Breaking News:

UN Ditiadakan, Disdik Sumut Bentuk Tim Indikator Pelaksanaan Ujian

Peniadaan Ujian Nasional (UN) tahun ini membuat standar penilaian kompetensi siswa berubah total.

HO / Tribun Medan
Kegiatan pelaksanaan Psikotes siswa baru SMAN 5 Medan dalam pemilihan jurusan dengan protokol kesehatan 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Peniadaan Ujian Nasional (UN) tahun ini membuat standar penilaian kompetensi siswa berubah total.

Plt Kadisdik Sumut, Lasro Marbun mengungkapkan bahwa ada perbedaan yang terjadi saat UN dihapuskan diantaranya sekolah menjadi pelaksana secara otonom dalam memberikan penilaian kepada siswa.

"Pasti ada perbedaan karena yang jelas UN kan sudah tidak ada, ujian penyetaraan tidak ada, itu secara substansi dan legitimasi dari pelaksanaan ujian untuk kelulusan.

Perbedaan kedua yaitu konsekuensi dari yang pertama tadi akan ada peningkatan otonom terhadap sekolah sebagai satuan pendidikan yang melaksanakan penilaian evaluasi terhadap peserta didik sekaligus dia kita ajak juga untuk melaksanakan evaluasi penilaian terhadap keberhasilan pembelajaran di sekolah yang bersangkutan secara mandiri," ungkap Marbun kepada Tribun-medan.com, Kamis (18/2/2021).

Terkait hal ini, Marbun berharap agar pihak sekolah dapat memberikan penilaian dan evaluasi agar dapat memiliki indikator keberhasilan siswa.

Adapun pihak sekolah harus membuat indikator seperti dalam bentuk angka ataupun nilai agar tingkat keberhasilan sekolah dapat diketahui.

"Jadi untuk ujian itu ada dua yaitu pertama untuk mengetahui tingkat keberhasilan, transformasi kompetensi dari pendidik kepada peserta didik maka keluarlah nilai misalnya 90, 80 atau a,b, dan c," tuturnya.

"Yang kedua ujian itu untuk menilai keberhasilan sekolah secara institusi untuk melaksanakan pembelajaran. Misalnya dari 30 orang kelas 10 ipa itu 29 siswanya dapat nilai 90, artinya tinggi penilaian tersebut. Secara institusi perlu upgrading," lanjut Marbun.

Disamping itu, dalam persiapan pelaksanaan ujian kelulusan, Marbun menuturkan bahwa Disdik Sumut telah membentuk tim untuk melakukan pemetaan terhadap sekolah yang perlu mendapat prioritas yang terdiri dari tiga kategori yaitu Prioritas utama, sedang, dan sudah mandiri.

"Kemarin saya bentuk tim dan di dinas harus ada pemetaan walaupun kita indikatornya pelaksanaan ujian di sekolah. Begitu diselenggarakan kan pelaksanaan ujiannya sama, hasil itu kita collect dan kita analisa dan sajikan mana sekolah yang perlu intervensi full atau prioritas utama, sedang, dan yang sudah mandiri," kata Marbun.

Tambahnya, saat ini tim yang dibentuk akan terus berupaya memantau sekolah agar pelaksanaan ujian dapat dilakukan secara mandiri dan objektif.

"Kita coba akan gali itu supaya masing-masing mereka punya auto-correction yaitu mengoreksi diri sendiri dan membangun diri sendiri. Ini perlu tingkat objektivitas dan profesionalitas yang tinggi," pungkasnya.

(cr13/tribun-medan.com)

Penulis: Kartika Sari
Editor: Juang Naibaho
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved