihaknya dikenakan Pasal 81 ayat (1) dan (2) dari UU RI No. 35 tahun 2014 tentang Perubahan atas UU RI No. 23 tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.

"Ancaman hukumannya paling singkat lima tahun dan paling lama 15 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 5 miliar," ujarnya.

Terkait ketiga kasus tersebut, Komisi perlindungan anak daerah (KPAD) Kabupaten Asahan, mengapresiasi kinerja cepat pihak kepolisian yang mengamankan para pelaku kejahatan seksual.

Ketua KPAD, Awaludin yang dihubungi Tribun-Medan.com pada Kamis (18/2/2021) melalui sambungan seluler mengatakan pihaknya memberi apresiasi kepada kepolisian.

Di mana, polisi bergerak cepat dan menangkap para pelaku kejahatan seksual terhadap anak.

"Pertama apresiasi kepada polres Asahan yang berhasil ungkap tiga kejahatan seksual terhadap anak. Yang pertama guru, ayah tiri dan ayah kandung," ujarnya.

Lanjut Awaludin, kejahatan terhadap anak, biasanya datang dari orang-orang terdekat.

Jadi kepekaan terhadap ini harus ditempah, semua elemen masyarakat harus bahu membahu mengatasi masalah ini. 

"Orangtua dan siapapun harus peduli. Karena tidak ada jaminan juga seorang ayah tidak melakukan hal itu terhadap anaknya. Maka, dengan bersama saling membantu melindungi anak dari kejahatan seksual ini," ungkapnya.

Awaludin menjelaskan, seperti Kasus ayah kandung yang rudapaksa anaknya selama empat tahun. 

"Ini kan luar biasa. Maka kami meminta kepada polisi untuk menetapkan pasal tertinggi. Dengan menambah 2/3 dari hukumannya. Pemerintah juga telah mengeluarkan perpu tentang kebiri. Seharunya ini juga harus diterapkan dan dipublis. Sehingga pelaku lain tahu dan mengurungkan niatnya," kata Awaludin.

Untuk penerapan kebiri sendiri, sebutnya, pemerintah sudah mengatur untuk proses kebiri.

"Sekarang tinggal bagaimana penerapan yang akan dilakukan. Kami berharap ini menjadi yang terakhir lah terjadi di kabupaten Asahan," ucpanya.

Dalam proses perlindungan anak yang menjadi korban kejahatan seksual, Awaludin menuturkan pihaknya telah telah melakukan investigasi data terhadap korban. 

"Kami sudah melakukan investigasi, kami siap melakukan pendampingan baik dari hukum maupun jiwanya," pungkasnya seraya menambahkan agar kasus serupa tidak terulang kembali.(mft/tribun-medan.com/tribunmedan.id)

Penulis: Muhammad Fadli Taradifa
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved